Jokowi Sedih Dikerdilkan di Negara Sendiri, Pengamat: Itu Bukan Dikerdilkan Pak, Tapi Cuma Dikritik | DEMOCRAZY News | Media Informasi Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Jumat, 12 November 2021

Jokowi Sedih Dikerdilkan di Negara Sendiri, Pengamat: Itu Bukan Dikerdilkan Pak, Tapi Cuma Dikritik

Jokowi Sedih Dikerdilkan di Negara Sendiri, Pengamat: Itu Bukan Dikerdilkan Pak, Tapi Cuma Dikritik

Jokowi Sedih Dikerdilkan di Negara Sendiri, Pengamat: Itu Bukan Dikerdilkan Pak, Tapi Cuma Dikritik

DEMOCRAZY.ID - Presiden Joko Widodo (Jokowi) sedih karena posisi Indonesia yang semakin dihormati negara lain, tetapi malah sering dikerdilkan di dalam negeri.


Keluh kesah itu disampaikannya saat HUT ke-10 Partai Nasdem, pada Kamis 11 November 2021.


Menurut pengamat komunikasi politik Jamiluddin Ritonga, Presiden Jokowi bukan dikerdilkan, tetapi dikritik.


“Anak bangsa itu tidak mungkin mengkerdilkan bangsanya sendiri, tetapi mengkritk pemerintahan Jokowi,” kata Jamiluddin dihubungi, Jumat (12/11/2021).


Dosen Universitas Esa Unggul itu pun tak menampik, sepanjang pemerintahan Presiden Jokowi, kritik terus dikumandangkan rakyat.


“Selama pemerintahan Jokowi memang kritik terus bergema, tetapi kritik seperti itu juga terjadi saat SBY tetapi tidak sedih,” ungkapanya.


Kemudian Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Megawati dan BJ Habibie saat menjadi menjadi seorang presiden.


“Mereka tidak ada yang mengeluhkan hal itu sebagai upaya mengerdilkan Indonesia, seperti Jokowi,” pungkas Jamiluddin.


Sebelumnya, Presiden Jokowi dalam pidatonya menceritakan pengalamannya bertemu banyak pemimpin dunia di dua agenda besar yang belum lama ini diikutinya.


Pertama, G20 di Roma, Italia dan KTT Perubahan Iklim atau COP26 di Glasgow, Skotlandia.


Dalam dua egenda akbar internasional itu, Jokowi merasakan ada perbedaan.


“Banyak sekali permintaan pertemuan bilateral dari negara-negara lain dengan Indonesia,” ungkapnya.


Jokowi mengungkap, Indonesia kini juga makin dihormati negara-negara di dunia. Salah satu buktinya adalah kepercayaan kepada Indonesia sebagai presidensi G20.


Agenda itu akan digelar dari 1 Desember 2021 sampai November 2022. Dengan demikian, Indonesia juga akan menyelenggarakan KTT G20 dan sejumlah pertemuan internasional terkait lainnya.


Selam satu tahun itu, akan digelar kurang lebih 150 pertemuan dengan berbagai isu.


“Juga perlu saya sampaikan, Indonesia adalah negara berkembang pertama yang menjadi presidensi G20,” bebernya.


Ironisnya, saat Indonesia makin dihormati dan dipandang oleh bangsa-bangsa lain, hal sebaliknya malah terjadi di negeri sendiri.


“Tapi sering di negara sendiri dikerdilkan. Ini yang sering membuat saya sedih,” sesalnya.


Padahal, sebagai negara yang memegang keketuaan G20 dan ASEAN, mestinya warga negara Indonesia juga turut merasakan kehormatan itu.


“Saya juga ingin, kita semuanya juga ingin, warga negara kita ini juga dihormati, dihargai oleh warga negara lain di manapun WNI kita berada,” lanjutnya.


“Mental inlander, mental terjajah, mental Inferior itu, itu harus dihilangkan. Jangan ada lagi yang memelihara, mental seperti itu,” sentil Jokowi. [Democrazy/pojok]