Hacker Bjorka Orang Indonesia? Ini 3 Kemungkinan Motifnya, Termasuk Pengalihan Isu dan Balas Dendam | DEMOCRAZY News | Indonesian Political News

Breaking

logo

13 September 2022

Hacker Bjorka Orang Indonesia? Ini 3 Kemungkinan Motifnya, Termasuk Pengalihan Isu dan Balas Dendam

Hacker Bjorka Orang Indonesia? Ini 3 Kemungkinan Motifnya, Termasuk Pengalihan Isu dan Balas Dendam

Hacker Bjorka Orang Indonesia? Ini 3 Kemungkinan Motifnya, Termasuk Pengalihan Isu dan Balas Dendam

DEMOCRAZY.ID - Kebocoran data digital di Indonesia sebenarnya sudah kerap terjadi.


Namun belakangan ini sepak terjang peretas (hacker) beridentitas Bjorka menjadi sorotan.


Pasalnya Bjorka membocorkan berbagai data masyarakat hingga sejumlah pejabat di Indonesia.


Misalnya Bjorka mengumbar data pribadi Ketua DPR Puan Maharani, Menteri BUMN Erick Thohir,  Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate, dan pejabat lainnya.


Muncul pertanyaan lalu apa sebenarnya motif utama di balik munculnya hacker Bjorka  ini?


Berikut dirangkum Tribunnews.com, Selasa (13/9/2022) dari berbagai sumber:


Motif Ekonomi


Pengamat Telekomunikasi dari Indotelko Forum Doni Ismanto Darwin memandang kemunculan hacker di era digital hal yang lumrah seperti munculnya hacker Bjorka.


"Fenomena Bjorka hal yang biasa masalahnya bisa mengancam atau tidak itu kembali pada cara instansi menghandle-nya," tutur Doni, Senin (12/9/2022).


Menurut dia, motif hacker Bjorka bisa saja soal ekonomi.


Doni menilai data yang dirampas hacker biasanya bisa diperdagangkan sehingga menghasilkan uang.


"Tapi belakangan saya lihat ada motif politik kalau baca tweet beliau dua hari ini," imbuhnya.


Pria yang juga Staf Khusus Bidang Hubungan Media dan Komunikasi Publik KKP ini menegaskan fenomena Bjorka hendaknya ditangani dengan cara kolaborasi.


Pemerintah, imbuh Doni, harus menggandeng semua pemangku kepentingan termasuk mengajak komunitas, akademisi, dan lainnya.


Motif Politik


Pengamat Keamanan Siber Pratama Pradha mengungkapkan motif hacker Bjorka bergeser dari  motif ekonomi ke politik.


"Motif ekonomi terus geser politis yang sebenarnya seperti hacktivist," jawab Pratama dikutip dari Kompas.TV, Senin (11/9/2022).


Hacktivist, jelas dia, adalah hacker atau peretas yang tidak memiliki motif ekonomi.


Mereka biasanya memancarkan aspirasi atau protes kepada negara.


"Kalau Bjorka campur campur, ada ekonomi ada hacktivist seolah suara rakyat," kata Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi CISSReC itu.


Hacker Bjorka belakang menyampaikan sejumlah data pribadi pejabat negara telah dibagikan ke akun Telegram miliknya.


Hacker Bjorka  lalu secara tersirat mengungkapkan motifnya menyerang sistem Pemerintahan Indonesia.


Dia mengklaim orang terdekatnya menjadi korban kebijakan Orde Baru pasca 1965.


Bjorka mendoxing Muchdi Purwopranjono lengkap dengan data pribadinya dengan menudingnya sebagai dalang kasus pembunuhan aktivis HAM Munir.


Melalui akun Twitter Bjorka menyinggung soal uang pajak masyarakat Indonesia kepada pegiat media sosial Denny Siregar.


"Bagaimana rasanya hidup menggunakan uang pajak dari orang Indonesia tapi malah menggunakan internet untuk mempolarisasikan orang?" tulis Bjorka untuk Denny.


Motif Pengalihan Isu dan Balas Dendam


Hacker Bjorka mengaku tinggal di Warsawa dan memiliki teman orang Indonesia.


Pengamat Keamanan Siber Pratama Pradha mengatakan sebenarnya masih ada banyak kemungkinan lain motif hacker Bjorka.


Pratama menduga ada kemungkinan Bjorka hanya dimanfaatkan sebagai pengalihan isu kasus judi online.


"Karena beberapa bulan lalu ketika judi online banyak diblokir. (Pemilik situs judi online) juga menyewa hacker untuk meretas web pemerintah," kata Pratama dikutip dari Kompas.TV.


Kala itu situs pemerintah sempat dipakai sebagai landing page judi online.


"Artinya dia punya kemampuan seperti itu. Ini banyak kemungkinan. Intinya, kalau hacker-nya jago, pasti bisa menyembunyikan identitasnya," kata Pratama.


Kendati demikian, ia juga menjelaskan bukan hal mustahil menangkap Bjorka.


Itu bisa terjadi ketika si hacker membuat sedikit kesahalahan.


"Biasanya ketangkapnya di situ," tandasnya.


Hacker Bjorka Orang Indonesia?


Pratama Persadha mengungkapkan perbedaan sifat hacker Bjorka di Twitter dan Telegram serta kemungkinan motifnya.


"Saya sudah sempat berkomunikasi sama si hacker ini, saya masuk grup Telegram-nya, mencoba men-challenge (menantang-red), apakah datanya valid atau tidak. Dia bisa kasih data yang valid," kata Pratama.


"Namun agak aneh, karena dia di Telegram dengan di Twitter itu beda 180 derajat. Di Telegram dia nggak banyak omong, pentingnya saja," imbuh Pratama.


Ia lantas mengungkap keresahan akan perbedaan sifat mencolok itu.


"Saya takutnya, ada yang ngaku-ngaku sebagai Bjorka, dia membuat akun di Twitter," ujarnya.


Pratama memperkirakan bahwa Bjorka merupakan orang Indonesia karena ia berbeda daripada peretas dari luar negeri.


"Orang luar agak berbeda dia bisa manfaatkan buat doxing, kalau Bjorka dia omongin masalah politik, Munir, harga minyak," ujarnya.


Menurutnya, peretas yang telah membobol data registrasi SIM card masyarakat Indonesia dan menjualnya di Breach Forum itu pandai bersembunyi.


"Cukup pandai dia, spesial bikin akun buat sembunyi," ujarnya.


"Sekelas Bjorka ini cukup pintar, gunakan TOR (browser)," imbuhnya. [Democrazy/Tribun]