Rocky Gerung: Habib Rizieq Bukan Momentum, Yang Saya Mau Tanya Jokowi Sampai Nggak Ke 2024? | DEMOCRAZY News | Media Informasi Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Jumat, 29 Oktober 2021

Rocky Gerung: Habib Rizieq Bukan Momentum, Yang Saya Mau Tanya Jokowi Sampai Nggak Ke 2024?

Rocky Gerung: Habib Rizieq Bukan Momentum, Yang Saya Mau Tanya Jokowi Sampai Nggak Ke 2024?

Rocky Gerung: Habib Rizieq Bukan Momentum, Yang Saya Mau Tanya Jokowi Sampai Nggak Ke 2024?

DEMOCRAZY.ID - Pengamat politik, Rocky Gerung merasa tidak yakin Joko Widodo (Jokowi) bisa mempertahankan jabatannya sebagai presiden hingga ke tahun 2024.


Pasalnya, pada saat ini banyak orang yang sudah berpikir bagaimana cara untuk mengevaluasi politik di Indonesia.


Momentum yang ditunggu oleh masyarakat Indonesia ini disebutnya bukan bebasnya Habib Rizieq lagi, melainkan mundurnya Presiden Jokowi.


Hal tersebut disampaikan oleh Rocky Gerung dalam sebuah konten video yang diunggah oleh kanal YouTube Refly Harun pada Jumat (29/10/2021).


“Habib Rizieq sampai nggak ke 2024, untuk sebagai semacam simbol dari pemulihan politik muslim, itu pertanyaan yang juga terlalu standar,” kata Rocky Gerung.


“Yang saya mau Jokowi sampai nggak ke 2024? Itu soalnya,” tambahnya.


Rocky Gerung menyebut kalau Habib Rizieq bukanlah sebuah momentum karena momentum itu tersedia setiap menit dan detik.


Menurut Mantan dosen yang pernah mengajar di Universitas Indonesia (UI) itu momentum harus diisi dengan monumen.


Habib Rizieq disebutnya sebagai sebuah monumen yang sudah tegak berdiri, artinya ada batas antara yang etis dan tidak etis plus batas intelektual dan tidak intelektual.


“Orang akhirnya nunggu kontras moral antara rezim Jokowi dan Habib Rizieq. Kontras itu diperlihatkan disidang pengadilan,” tutur pria berusia 62 tahun itu.


“Jadi terbentuk fasilitas baru sekarang, bagaimana mengukur legitimasi Jokowi? Nggak usah pakai survei, pakai kontras moral itu. Ini adalah suatu yang kualitatif tidak kuantitatif,” sambungnya.


Lebih lanjut, legitimasi Jokowi saat ini sudah tidak bisa lagi diukur oleh para pihak survei.


Selain itu disebutkannya politik Indonesia juga terkadang tidak bisa diukur karena banyaknya klaim partai politik yang dianggap tidak benar.


“Belum satu semester orde baru bilang ‘kami tumbuh 80 persen legitimasinya Golkar’ reformasi jatuh, jadi nggak ada gunanya kan,” pungkasnya.


Justru Rocky Gerung lebih menilai baik Partai Demokrat yang bisa dengan luar biasanya meledak walaupun sebelumnya punya legitimasi yang kecil.


“SBY dianggap sebagai kecil, bisa dapat momentum dia jadi monumen, jadi Presiden itu. Partai Demokrat berapa persen sih awalnya itu, 27 tiba-tiba meledak,” imbuhnya.


“Karena satu peristiwa kecil, yaitu dia dilecehkan oleh Taufik Kemas,” ucapnya menambahkan.


Sebelumnya Rocky Gerung menyebut kualitas hukum yang ada pada pemerintahan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat ini sangat rendah.


Maka dari itu, Rocky Geurng mengatakan banyak masyarakat yang menyampaikan kritik tetapi selalu dianggap makar.


Hal tersebut timbul karena adanya ketakutan dari sisi Jokowi yang sudah lagi tidak banyak dipercaya oleh masyarakat Indonesia.


Selain itu, disebutkan oleh pria berusia 62 tahun itu bahwa saat ini sudah ada tanda kekuasaan tidak lagi diperlukan di Indonesia.


Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Rocky Gerung dalam sebuah video yang diunggah oleh kanal YouTube Refly Harun pada Kamis (28/10/2021).


“Legitimasi pemerintah itu di atas 50 persen, dia enggak akan ucapkan makar, dia tidak akan khawatir,” kata Rocky Gerung.


“Kan tanda bahwa kekuasaan itu tidak diperlukan lagi ya Buzzer-nya dikerahkan. Lalu saya tanya misalnya pada Pak Mahfud ‘emang yang dukung Presiden siapa?’ ya tinggal Buzzer kan,” sambungnya.


Rocky Gerung menganggap bahwa saat ini sudah tidak ada lagi partai pendukung Jokowi yang mengucapkan sesuatu berbau dukungan.


Bahkan Rocky Gerung tidak pernah mendengar Megawati Soekarnoputri memberikan dukungan kepada Jokowi dalam keadaan yang serius saat ini.


“Bahkan Ibu Puan Maharani menegur presiden, jadi terlihat bahwa bahkan partai pendukung sudah mencari semacam alasan yang agak masuk akal untuk menghindar dari kekuasaan, itu mudah terlihat,” pungkasnya.  [Democrazy/poskota]