'Cerita Bung Karno Mencari Tuhan' | DEMOCRAZY News | Indonesian Political News -->

Breaking

logo

Selasa, 11 Januari 2022

'Cerita Bung Karno Mencari Tuhan'

'Cerita Bung Karno Mencari Tuhan'

'Cerita Bung Karno Mencari Tuhan'

DEMOCRAZY.ID - Bung Karno merasa tidak puas. Pikirannya belum bisa menerima gambaran konsep Tuhan seperti yang dipaparkan Haji Agus Salim. 


Agus Salim merupakan salah satu tokoh Partai Masyumi yang dalam sejarah pergolakan politik Indonesia mendapat julukan The Grand Old Man. Bagi Bung Karno, Tuhan tidak seperti itu. 


“Apa yang Tuan gambarkan tidak cocok dengan apa yang saya anggap semula,” kata Bung Karno kepada Agus Salim sembari pamit pulang. 


Saat itu Soekarno masih muda dengan pikiran yang selalu kritis dan tajam. 


Pertemuan kedua tokoh bangsa itu berlangsung di Bandung, Jawa Barat. 


Agus Salim sengaja datang untuk menemui Bung Karno.


Dalam buku “ Soekarno Poenja Tjerita, Yang Unik dan Tak Terungkap Dari Sejarah Soekarno”, disebutkan Agus Salim tidak banyak bereaksi. 


Ucapan Bung Karno hanya disenyumi Agus Salim seraya membatin. 


“Sungguh keras kepala anak muda ini. Mudah-mudahan Allah SWT menyadarkan pikirannya”. 


Lain waktu Bung Karno bertemu dengan Pastor Van Lith. 


Ia kembali berdebat tentang konsep ketuhanan. Soekarno juga menolak konsep Tuhan seperti gambaran Van Lith. 


Van Lith hanya mengakui Tuhan sebagai penguasa kebaikan, tapi tidak dengan keburukan. Bung Karno menolak konsep itu.


Pastor Van Lith marah besar. “Kau ini orang berdosa berani menjelekkan Tuhan!, “tegas Van Lith. Bung Karno tertawa, ngeloyor pergi dan berkata, “Percayalah bahwa Tuhan akan memaafkan saya”. 


Pengembaraan Bung Karno dalam pencarian Tuhan berlangsung panjang. 


Ia serap pengalaman kehidupan berbagai macam orang dan gambarannya tentang Tuhan. Gambaran Tuhan orang alim maupun orang awam.


Bung Karno merasa takjub dengan Alquran dan Hadist, tapi masih mencari Tuhan. 


Begitu juga konsep Tuhan dalam Hindu, Budha dan Kristen tidak memuaskannya. 


Ia merasa tidak menemukan Tuhan di sana. Termasuk konsep yang digambarkan Haji Agus Salim. Bung Karno mempelajari kitab-kitab ajaran agama. 


Ia membaca Alquran, Hadist dan banyak sumber lainnya. 


Ia juga membaca kitab-kitab yang berisi ajaran Hindu dan Budha. Ia pelajari semuanya dengan teliti.


Seperti yang ditulis Haji Achmad Noto Soetardjo dalam buku “Bung Karno Mentjari dan Menemukan Tuhan (1963)”, Bung Karno sadar menemukan Tuhan tidak bisa diukur dari banyaknya buku yang dibaca atau banyak berdiskusi dengan orang alim. 


Juga tak bisa diukur dari fasihnya membaca ayat kitab suci. Bung Karno justru akhirnya menemukan Tuhan dalam kalbunya, yang selalu bergetar setiap mengingat Wagimin, temannya yang miskin. 


“Ini (getaran kalbu) mengalirkan energi yang dahsyat dalam dirinya untuk berjuang melepaskan belenggu kolonialisme yang menjerat orang-orang seperti Wagimin”.


Getaran-getaran kalbu yang membawa Bung Karno mendekat dan menemukan Tuhan. 


Termasuk ketika memikirkan Utari, putri H.O.S Tjokroaminoto yang sempat jadi istri pertamanya, lalu ia ceraikan dalam keadaan masih suci demi cita-cita perjuangan. Kalbu Bung Karno juga bergejolak. 


Kalbunya terus bergetar di setiap keheningan, mengingat dan memikirkan nasib Utari. 


“Itulah cinta. Siapa yang membuat ada cinta di kalbu seseorang? Tentu semua itu tentang keberadaan yang gaib. Itulah akibat adanya Tuhan. Ia mencari terus!,” tulis Noto Soetardjo dalam buku Bung Karno Mentjari dan Menemukan Tuhan (1963). Bung Karno kehilangan kekuasaan setelah terjadi peristiwa G30SPKI. 


Dalam buku “Hari-hari Terakhir Soekarno (2012)”, Peter Kasenda menulis, Bung Karno dalam keadaan sekarat saat dilarikan dari Wisma Yaso ke rumah sakit. 


Saat itu 16 Juni 1970. Bung Karno berada dalam sebuah ruang perawatan yang ukurannya hanya sepetak. 


Pada lorong yang menghubungkan ruang perawatan, berdiri sejumlah penjaga yang melakukan penjagaan berlapis. 


Kondisi kesehatan Bung Karno terus memburuk. Pada Minggu, 21 Juni 1970 pukul 06.30 Wib, anak-anak Bung Karno sudah berkumpul di RSPAD. 


Terlihat Guntur, Megawati, Sukmawati, Guruh dan Rachmawati. Mereka menunggu kabar dengan wajah tegang. 


Tepat pukul 07.00 Wib, dokter Mahar membuka pintu kamar perawatan. 


Anak-anak Bung Karno menyerbu ke dalam sembari memberondongkan pertanyaan. 


“Mahar tak menjawab, hanya menggelengkan kepala,” demikian yang terceritakan dalam buku “Soekarno Poenja Tjerita, Yang Unik dan Tak Terungkap Dari Sejarah Soekarno”. 


Pukul tujuh lewat sedikit. Suster ruangan mulai mencabut selang makanan dan alat bantu pernafasan. Anak-anak Bung Karno mengucap takbir. 


Megawati membisikkan syahadat ke telinga ayahnya. Bung Karno mencoba mengikuti, namun kalimat itu tak selesai. “Allaah…,” bisik Bung Karno pelan seiring nafasnya yang terakhir. Pukul 07.07 Wib. 


Tangis pecah di dalam ruangan. Soekarno wafat. Berakhir sudah tugasnya sebagai penyambung lidah rakyat Indonesia. [Democrazy/oke]