-->

Breaking

logo

10 Januari 2022

Membandingkan Kemajuan DKI Era Anies vs Jokowi dan Ahok Sekaligus

Membandingkan Kemajuan DKI Era Anies vs Jokowi dan Ahok Sekaligus

Membandingkan Kemajuan DKI Era Anies vs Jokowi dan Ahok Sekaligus

DEMOCRAZY.ID - Sejumlah kalangan mempertanyakan tolak ukur penilaian Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto yang membandingkan kemajuan DKI Jakarta era Gubernur Anies Baswedan masih jauh dibanding era Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahja Purnama alias Ahok.


Adalah Politikus PKS Tifatul Sembiring salah satunya. Lewat cuitannya di akun Twitter @tifsembiring, mantan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini mempertanyakan parameter penilaian Hasto tersebut.


“Parameter penilaiannya, apa Mas (Hasto Kristiyanto). Baik kuantitatif atau kualitatif. Atau pakai perasaan2 saja…🤔. Masing2EraBedaSituasinya,” tulis Tifatul Sembiring, Senin, 10 Januari 2022.


Tifatul Sembiring wajar mempertanyaan parameter penilain Hasto, mengingat DKI Jakarta selama empat tahun era kepemimpinan Anies mengalami kemajuan pesat di semua aspek.


Misalnya, penataan infrastruktur kota, mencakup trotoar, halte maupun jembatan penyeberangan orang (JPO) yang kian tertata rapi serta ramah disabilitas, integrasi transportasi publik sehingga keluar sebagi juara dunia dalam ajang Sustainable Transport Award (STA) selama dua tahun berturut.


Anies dengan kepemimpinan kolaboratifnya juga berhasil membangun kembali perkampungan bekas gusuran Ahok. 


Sebut saja, Kampung Susun Akuarium di Penjaringan, Jakarta Utara, Kampung Susun Produktif Tumbuh Cakung di Jatinegara, Jakarta Timur untuk warga Bukit Duri.


Keberpihakannya juga ditunjukkan Anies dengan membangun kembali pemukiman warga di Kampung Kunir di Pinangsia, Tamansarai, Jakarta Barat. 


Nantinya, sebayak 33 kepala kelurga (KK) yang pernah digusur Ahok pada 2015 silam akan ditempatkan di perkampungan yang berlokasi tak jauh dari kawasan Kota Tua tersebut.


Selain itu, Jakarta di bawah Anies juga berhasil mempertahankan tradisi predikat Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) terkait hasil laporan keuangan daerah oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI. Menjadi kota paling demokratis selama empat tahun beruntun juga diraih.


Bahkan, di era keemasan ini, Jakarta juga berhasil terpilih sebagai Kota Sastra Dunia oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO. Jakarta masuk sebagai salah satu dari 49 kota di dunia yang tergabung dalam jaringan kota kreatif dunia (UNESCO’s Creative City Network) tahun 2021.


Soal kesejahteraan, warga Jakarta sejak 2017 lalu juga berlimpah subsidi dengan program-program bantuan sosial yang semakin ditingkatkan, mulai dari Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus, Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU), Kartu Pekerja Jakarta (KPJ), Kartu Penyandang Disabilitas Jakarta (KPDJ), Kartu Lansia Jakarta (KLJ), hingga bantuan bagi Penyedia Jasa Lainnya Perorangan atau PJLP.


Daftar di atas belum termasuk keberhasilan Anies mewujudkan Jakarta International Stadium (JIS), stadion sepak bola berstandar FIFA yang pada 2020 dikategorikan media Inggris, The Daily Mail, masuk 10 stadion termegah sejagat dan masih banyak lagi proyek-proyek ambisius yang sudah dan akan segera diresmikan.


Sementara Jokowi yang hanya menjabat Gubernur DKI Jakarta selama dua tahun belum terlalu mencolok keberhasilannya membangun Jakarta. 


Begitu juga dengan Ahok yang melanjutkan kepemimpinan Ibu Kota pasca ditinggal Jokowi maju Pilpres 2014 dan terpilih.


Ahok selama memimpin Jakarta tak lepas dari aksi kontroversi, mulai kebijakan gusur menggusur pemukiman warga atas dasar dalih normalisasi sungai, masalah relamasi di teluk Jakarta hingga dugaan korupsi di kasus RS Sumber Waras. [Democrazy/kba]