-->

Breaking

logo

22 April 2022

Pedagang Yang Curhat ke Jokowi Jelaskan Kronologi Pamannya Ditangkap

Pedagang Yang Curhat ke Jokowi Jelaskan Kronologi Pamannya Ditangkap

Pedagang Yang Curhat ke Jokowi Jelaskan Kronologi Pamannya Ditangkap

DEMOCRAZY.ID - Video pedagang yang berteriak minta tolong saudaranya dipenjara lantaran menolak pungutan liar (pungli) kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi), pada saat menyerahkan bantuan langsung tunai (BLT) minyak goreng kepada pedagang kaki lima (PKL) di Pasar Bogor, Kota Bogor viral di media sosial. 


Dalam pengakuannya kepada presiden, pedagang ini mengaku pamannya ditangkap polisi karena menolak pungli yang dilakukan preman.  


Pedagang itu adalah kakak beradik bernama Kurnialih (23) dan Rahman (20) yang merupakan keponakan Ujang Sarjana, paman mereka yang ditangkap polisi. 


Ujang adalah adik dari orang tua mereka bernama Ade Karnafi (48). 


Mereka adalah keluarga pedagang buah di pasar tersebut.  


Kunialih dan Rahman mengungkap apa yang mereka lakukan dengan mengadukan permasalahan yang dihadapi pamannya adalah hal yang spontan.


"Pengen ngadu spontan habis bingung mau ke siapa lagi. Semua cara sudah kita lakuin kan cuma tidak ada tanggapan. Pas pak Jokowi datang kami teriak-teriak. alhamdulillah didengar saya jelasinnya buru-buru karena takut waktunya pak Jokowi sebentar, takut tidak tersampaikan gitu langsung ke intinya. Om saya menolak pungli lalu ditangkap polisi," ungkap Kurnialih saat diwawancarai, Jumat 21 April 2022. 


Kurnialih mengatakan, saat itu Presiden Jokowi meminta agar persoalan ini diselesaikan kepada Sekretaris Kabinet Pramono Anung.  


"Ini selesaikan harus diberesin ke pak kapolda bilang gitu," ungkapnya.


Rahman mengungkapkan apa yang dialami pamannya hingga ditangkap polisi. 


Menurutnya, pamannya menolak pungutan liar oknum premen yang menjual rokok dan air mineral dengan memaksa. 


Jika tidak akan dilukai dengan senjata tajam.  


"Walau kami ada stok rokok air plastik mereka tetap masuk-masukin. Isinya mereka kurangi. Mereka sering mengancam berulang-ulang tanggal 24 November, itu sering ke pedagang bawa golok," ucapnya.  


Lanjut Rahman, sempat terjadi keributan antara pamannya dengan preman tersebut. 


Bahkan ada pedagang sayur yang kepalanya terkena senjata tajam. 


Dirinya langsung melaporkan ke ketua RT, Babinsa hingga Babinmas.


"Ribut karena selama ini kita diam terus kita nolak," kata Rahman.  


Rahman menuturkan, pada saat cekcok tersebut, preman yang suka menjual rokok tersebut jatuh hingga tangganya luka kemudian melaporkan ke polisi.  


"Ada pedagang yang mungkin tapi pengakuan Andriansyah itu dia jatuh. Kalau mabok minta uang semaunya. Rp200 ribu pak, kalau ga besoknya dicagcagkin (diacak-acak) lapak dagangannya," ucapnya.  


Rahman menyebut awalnya mereka memasukan rokok dan plastik untuk dibeli pedagang. Dan anak buahnya setiap hari meminta Rp 5000-10.000.


"Sampe satu lapak itu perharinya abis 70 ribu. Terus air minum botol habis ga habis mereka masukin mereka paksa. Kalau lu ga ambil gua cagcagkin lu dia bawa golok, bawa pistol. Kita ada videonya pak, mereka bukan asal ngomong ada pedagang yang ditampar dijedugin ke tembok, dagangannya dirusakin sama preman itu karena enggak nurut, jadi semua pedagang pada takut, gemeteran, kita tidak punya perlindungan," ungkap Rahman.  


Kakak Ujang Sarjana, Ade Karnafi (48) mengungkapkan para preman tersebut bernama Jupri dan dua anak buahnya Ardiansyah dan Komeng sering kali mengancam pedagang. 


Bahkan, dagangan mereka langsung dimasukan ke lapak-lapak pedagang. 


"Mereka ngancam kalau tidak ambil aqua (air mineral botol) sama plastik saya bacokin semua. Saya ada bukti video ancamannya. Mereka langsung masuk-masukin dilemparin," katanya. [Democrazy/viva]