Mengejutkan! IPW Ungkap Markas Konsorsium Judi Online Hanya Berjarak 200 Meter dari Mabes Polri | DEMOCRAZY News | Indonesian Political News

Breaking

logo

19 September 2022

Mengejutkan! IPW Ungkap Markas Konsorsium Judi Online Hanya Berjarak 200 Meter dari Mabes Polri

Mengejutkan! IPW Ungkap Markas Konsorsium Judi Online Hanya Berjarak 200 Meter dari Mabes Polri

Mengejutkan! IPW Ungkap Markas Konsorsium Judi Online Hanya Berjarak 200 Meter dari Mabes Polri

DEMOCRAZY.ID - Indonesia Police Watch (IPW) menduga ada kaitan pesawat jet pribadi (private jet) yang digunakan eks Karo Paminal Propam Polri Brigjen Hendra Kurniawan ketika menemui keluarga Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J di Jambi pada Juli lalu, dengan orang-orang yang dikaitkan dengan Konsorsium 303.


IPW mengklaim berdasarkan penelusuran pihaknya, didapat informasi bahwa pesawat pribadi yang digunakan Hendra tersebut bertipe Jet T7-JAB. 


Dalam catatan yang sama, pesawat itu kerap digunakan AH dan YS yang namanya tercatut dalam isu Konsorsium 303 wilayah Jakarta.


Lebih lanjut, IPW juga menduga pesawat jet pribadi yang digunakan Hendra tersebut merupakan milik RBT alias Bong.


"Dalam catatan IPW, dia (RBT) adalah Ketua Konsorsium Judi Online Indonesia yang bermarkas di Jalan Gunawarman, Jakarta Selatan, yang hanya berjarak 200 meter dari Mabes Polri," ujar Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso dalam keterangan tertulis, Senin (19/9).


Oleh karenanya, IPW mendesak agar timsus juga turut menyelidiki hubungan masyarakat sipil tersebut dengan Ferdy Sambo dalam kasus ini. 


Termasuk soal dugaan Konsorsium 303 yang dinaungi oleh Sambo.


"Mantan Karo Paminal Divpropam Polri itu bersama-sama Kombes Pol Agus Nurpatria, Kombes Pol Susanto, AKP Rifazal Samual Bripd Fernanda, Briptu Sigit, Briptu Putu dan Briptu Mika menggunakan private jet yang menurut pengacara Kamaruddin Simanjuntak sebagai milik seorang mafia berinisial RBT," kata Sugeng.


"Oleh karenanya, IPW mencium aroma amis keterlibatan RBT dan YS dalam kasus Sambo dan Konsorsium 303. Lantaran, selain RBT, nama YS... muncul dalam struktur organisasi Kaisar Sambo dan Konsorsium 303, sebagai Bos Konsorsium Judi Wilayah Jakarta," imbuhnya.


Sugeng juga mendesak Tim Khusus (Timsus) bentukan Kapolri menelusuri keterkaitan orang-orang sipil yang diduga terkait konsorsium itu dalam pemberian dukungan terhadap pencalonan capres tertentu di 2024 mendatang. 


Sugeng menduga hal itu dilakukan Sambo untuk memuluskan tujuannya menjadi Kapolri.


"IPW meminta tim khusus Polri menjelaskan keterlibatan dua orang sipil dalam kasus Sambo Konsorsium 303," ujar Sugeng.


"Sekaligus membongkar peranannya, menyusul terungkapnya pemakaian private jet oleh Brigjen Pol Hendra Kurniawan dalam kaitan temuan uang Rp 155 Triliun oleh PPATK dari judi online," imbuhnya.


Mabes Polri telah buka suara soal dugaan IPW bahwa Konsorsium 303 terkait penyediaan jet sewaan bagi Brigjen Hendra Kurniawan.


Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo mengatakan hal tersebut masuk ke dalam ranah Pembinaan dan Pengawasan Profesi (Wabprof) Divpropam Polri.


"Itu bagian daripada dari timsus ya, khususnya dari Wabprof ya," ujarnya dalam konferensi pers, Senin (19/9).


Sebelumnya saat kasus Sambo muncul, pada Senin (11/7), Hendra bersama Kombes Agus Nurpatria, Kombes Susanto, AKP Rifazal Samual Bripd Fernanda, Briptu Sigit, Briptu Putu dan Briptu Mika berangkat ke kediaman keluarga Brigadir J di Jambi atas perintah Irjen Ferdy Sambo, dengan menggunakan jet sewaan.


Brigjen Hendra menceritakan perihal penggunaan jet sewaan itu di Berita Acara Pemeriksaan (BAP) sidang pemeriksaan etik kasus pembunuhan Brigadir J. 


Dalam BAP itu, Hendra menyampaikan dirinya bersama dengan Kombes Agus Nurpatria, Briptu Putu dan Briptu Mika pergi bersama menggunakan satu mobil ke Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta.


"Sampai di bandara kami langsung menuju ke pesawat private jet. Saat itu yang berangkat ke Jambi yaitu saya, Kombes Santo, Kombes Agus Nurpatria, AKP Rifaizal Samual, Bripda Fernanda, Briptu Sigit, Briptu Putu, dan Briptu Mika," ujar Hendra dalam BAP. [Democrazy/CNN]