Minta Buzzer Ditertibkan, Azyumardi Azra: Bikin Rusak Kualitas Manusia di Indonesia! | DEMOCRAZY News | Media Informasi Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Rabu, 24 November 2021

Minta Buzzer Ditertibkan, Azyumardi Azra: Bikin Rusak Kualitas Manusia di Indonesia!

Minta Buzzer Ditertibkan, Azyumardi Azra: Bikin Rusak Kualitas Manusia di Indonesia!

Minta Buzzer Ditertibkan, Azyumardi Azra: Bikin Rusak Kualitas Manusia di Indonesia!

DEMOCRAZY.ID - Cendekiawan muslim Azyumardi Azra menilai keberadaan buzzer atau pendengung dampaknya mencerminkan kemorosotan keadaban publik dan sopan santun.


“Ada penelitian penggunaan medsos di Indonesia itu paling tidak beradab, ini memalukan. Katanya orang kita religius, Pancasilais, tapi medsosnya penuh dengan sikap tidak beradab, suka mengumbar fitnah, provokasi dan sebagainya. Itu sudah laporan mengenai itu,” kata Azyumardi dikutip Suara Islam Online, Rabu (24/11) melalui acara Apa Kabar Indonesia bertajuk "Ulah ‘Buzzer’ Bikin Resah?" di TvOne.


Azyumardi mengatakan, keberadaan buzzer juga merusak kualitas manusia di Indonesia secara keseluruhan dan tentu saja merusak kehidupan demokrasi.


“Karena adanya pendengung ini tidak memberikan ruang bagi orang yang berbeda pendapat yang ingin menjadi kekuatan penyeimbang atau kritik kepada pemerintah itu semakin sempit ruangannya,” jelasnya.


Itulah kenapa kemudian, kata Azyumardi, banyak lembaga mengenai demokrasi baik di dalam maupun luar negeri mengatakan demokrasi kita mengalami kemorosotan.


“Adalah karena merajelelanya buzzer-buzzer atau pendengung-pendengung yang melakukan disinformasi, misinformasi atau penyesatan informasi,” ujar mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.


Selain itu, kata dia, keberadaan buzzer juga menyebabkan kehidupan publik kita kurang sehat secara sosial politik.


“Dan kemudian mengimbas ke dalam kehidupan keagamaan, di mana kemudian beredar informasi atau hal-hal yang oleh pendengung itu sebetulnya jauh dari kenyataan, atau diplesetkan ke sana sini sehingga mengganggu kehidupan keagamaan,” tutur Azyumardi.


Menurutnya, keberadaan buzzer harus segera diatasi dan diperbaiki oleh penegak hukum.


“Kita harus belajar dari negara lain. Seperti di Jerman misalnya, buzzer yang melakukan penghasutan itu didenda sangat berat sekali, ini yang membuat kapok,” ungkapnya. [Democrazy/sid]