Soal Calon Kuat Ketum PBNU, Refly Harun: Gus Baha Paling Sip, Said Aqil Jangan Dipilih Lagi! | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Minggu, 10 Oktober 2021

Soal Calon Kuat Ketum PBNU, Refly Harun: Gus Baha Paling Sip, Said Aqil Jangan Dipilih Lagi!

Soal Calon Kuat Ketum PBNU, Refly Harun: Gus Baha Paling Sip, Said Aqil Jangan Dipilih Lagi!

Soal Calon Kuat Ketum PBNU, Refly Harun: Gus Baha Paling Mantap, Said Aqil Jangan Dipilih Lagi!

DEMOCRAZY.ID - Menjelang Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) pada Desember 2021, cucu pendiri NU KH Wahab Chasbullah, Gus Aam alias KH Agus Solachul Aam Wahib Wahab mengeluarkan pernyataan.


Ketum NU Khitah 1926 ini meminta agar pernyataannya tersebut dibacakan oleh ahli hukum tata negara Refly Harun pada tayangan video YouTube di kanalnya, dikutip Galamedia, Minggu, 10 Oktober 2021.


Terkait hal itu, Refly Harun enggan mengomentari perihal pernyataan Gus Aam tersebut.


Ia merasa tidak berkompeten untuk mengomentari perihal tersebut.


"Juga ini wilayah ngeri-ngeri sedap," ucapnya.


Sehubungan hal itu, pada video tersebut, Refly Harun hanya membacakan sejumlah komentar dari sahabat RH.


Ia pun membacakan komentar-komentar para penonton pada kanalnya itu.


Dari komentar yang banyak dibacakan, para pemirsa umumnya meminta agar KH Said Aqil Siradj tak dipilih lagi.


"Saiq Aqil jangan dipilih lagi," sebutnya.


Kemudian, "Gus Baha paling sip."


"Jangan pilih SAS karena hanya bikin gaduh Indonesia," lanjutnya.


"Yang penting jangan KH Aqil Siradj," ucapnya lagi.


Sebelumnya Gus Aam menyebutkan,  PBNU kini terjebak dengan dinamika poltik praktis dan pragmatis, terseret jauh ke daam kubangan politik praktis yang tidak menentu.


Hal itu, lanjutnya, merugikan jam'iyyah dan mengaburkan orientasi dakwah dan pelayanan terhadap umat sebagai tujuan utama dan penting yang menjadi bagian dari misi NU.


Hal itu diperparah dengan beberapa pernyataan-pernyataan Ketum PBNU KH Said Aqil Siradj yang tidak konsisten.


"Seringkali membingungkan, mengecewakan, meruntuhkan marwah dan wibawa jam'íyyah serta berdampak pada stigma negatif di kalangan masyarakat terhadap institusi NU," sebutnya.


"Yang pada akhirnya menyakiti hati umat Islam dan serta berimplikasi terhadap rapuhnya ukhuwah islamiyah," sambungnya.


Kemudian, lanjut dia, PBNU mengalami disorientasi gerakan hingga lebih ingin menguasai umat dan bukan melayani umat.


"Hal itu sangat bertentangan dengan nilai-nilai khittah NU," tegasnya.


Selanjutnya, kata dia, NU terjebak dalam arus pragmatis dan materialisme. Padahal Khittah NU itu adalah telah final yakni hanya berorientasi pada pencapaian ridho Allah SWT.


"Kondisi itu pun menimbulkan disharmoni dan disintegrasi di internal NU," ungkapnya.


Menyinggung calon kuat yang bakal maju menjadi Caketum PBNU diantaranya disebutkan, Muhaimin Iskandar, Yahya Staquf, KH Said Aqil Siradj.


Ia menilai, ketiga Caketum PBNU itu mempunyai kekuatan dari sisi finasial, kekuasaan dan jabatan.


Namun belum memenuhi atau setidaknya memiliki konsep yang jelas untuk menata arah NU agar kembali ke khittahnya.


Kriteria tersebut antara lain bersih, memiliki visi yang merekatkan umat, mampu menempatkan relasi kekuasaan dan organisasi, serta harus mempunyai target kinerja riil dan konkrit.


Kemudian, harus mempunyai kompetensi dalam memenej seluruh potensi SD, SDA dan market yang ada di pondok pesantren dan masyarakat.


Terakhir, berilmu dan mengerti, memahami serta sanggup melaksanakan ajaran atau paham ahlussunnah wal jamaáh. Juga sanggup dan mampu membentengi ahlus sunnah wa jama'ah.


"Semua kriteria yang ditetapkan, intinya adalah dalam rangka merealisasikan visi melayani umat," tandasnya. [Democrazy/galamed]