Breaking

logo

12 Juli 2022

Semakin Aneh! Lima Ponsel Keluarga Brigadir Yosua Diretas, Sang Ayah: Kami Tak Bisa Hubungi Siapapun

Semakin Aneh! Lima Ponsel Keluarga Brigadir Yosua Diretas, Sang Ayah: Kami Tak Bisa Hubungi Siapapun

Semakin Aneh! 5 Ponsel Keluarga Brigadir Yosua Diretas, Sang Ayah: Mereka Mau Menyelidiki Kami

DEMOCRAZY.ID - Sebanyak 5 ponsel milik keluarga Polisi (Brigpol) Nofriansyah Yosua Hutabarat di Jambi diduga telah diretas. 


Ini disampaikan oleh Rohani Simanjuntak, bibinya Brigpol Yosua, Selasa (12/7).


Ia mengatakan peretasan ini terjadi berangsur. 


Pertama kali terjadi pada pukul sekitar 05.00 WIB. Aplikasi Whatsapp dan Facebook untuk berkomunikasi tidak bisa dibuka.


"Awalnya, bangunlah kakak. Sekali jam 5 tidak bisa buka aplikasi," ujarnya.


Selanjutnya, ini terjadi pada handphone milik kakak dan adiknya Brigadir Yosua. 


Totalnya ada 5 ponsel yang diretas dalam satu hari ini.


"Tak lama lagi HP Yuni tidak bisa dibuka. HP Devi juga tidak bisa dibuka. Total 5 HP tidak bisa dibuka," tutur Rohani.


Ia mengatakan pihaknya sempat mencari alat penyadap yang diduga berada di sekitar rumah yang di Desa Suka Makmur, Kecamatan Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi. Namun, tidak ditemukan.


"Sampai kami selidiki di sini apakah ada barang penyadap," ujarnya.


Peristiwa peretasan nomor WhatsApp dan media sosial pada keluarga Brigadir J terjadi sejak Senin (11/7/2022) malam hingga Selasa (12/7/2022) siang.


Saat Samuel menunjukkan aplikasi WhatsApp miliknya, muncul tulisan pemberitahuan bahwa nomor yang dicantumkan telah didaftarkan di telepon lain.


Berikut bunyi pemberitahuannya:


"Nomor telepon Anda tidak lagi terdaftar dengan WhatsApp di telepon ini. Mungkin karena Anda telah mendaftarkannya di telepon yang lain. Jika Anda tidak melakukan ini, verifikasi nomor telepon Anda untuk masuk kembali ke Akun."



Padahal, Samuel mengaku tidak pernah mendaftarkan nomor miliknya ke HP lain.


"Orang itu mau menyelidiki kami, mencari sesuatu terkait almarhum untuk mengaitkannya dengan kami," kata Samuel di rumah duka, di Desa Suka Makmur, Kecamatan Sungai Bahar, Muarojambi, Selasa (12/7/2022).


Samuel berkata, kakak dan ibu korban telah mengalami peretasan sejak Selasa pagi. 


Semua akun media sosial mereka sudah tidak bisa diakses.


Dia heran dengan adanya peretasan ke kontak pribadi pihak keluarga. 


Pada dasarnya, Samuel hanya meminta kejelasan kronologi kematian Brigadir J dan meminta keadilan.


"Saya minta Pak Kapolri memberikan keadilan dan kejelasan pada kami. Buatlah tim pencari fakta yang independen, agar bisa dibuktikan kalau memang anak kami salah," kata Samuel.


Samuel juga berharap tidak ada lagi teror terhadap keluarganya. Terutama peretasan di ranah pribadi keluarga.


"Kontak terakhir dengan almarhum, kami minta dia (Brigadir J) melihat adiknya yang sakit," ujar Samuel.


Penjelasan Pakar Keamanan Siber


Menurut pakar keamanan siber dari Vaksin.com Alfons Tanujaya, pemberitahuan seperti ini hanya akan muncul ketika pengguna lain telah berhasil masuk ke sebuah akun WhatsApp.


Dikutip dari artikel yang dipublikasikan Kompas.com pada 13 Mei 2020, bila ada notifikasi demikian artinya nomor telepon sudah dibajak.


"Bukan tanda akun WhatsApp akan dibajak, tapi sudah dibajak," kata Alfons. [Democrazy]