Breaking

logo

26 April 2022

Tuding Amerika Perpanjang Konflik di Ukraina, Rusia: Jangan Remehkan Ancaman Perang Nuklir!

Tuding Amerika Perpanjang Konflik di Ukraina, Rusia: Jangan Remehkan Ancaman Perang Nuklir!

Tuding Amerika Perpanjang Konflik di Ukraina, Rusia: Jangan Remehkan Ancaman Perang Nuklir!

DEMOCRAZY.ID - Potensi perang nuklir bukan tidak mungkin terjadi di Ukraina. 


Hal tersebut diungkapkan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.


Dia pun mengingatkan agar negara-negara Barat untuk tidak meremehkan perang nuklir yang berpotensi terjadi di Ukraina.


Lavrov dalam sebuah wawancara dengan televisi pemerintah pada Senin, 25 April 2022 waktu setempat, juga mengatakan inti dari setiap perjanjian mengakhiri konflik di Ukraina akan sangat bergantung pada situasi militer di lapangan.


Lavrov ditanya tentang pentingnya menghindari perang dunia ketiga dan apakah situasi saat ini bisa dibandingkan dengan krisis rudal Kuba pada 1962, salah satu masa terburuk dalam hubungan AS-Soviet.


"Rusia telah melakukan banyak hal untuk mencegah terjadinya perang nuklir dengan cara apa pun," katanya.


"Ini posisi penting kami yang mendasari segalanya. Risikonya kini cukup besar," lanjutnya.


"Saya tidak akan mau meningkatkan risiko itu secara sengaja. Banyak orang akan seperti itu. Bahayanya serius, nyata. Dan kita tak boleh meremehkannya."


Invasi Rusia di Ukraina yang telah berlangsung 2,5 bulan telah membuat ribuan orang tewas dan terluka, menghancurkan kota dan desa, dan memaksa 5 juta orang mengungsi ke luar negeri.


Moskow menyebut aksinya itu sebagai "operasi khusus" untuk melucuti Ukraina dan melindungi negara itu dari kaum fasis. 


Ukraina dan Barat mengatakan hal itu hanyalah dalih Presiden Vladimir Putin untuk melakukan agresi tak berdasar.


Membela tindakan Moskow, Lavrov juga menyalahkan Washington atas minimnya dialog.


"Amerika Serikat praktis telah menutup semua kontak semata-mata karena kami berkewajiban membela orang-orang Rusia di Ukraina," kata Lavrov.


Namun, dikatakannya pasokan senjata canggih Barat, termasuk rudal anti tank Javelin, kendaraan lapis baja dan pesawat nirawak, merupakan tindakan provokatif yang sudah diperhitungkan untuk memperpanjang konflik ketimbang mengakhirinya.


"Senjata-senjata ini akan menjadi target yang sah bagi tindakan militer Rusia dalam konteks operasi khusus," kata Lavrov.


"Fasilitas penyimpanan di Ukraina barat telah menjadi target lebih dari sekali (oleh pasukan Rusia). Bagaimana tidak?" katanya menambahkan.


"NATO, pada dasarnya, terlibat dalam perang dengan Rusia melalui sebuah proksi dan mempersenjatai proksi tersebut. Perang berarti perang."


Dia mengatakan pemerintah Ukraina tidak berunding dengan niat baik dan Presiden Volodymyr Zelenskyy, mantan aktor, seperti Perdana Menteri Inggris yang berakting di depan publik daripada menangani tugas di depan mata: perundingan.


"Mereka mirip dalam hal kemampuan berakting. Misalnya, mereka pura-pura bernegosiasi," kata Lavrov. [Democrazy/fin]