-->

Breaking

logo

30 Desember 2021

Cerita Anies Tempatkan Guru Non-Muslim di Pelosok Mayoritas Muslim

Cerita Anies Tempatkan Guru Non-Muslim di Pelosok Mayoritas Muslim

Cerita Anies Tempatkan Guru Non-Muslim di Pelosok Mayoritas Muslim

DEMOCRAZY.ID - Sebelum menjabat Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan terlebih dulu menjabat Rektor Universitas Paramadina sejak 2007 hingga 2011.


Saat menjadi rektor, beberapa gagasan Anies untuk kemajuan bangsa terus dilakukan dan salah satu yang diingat hingga saat ini adalah program Indonesia Mengajar.


Program Indonesia Mengajar sendiri merupakan program yang mengirim tenaga-tenaga pengajar muda untuk mengajar di pelosok-pelosok desa di seluruh wilayah di Indonesia.


Dalam perjalanan program ini, ada satu kejadian yang hingga kini menjadi semangat untuk melawan gerakan-gerakan intoleransi di Indonesia, yakni menempatkan pengajar mudah beragama non-muslim di daerah yang mayoritas muslim.


Kebijakan itu diambil oleh Anies setelah mendapat masukan dari salah satu pengajar muslim yang mendapat tempat mengajar di salah satu desa yang mayoritas muslim. 


Dia (pengajar-red) itu menyarankan agar Anies menempatkan pengajar yang bukan muslim di desa tersebut.


“Pada saat dia menjadi Rektor universitas Paramadina, dia menginisiasi program Indonesia Mengajar. Lantas pulanglah seorang pengajar muda dari sebuah daerah. Pengajar muda itu menyampaikan  kepada Anies bahwa di daerah dimana dia mengajar mayoritas penduduknya muslim. Ia menyarankan agar Anies mengirimkan pengajar non-muslim, bukan muslim,” kata aktivis sosial Geisz Chalifah saat membantah isu intoleran yang disematkan ke Anies di acara talk show Catatan Demokrasi, Kamis, 30 Desember 2021.


Setelah mendapat masukan itu, Anies Baswedan kemudian mengirim pengajar non muslim ke daerah tersebut. 


Menariknya, di desa yang mayoritas muslim itu memperlakukan pengajar non muslim itu begitu istimewah. 


Bahkan, hampir setiap hari minggu, masyarakat di desa tersebut mengantar pengajar muda itu ke gereja yang berada di kota.


“Apa yang dilakukan Anies, dia kirim orang bukan muslim ke daerah itu, ada jejak digitalnya dan bisa cek di YouTube. Apa yang terjadi, setiap minggu masyarakat yang di situ mengantar pengajar muda ini ke kota terdekat yang ada gereja, setiap minggu dan laporannya ada,” ucap Geisz.


Makanya Geisz mengaku heran jika Anies Baswedan dituduh intoleran sangat aneh, karena mantan menteri pendidikan dan kebudayaan ini orang yang sangat keras terhadap perilaku-perilaku intoleran.


Menurut Geisz Chalifah, masalah politik identitas di Indonesia ini diawali oleh pendukung Basuki Tjahja Purnama alias Ahok di tahun 2015, dan saat itu Anies masih menjabat menteri pendidikan dan kebudayaan.


“Sentimen agama itu bermula dari 2015 akhir dan 2016 awal, pada konteks itu Anies masih jadi menteri tidak ada kaitan dengan konteks Pilkada,” jelasnya.


“Ada beberapa pihak yang tidak setuju Ahok menjadi Gubernur karena Jokowi menjadi Presiden, saat itu saya masih menjadi pendukung keras Ahok. Dari pihak sebelahnya mengatakan lebih baik pemimpin kafir daripada muslim tapi koruptor. Lantas ada pernyataan ‘kami muslim,’ ‘kami dukung Ahok.’ Jadi siapa yang membawa persoalan agama,” pungkas Geisz. [Democrazy/kba]