Ekonom Indef: RI Dinilai Mampu Kuasai Industri Mobil Listrik, Jangan Sampai Tersalip Vietnam | DEMOCRAZY News | Media Informasi Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Selasa, 23 November 2021

Ekonom Indef: RI Dinilai Mampu Kuasai Industri Mobil Listrik, Jangan Sampai Tersalip Vietnam

Ekonom Indef: RI Dinilai Mampu Kuasai Industri Mobil Listrik, Jangan Sampai Tersalip Vietnam

Ekonom Indef: RI Dinilai Mampu Kuasai Industri Mobil Listrik, Jangan Sampai Tersalip Vietnam

DEMOCRAZY.ID - Indonesia dinilai mampu menguasai industri mobil listrik global di masa mendatang. 


Ekonom Indef Tauhid Ahmad menilai, Indonesia memiliki sumber baterai listrik dari turunan nikel.


"Sumber biaya yang paling mahal dari mobil listrik soal komponen baterai listrik. Karena satu ini kita punya daya saing,” kata Tauhid dalam keterangannya, Selasa (23/11).


Tauhid menambahkan, penggunaan dan pertumbuhan mobil listrik makin pesat secara global. 


“Artinya pasarnya besar dari industri ini,” katanya.


Meski demikian, Indonesia dinilai perlu melakukan akselerasi ekosistem kendaraan listrik, mengingat cepatnya pengembangan yang dilakukan oleh negara lain dalam industri ini.


Salah satu negara di Asia Tenggara yang cukup agresif dalam mengembangkan industri mobil listrik adalah Vietnam. 


Negeri Paman Ho itu telah memproduksi mobil nasional (mobnas) bertenaga listrik VinFast dengan total investasi USD 5,4 miliar dan siap dipasarkan di Indonesia. 


Sementara itu, Indonesia sejauh ini masih belum mampu menunjukkan tajinya di sektor pengembangan kendaraan listrik.


Pengamat Otomotif, Bebin Djuana, mengatakan bahwa pemerintah perlu mewaspadai progres pengembangan mobil listrik oleh negara lain di kawasan Asia Tenggara.


“Saat ini tidak ada yang perlu ragu lagi dalam mengembangkan kendaraan listrik di Tanah Air, karena pemerintah sudah sangat jelas membuat roadmap industri ini. Kalau tidak agresif Indonesia bisa tertinggal, padahal kita memiliki pasokan bahan baku baterai mobil listrik yang melimpah," kata Bebin.


Menurut dia, pemerintah juga perlu aktif mengajak pihak swasta untuk turut mengembangkan industri kendaraan listrik. 


Aksi yang dibutuhkan saat ini, kata Bebin, yakni dengan mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik mulai dari hulu hingga hilir. 


Termasuk di dalamnya menyediakan industri komponen penunjang, terutama baterai.


Dia menambahkan, pemerintah juga perlu menyusun skenario untuk mengimbangi penetrasi pasar oleh Vietnam tersebut. 


Salah satunya adalah dengan membuka bisnis penyewaan baterai untuk menunjang eksistensi lalu lintas mobil listrik.


“Saat ini sejumlah negara sudah mulai serius untuk menanamkan investasi di sektor kendaraan listrik, seperti Korea melalui Hyundai. Dia sangat aktif dan justru menjadi perintis memproduksi mobil listrik di tanah air. Dan saya melihat itu menjadi trigger,” katanya.


“Korea sudah lompat ke listrik, tapi Jepang justru ingin mengembangkan mobil hybrid yang bagus. Dan saya pikir pada tahun depan akan semakin banyak lagi pemain mobil listrik yang bakal masuk Indonesia, karena kita jelas punya daya tarik yang sudah mendunia," tambahnya. [Democrazy/kmpr]