Breaking

logo

01 Juni 2022

Sejarawan Usul Nama JIS Diganti Jadi Stadion MH Thamrin, Ini Alasannya

Sejarawan Usul Nama JIS Diganti Jadi Stadion MH Thamrin, Ini Alasannya

Sejarawan Usul Nama JIS Diganti Jadi Stadion MH Thamrin, Ini Alasannya

DEMOCRAZY.ID - Wacana penggantian nama Jakarta International Stadium (JIS) kembali digaungkan. 


Stadion anyar itu diusulkan berubah nama menjadi Stadion MH Thamrin. 


Sejarawan JJ Rizal menggaungkan usulan itu dengan mengajukan petisi melalui www.change.org.


Dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa petang (31/5/2022), penulis buku 'Ragam Budaya Betawi' itu memaparkan sejumlah argumentasi. 


Selain ada yang menganggap penamaan Jakarta International Stadium (JIS) melanggar UU No. 24/2009 karena menggunakan Bahasa Inggris, nama tersebut tak dapat memacu semangat untuk memajukan persepakbolaan nasional karena tidak menggunakan nama tokoh sejarah yang inspiratif.


Terkait nama tokoh yang inspiratif, sejarawan dari LIPI, Asvi Warman Adam melalui surat pembaca di harian Kompas, 10 Mei 2022, mengusulkan nama Suratin. Dia adalah pendiri Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). 


Tapi JJ Rizal menilai ada sosok lain yang lebih tepat yakni MH Thamrin, karena tanpa dirinya organisasi PSSI sulit terwujud kala itu.


"Thamrin adalah pahlawan nasional sekaligus tokoh Betawi, warga asli Jakarta. Dia juga dikenal sebagai penggila bola dan punya visi sepakbola modern Indonesia sebagai reaktor kebangsaan," paparnya.


Visi sepakbola Thamrin, sambung JJ Rizal, tumbuh dari kampung-kampung. MH Thamrin melihat sepakbola Pribumi bermutu tapi didiskriminasi. 


Karena itu ia selalu menggunakan posisinya di Gementeraaden (Dewan Kota) dan Volksraad (Dewan Rakyat), untuk menyuarakan isu ini.


Thamrin, kata pendiri dan direktur Penerbit Komunitas Bambu itu melanjutkan, meyakini sepakbola bukan sekadar olahraga rakyat, melainkan medium gerakan kebangsaan.


Riset sejarah oleh Srie Palupi, "Politik dan Sepakbola", membenarkan hal itu. 


Sepakbola yang masuk Hindia pada akhir abad ke-19 berbareng ideologi-ideologi besar-nasionalisme, komunisme, islamisme, sosialisme-sama diterima dan tumbuh jadi counter culture terhadap perkembangan masyarakat serta sejarah kolonial. Inilah jalan keluar yang ditawarkan Thamrin.


Visi sepakbola MH Thamrin terbukti, di negeri jajahan, profesionalisme itu tumbuh karena para pemain merumput dengan keyakinan mempertaruh sejarah dan kultur sepakbola sejak diterima di negerinya, yaitu sebagai counter culture kolonialisme.


"Dari sini, ia membangun sepakbola modern Indonesia sebagai reaktor kebangsaan, sehingga Jakarta jadi ibukota sepakbola kebangsaan Indonesia. Inilah warisan Thamrin yang berharga dan khas, tapi terlupa," tegas JJ Rizal.


Saat ulang tahun VIJ (Voetbalbond Indonesia Jakarta) pada Oktober 1930, Thamrin mengumumkan membeli lapangan di Pulo Piun, Laan Trivelli, di Cideng, dengan merogoh 2.000 gulden untuk membuatnya layak. 


Hal ini dilakukan karena Gementeraad dan Volksraad tak memberikan respons memadai ketika dirinya menyampaikan kabar ikhwal kasus Suratin dan para pemain VIJ yang dipecat perusahaan Belanda karena ikut sepak bola pribumi. 


Juga terjadinya sabotase pertandingan perserikatan oleh VBO karena buruknya kondisi lapangan sepak bola pribumi.


Selepas dari penjara Sukamiskin, Sukarno oleh MH Thamrin pernah diajak ke lapangan VIJ. 


Ia melakukan kick-off awal musim kompetisi PSSI antara VIJ melawan PSIM Yogyakarta 16 Mei 1932. Dengan cara itu, kata Rizal, rakyat jadi tahu, Sukarno telah kembali. 


Hal itu juga untuk menyiasati tuduhan Sukarno ikut berpolitik lagi.


Darma bakti dan warisan MH Thamrin yang begitu besar kepada sepakbola, kata JJ Rizal, jadi utang budi tak ternilai. 


Seharusnya ini cukup menggugah kesadaran buat mencicil, dan mengganti nama JIS dengan MH Thamrin Stadion Internasional Jakarta adalah awal yang baik.


"Bangunan monumental harus diimbangi nama dari amal sejarah yang monumental dan tak kering-kering mengalirkan keteladanan bagi sepakbola serta kebangsaan kita hari ini juga masa depan," tuturnya. [Democrazy/detik]