Breaking

logo

01 Juni 2022

Kisah Kelahiran KH Maimun Zubair atau Mbah Moen, Tiga Kiai Ludahi Air di Gelas, Diminum Sang Ibu

Kisah Kelahiran KH Maimun Zubair atau Mbah Moen, Tiga Kiai Ludahi Air di Gelas, Diminum Sang Ibu

Kisah Kelahiran KH Maimun Zubair atau Mbah Moen, Tiga Kiai Ludahi Air di Gelas, Diminum Sang Ibu

DEMOCRAZY.ID - Sosok sesepuh ulama Nahdlatul Ulama, KH Maimun Zubair atau Mbah Moen wafat di Tanah Suci Makkah Almukarromah pada 6 Agustus 2019 di usia 90 tahun.


Adapun KH Maimun Zubair atau Mbah Moen dimakamkan di pemakaman Ma’la, Mekkah.


Sebelum wafat, kala itu, KH Maimun Zubair atau Mbah Moen, yang lahir di Rembang, Jawa Tengah, 28 Oktober 1928, tengah melaksanakan ibadah haji.


Banyaknya orang yang menghormati KH Maimun Zubair atau Mbah Moen membuat sosok Mbah Moen terus dikenang kisah-kisahnya.


Apalagi KH Zubair atau Mbah Moen adalah seorang ulama sepuh yang tinggi keilmuannya. 


Nah, Salah satu kisah yang menarik dibicarakan banyak orang adalah kisah kelahiran KH Maimun Zubair atau Mbah Moen.


Kisah kelahirannya itu ia ceritakan saat berceramah pada Haul Gus Dur 2018 di Ciganjur, Jakarta.


Dalam video unggahan akun NU Channel di YouTube pada 11 Februari 2019, Mbah Moen pernah bercerita tentang tiga ulama alim pendiri Nahdlatul Ulama.


Mereka adalah KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Syamsuri. 


Ketika akan berlangsung muktamar tahun 1928, ketiga kiai hebat itu, kata Mbah Moen, berangkat dari Surabaya ke Semarang.


Lalu mereka singgah di rumah buyut Mbah Moen, namanya Kiai Su'aib di daerah Sarang.


"Kiai 3 tadi merundingkan atas kembalinya Kiai Muhaimin menjadi orang Jombang, yang akhirnya dikawin oleh Nyai Khoiriyah, jandanya Kiai Ma’sum Ali. Itu perundingan diadakan di Sarang. Alhamdulillah, ketiga Kiai itu meludahi gelas yang ada airnya, kemudian diminum ibu saya, dan tidak lama melahirkan saya. Ini terus terang saja, jadi saya ini NU-nya enggak bisa dipisahkan," kata Mbah Moen, dalam video tersebut.


Karena Mbah Moen lahir dari karomah ketiga ulama NU itu, ia pun merasa tidak bisa dipisahkan dari NU dan Gus Dur.


"Apa sebab saya dan Gus Dur itu tidak bisa dipisahkan. Saat Gus Dur mau ke Mesir, anehnya di tempat saya iminta dibacakan kitab Tadzkirah Imam Nawawi, berapa halaman, terus ke Mesir kemudian ke Irak, Dan akhirnya terjadi perubahan NU setelah Gus Dur terpilih jadi ketua umum PBNU, saya diangkat jadi Pengurus Besar NU, ini karena Gus Dur tadi," ujar Mbah Moen. [Democrazy/tvone]