Pengamat Sebut Prabowo dan Ganjar Jadi Duet Serasi di Pilpres 2024, Cocok Gak? | DEMOCRAZY News | Indonesian Political News -->

Breaking

logo

Minggu, 02 Januari 2022

Pengamat Sebut Prabowo dan Ganjar Jadi Duet Serasi di Pilpres 2024, Cocok Gak?

Pengamat Sebut Prabowo dan Ganjar Jadi Duet Serasi di Pilpres 2024, Cocok Gak?

Pengamat Sebut Prabowo dan Ganjar Jadi Duet Serasi di Pilpres 2024, Cocok Gak?

DEMOCRAZY.ID - Bursa calon presiden untuk pemilihan presiden di tahun 2024 memang bergerak dinamis. 


Sejak akhir 2021, nama para tokoh yang digadang akan bertanding nanti mulai bermunculan.


Temuan survei yang dilakukan Indometer, menunjukkan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo terlihat bersaing ketat.


Kedua tokoh tersebut memilki poin tinggi yang hasilnya cenderung tipis, untuk memperebutkan peringkat pertama elektabilitas.


Nama Prabowo kembali unggul dengan elektabilitas 20,8 persen, sementara Ganjar yang meraih 20,4 persen.


Apakah dengan elektabilitas yang terus bersaing di atas ini, membuat kedua tokoh bisa bergandengan maju pemilihan presiden (Pilpres) 2024?


Pengamat Politik Adi Prayitno menilai, bahwa Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo bila maju bersama pada pilpres 2024 memiliki peluang lebih unggul.


Adi mengungkapkan, bahkan pasangan Prabowo-Ganjar akan lebih kuat dibandingkan Prabowo maju bersama Ketua DPR RI Puan Maharani.


"Kalau bicara Prabowo berpasangan dengan Ganjar tentu cocok. Bisa dilihat potensi kuat atau tidak tentu berdasarkan hasil lembaga survei," jelas Adi, Minggu (2/1/2022).


Adi memberikan alasan atas opininya, bahwa Prabowo-Ganjar harus melalui survei kecocokan. 


Dari hasil survei baru bisa dilihat apakah keduanya bisa lebih unggul dari pasangan lain atau tidak.


"Bila melihat elektabilitas Prabowo dan Ganjar tentu keduanya sama-sama kuat, kedua orang ini memiliki bekal yang sama, bekal popularitas dan elektabilitas," tuturnya.


Adi menjelaskan, bahwa terdapat beberapa syarat yang harus di penuhi. 


Bila calon tidak populer dan tak memiliki elektabilitas maka akan sangat sulit untuk memenangkan pertarungan.


"Kalau dua orang ini berkoalisi, bagus, mantap. Tinggal bagaimana menstimulasi lawannya, apakah kuat atau tidak, dan seterusnya," jelasnya. [Democrazy/sra]