Sederet Kekecewaan Eks Ketua DPC PDIP Salatiga, dari Perlakuan Spesial Kader Korupsi hingga Lobi Uang Partai | DEMOCRAZY News | Media Informasi Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Senin, 08 November 2021

Sederet Kekecewaan Eks Ketua DPC PDIP Salatiga, dari Perlakuan Spesial Kader Korupsi hingga Lobi Uang Partai

Sederet Kekecewaan Eks Ketua DPC PDIP Salatiga, dari Perlakuan Spesial Kader Korupsi hingga Lobi Uang Partai

Sederet Kekecewaan Eks Ketua DPC PDIP Salatiga, dari Perlakuan Spesial Kader Korupsi hingga Lobi Uang Partai

DEMOCRAZY.ID - Teddy Sulistio membeberkan deretan kekecewaannya sehingga mengambil langkah untuk mundur dari jabatan Ketua DPC PDIP Kota Salatiga. 


Ia merasa banyak hal berubah di PDIP termasuk hal komunikasi dengan kader di bawah.


Berikut ini, sederet persoalan internal yang membuat Teddy kecewa dan memilih untuk meletakkan jabatan Ketua DPC PDIP Kota Salatiga:


1. Merasa Diabaikan


Teddy menjelaskan soal aturan yang tidak ditegakkan, salah satunya soal aturan Ketua DPC jika keinginan maju sebagai calon kepala daerah harus memiliki minimal 30 persen suara. 


Ia menyebut dirinya sudah mendapatkan lebih dari itu namun diajak atau ditawari soal itu pun tidak. Teddy menekankan soal komunikasi dari DPP PDIP.


"Ketua DPC mau maju Walikota dia prioritas kalau dia perolehan suaranya minimal 30 persen. Kita 32 persen, terakhir 38 persen. Diajak ngomong lahirnya rekomendasi aja enggak," kata Teddy Sulistio sebelum berangkat ke Jakarta memenuhi panggilan DPP PDIP.


"Ada aturan 30 persen minimal, saya ketua DPC maju wali kota aja tidak lho, diajak ngomong aja tidak kok," tegas Teddy.


Dia kemudian membandingkan soal Komunikasi Tjahjo Kumolo saat menjadi Sekjen PDIP. Saat itu komunikasi berjalan baik termasuk soal rekomendasi.


2. Merasa Didiskriminasi


Teddy menyoal soal aturan jabatan Ketua DPRD hanya boleh dua kali periode. Namun menurutnya, di beberapa daerah bisa menjabat tiga periode, sedangkan dia hanya dua periode saja.


"Ini bukan hanya saya ya, ini kan menyangkut penghargaan, kehormatan, di-sliding. Yang ironis, Mas Paryono, almarhum, (di) Kabupaten Boyolali, bisa tiga kali. Wonosobo tiga kali. Edi Tegal dan Teddy Salatiga hanya dua kali. Ada apa? kan nggak boleh diskriminatif," imbuh mantan Ketua DPRD Kota Salatiga itu.


3. Lobi Uang dalam Partai


Teddy juga bicara adanya soal lobi uang. Salah satunya ia menyebut adanya tawaran mahar menjadi ketua DPRD Kota Salatiga. 


Menurutnya hal itu juga dialami Dance Ishak, Ketua DPRD Kota Salatiga saat ini. Namun ia tidak menyebut siapa yang meminta.


"Lobi dan uang itu seperti kentut ya, faktanya aturan tidak jadi panglima. Dance, sekretaris saya, ngomong sama saya, dimintai ratusan juta untuk jadi ketua DPRD. Salatiga dimintai Rp 300 juta apalagi kota besar, nggo apa dhuwite (buat apa uangnya)," katanya.



4. Perlakuan Tak Sama Bagi Kader Terlibat Korupsi


Teddy menyoroti soal Juliari yang dicokok KPK saat menjabat Mensos tapi tidak dipecat dari partai. Padahal Tasdi yang juga ditangkap KPK saat menjabat Bupati Purbalingga langsung dipecat.


"Mas Tasdi Purbalingga, naik jadi Bupati, keseleo, ketangkep KPK, pagi hari langsung DPP pecat. Juliari sampai sekarang tidak dipecat, diskriminatif nggak? Ini apa, Juliari itu siapa, Bambang Pacul itu siapa?" ujarnya.


5. Menyoal Rangkap Jabatan Bambang Pacul


Teddy juga menyentil soal Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul yang memegang dua jabatan sekaligus di DPP PDIP Bidang Pemenagan Pemilu dan sekaligus DPD PDIP Jateng. Sehingga menurutnya tanggungjawab di DPD PDIP Jateng terbengkalai. Teddy tidak ingin kader di DPC hanya jadi pijakan.


"Ketika Pilkada Salatiga, Banjarnegara bersama lima kabupaten kota, ditinggal. Pak Pacul perhatiannya lebih ke Ahok dan Djarot saat itu sehingga setelah Pilkada dan kalah kita di-BKO-kan memenangankan Ahok-Djarot, 90 persen kita menangkan, dananya ratusan juta. Ketua DPD apa DPP ini? Kan confuse, tanggungjawab Ketua DPD nggak ada," jelasnya.


Untuk diketahui, Teddy merupakan sosok kader senior yang dikenal loyal. Orang tuanya Djatmiko Wardoyo dan Sri Utami, adalah kader sesepuh PDIP. Teddy pun mengungkapkan kekecewaan ketika jasa orang tuanya seolah dilupakan.


"Bapak saya itu pendiri PDI Pro Mega di sini. Terakhir jadi ketua fraksi di tingkat provinsi, dua periode. (Pak Djatmiko) seda (meninggal) itu WA saja nggak, teka wae ora (datang/melayat saja tidak), karangan bunga saya yang bikinkan, mulai Mbak Puan, Bu Mega, Mas Hasto, Ganjar, Pacul," kata Teddy.



6. Mega Dijauhkan dari Massa Pendukung


Ia juga mengungkapkan harapan agar Ketua Umum, Megawati Soekarnoputri kembai menyapa langsung kader di bawah. Teddy mengaku rindu karena seolah Megawati dijauhkan.


"Ketika ibu tidak lagi turun ke bawah, dibiarkan di menara gading, ada oportunis yang tidak kami lihat saat zaman berjuang, kami hanya bisa lihat ibu di TV. Kami rindu beliau menyapa kami, salaman, kami rindu beliau ngomong lagi seperti tahun-tahun lalu. Kami ini anak kandung, mereka hanya anak kos-kosan yang datang silih berganti, keluar masuk ketika kepentingan tidak terakomodir. Saya akan tetap di rumah walau dipojok dan bau. Ketika Ibu tidak lagi turun ke bawah dan dipisahkan jauh dari kami," katanya.


7. Tak Terkait 'Banteng-Celeng'


Teddy juga menegaskan keputusan untuk mundur dari Ketua DPC PDIP Kota Salatiga bukan terkait isu 'banteng-celeng' yang mencuat akhir-akhir ini. Ia menyebut sudah dipikirkan beberapa tahun lalu namun menunggu momen yang tepat.


"Kalau saya mundur setelah pelantikan DPRD, (nanti ada yang bilang) 'nah ra dadi ketua DPRD mutung (ngambek)', saya masih jaga marwah keluarga saya. Kalau terlalu dekat 2024, dikira ngerjain partai. Ini biar regenerasi berjalan baik," tegasnya.


Selain itu Teddy Sulistio juga mengungkapkan rencana ketika sudah tidak menjabat ketua, ia akan tetap bergerak di partai dengan mengajak para kader di bidang tani.


"Saya akan gerak di bidang tani, akan ajak kader saya yang masih hidup di bawah marginal proletar itu akan saya wadahi. Ya masih di frame partai," ujarnya. [Democrazy/dtk]