MISTERIUS! Peluru Pistol Luger Yang Dilelang Seharga Rp1,6 M Tahun 2010 Ditemukan di TKP Penembakan Brigadir Joshua | DEMOCRAZY News | Indonesian Political News

Breaking

logo

17 September 2022

MISTERIUS! Peluru Pistol Luger Yang Dilelang Seharga Rp1,6 M Tahun 2010 Ditemukan di TKP Penembakan Brigadir Joshua

MISTERIUS! Peluru Pistol Luger Yang Dilelang Seharga Rp1,6 M Tahun 2010 Ditemukan di TKP Penembakan Brigadir Joshua

MISTERIUS! Peluru Pistol Luger Yang Dilelang Seharga Rp1,6 M Tahun 2010 Ditemukan di TKP Penembakan Brigadir Joshua

DEMOCRAZY.ID - Misteri siapa pemilik pistol antik Luger yang satu pelurunya ditemukan di lokasi penembakan Brigadir J di rumah dinas Ferdy Sambo belum terpecahkan.


Peluru dari pistol Luger itu pun diduga salah satu senjata yang ikut diletuskan menjadi penyebab Brigadir J meregang nyawa pada 8 Juli 2022 sore itu.


Ternyata pistol antik Luger memiliki harga fantastis. Belakangan, spesifikasi hingga latar belakang pistol buatan Jerman itu menarik perhatian khalayak. 


Sebab dari mengetahui latar belakangnya pistol Luger, kita bisa menduga siapa yang memiliki senjata andalan tentara Jerman tersebut.


Untuk diketahui, Luger adalah senjata yang dibuat tahun 1849 hingga 1923 oleh Georg Luger.


Pistol semi-otomatis ini menjadi senjata resmi tentara Jerman dan Swiss. Senjata Luger itu juga banyak dipakai tentara saat Perang Dunia I dan Perang Dunia II.


Melansir dari laman Wikipedia, pistol Luger memiliki nama lain Pistole Parabellum.


Istilah Parabellum berasal dari ungkapan dalam bahasa Latin: Si vis pacem, para bellum yang artinya jika kau mendambakan perdamaian, bersiap-siaplah menghadapi perang.


Seri pertama Parabellum Pistole muncul pada tahun 1900.


Parabellum-Pistole 1900 menggunakan peluru 7,65 mm Parabellum.


Setelah itu, Georg J. Luger mengembangkan lagi dengan melakukan perbaikan dan penyederhanaan serta penggunaan peluru 9 mm Parabellum.


Angkatan laut Kekaisaran Jerman mulai tahun 1904 menggunakan Parabellum-Pistole Kaliber 9 mm Parabellum yang dikenal sebagai "Pistole 04".


Pada tahun 1908, Pistole 08 diperkenalkan sebagai pistol organik di Kekaisaran Jerman.


Berikut adalah spesifikasi Luger :


- Berat 0,87 kg

- Panjang 233 mm

- Panjang laras 98 mm–203 mm

- Peluru 7,65×22mm Parabellum, 9×19mm Parabellum

- Amunisi Magazen 8, Drum 32


Harga Luger


Senjata Luger pertama kali dipasarkan untuk pasar Amerika Serikat pada tahun 1907.


Replika Luger nyatanya pernah ditunjukkan dalam film Wall Street hingga dijuluki sebagai pistol paling langka di dunia.


Bukan tanpa alasan, pistol Luger jadi senjata ternama di dunia.


Ternyata harga pistol Luger bisa mencapai angka satu juta dollar ( US$ 1 juta).


Pistol sejuta dollar itu pun dibeli oleh miliuner Indonesia ,Yani Haryanto di tahun 1980.


Setelah 30 tahun kemudian, sang miliuner kembali menjual pistol Luger tersebut dengan harga rendah.


Pistol Luger dibeli oleh seseorang yang dirahasiakan dengan harga US$ 494.500 atau setara Rp 1,6 miliar di tahun 2010.


Kendati dijual murah, pistol Luger yang berusia 114 tahun itu nyatanya tetap dikenal sebagai pistol sejuta dollar.


"Pistol ini akan selalu dikenal sebagai 'Million Dollar Luger' dan pasti akan menjadi pusat dari koleksi apa pun. Seseorang melakukan investasi yang luar biasa – tidak diragukan lagi pembelinya sangat senang," kata Greg Martin, pemilik perusahaan yang melelang pistol Luger milik Yani Haryanto, dilansir dari laman military trader.


Luger Sejuta Dollar Punya Siapa ?


Melihat rekam jejak senjata Luger, dua sosok mengurai analisa terkait siapa yang memiliki senjata mahal tersebut.


Sosok pertama yang mengamati hal tersebut adalah pengacara Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak.


Dalam tayangan wawancara di Kompas TV, Kamaruddin Simanjuntak menduga bahwa senjata tersebut diduga dimiliki oleh ayah Ferdy Sambo.


"Jadi orang-orang yang punya koleksi senjata seperti itu tentu adalah orang yang berlatar belakang bahwa dia sudah sejak dulu menguasai persenjataan. Siapa di antara mereka yang sudah sejak dulu menguasai persenjataan? yaitu adalah ayahnya Ferdy Sambo," ungkap Kamaruddin Simanjuntak.


"(Ayah) Ferdy Sambo itu kan pensiunan terakhir adalah mayor jenderal. Jadi kemungkinan besar dia bisa mengoleksi senjata kuno, era 1800," sambungnya.


Bukan tanpa alasan Kamaruddin Simanjuntak mengurai analisa demikian. 


Rupanya Kamaruddin Simanjuntak telah mengetahui sosok dan latar belakang Ferdy Sambo, sang dalang pembunuhan Brigadir J.


"Senjata Luger ini hanya ada pada orang-orang yang sudah sangat senior, atau yang hidup di zaman kemerdekaan awal. Kalau masih ada orang yang memiliki itu di era sekarang, berarti itu karena mereka adalah anak-anak atau keturunan dari orang senior di zaman orde lama atau orde baru. Kemungkinan besar ini adalah dimiliki orangtua Ferdy Sambo," pungkas Kamaruddin Simanjuntak.


Berbeda dengan Kamaruddin Simanjuntak, Pengamat Kepolisian, Bambang Rukminto justru mengurai kemungkinan lain terkait penembak ketiga Brigadir J.


Dalam tayangan Kompas TV, Bambang Rukminto rupanya punya analisa yang sama dengan Komnas HAM. 


Yakni orang yang diduga menjadi penembak ketiga Brigadir J adalah Putri Candrawathi.


"Kalau melihat rekonstruksi kemarin, PC ini berada di posisi di mana, belum tampak. Itu tidak menutup kemungkinan apakah posisi itu memungkinkan bila dugaan Komnas HAM itu benar, kalau memungkinkan PC itu menggunakan Luger," kata Bambang Rukminto.


Perihal dugaan itu, Bambang Rukminto memberikan penjelasan. Ia ternyata melihat latar belakang Putri Candrawathi yang merupakan anak seorang jenderal.


"Sebagai ibu Bhayangkari dan putri seorang jenderal, beliau ( Putri Candrawathi) juga mengetahui bagaimana jenis senjata. Kalau melihat terkait dengan koleksi senjata," ungkap Bambang Rukminto.


Lagipula diduga kuat oleh Bambang Rukminto, orang yang kemungkinan besar memiliki senjata Luger adalah Putri Candrawathi dan Ferdy Sambo saja. 


"Luger ini senjata yang sudah cukup lama, senjata antik, dimiliki oleh orang-orang yang memiliki pangkat. Siapa di antara kelima tersangka itu yang memiliki akses ? hanya FS dan PC, mengerucutnya ke sana," ujar Bambang Rukminto. [Democrazy/Tribun]