Menilik Kembali 4 Pernyataan Kontroversial Menteri Agama Gus Yaqut | DEMOCRAZY News | Media Informasi Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Senin, 25 Oktober 2021

Menilik Kembali 4 Pernyataan Kontroversial Menteri Agama Gus Yaqut

Menilik Kembali 4 Pernyataan Kontroversial Menteri Agama Gus Yaqut

Menilik Kembali 4 Pernyataan Kontroversial Menteri Agama Gus Yaqut

DEMOCRAZY.ID - Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas kembali mengeluarkan pernyatan kontroversial. 


Kali ini, ia berbicara soal asal-usul pembentukan Kemenag pada awal kemerdekaan RI, yang disebut merupakan hadiah negara untuk Nahdlatul Ulama (NU).


Pernyataannya Gus Yaqut ini banyak dikecam dan dinilai kurang bijaksana sebagai seorang pejabat negara.


Namun, pria yang ditunjuk Jokowi sebagai Menag pada 23 Desember 2020 itu tak sekali ini saja mengeluarkan pernyataan yang memicu polemik. 


1. Afirmasi Kelompok Syiah dan Ahmadiyah


Baru beberapa hari setelah dilantik, Gus Yaqut langsung membuat kebijakan kontroversial, yakni berencana mengafirmasi hak beragama warga Syiah dan Ahmadiyah. 


Gus Yaqut menegaskan, pemerintah tidak mau ada kelompok agama minoritas yang terusir dari kampung halaman mereka karena perbedaan keyakinan.


"Mereka warga negara yang harus dilindungi," kata Gus Yaqut, Jumat (25/12/2020).


Gus Yaqut menambahkan, Kementerian Agama akan memfasilitasi dialog lebih lanjut untuk menjembatani perbedaan yang ada. 


"Perlu dialog lebih intensif untuk menjembatani perbedaan. Kementerian Agama akan memfasilitasi," ucap dia.


Meski begitu, ditegaskan dirinya tidak berusaha melindungi organisasi atau kelompok Syiah dan Ahmadiyah. 


Melainkan sikapnya sebagai Menag yang ingin melindungi semua warga negara.


2. Setiap Acara Dimulai Doa Semua Agama


Gus Yaqut juga pernah menyinggung soal doa yang dibacakan tiap awal acara Kemenag hanya doa dari perwakilan umat Islam. 


Ia pun meminta agar semua kegiatan Kemenag tidak hanya diawali pembacaan ayat suci Al-Quran. 


Melainkan, semua agama yang diakui di Indonesia diberikan kesempatan yang sama untuk memberikan doa.


"Pagi hari ini saya senang Rakernas dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran. Ini memberikan pencerahan sekaligus penyegaran untuk kita semua. Tapi akan lebih indah lagi jika doanya semua agama diberikan kesempatan untuk memulai doa," ujar Gus Yaqut, Senin (5/4).


Gus Yaqut menyebut bahwa Kemenag memayungi semua agama, tidak hanya Islam. 


Karena itu harus ada mindset yang berubah yang ditunjukkan dalam perilaku, seperti acara-acara Kemenag.


"Kalau semakin banyak doa, probabilita untuk dikabulkan itu semakin tinggi, ini autokritik," tuturnya.


3. Ucapkan Selamat Hari Raya Naw Ruz ke Komunitas Baha'i


Gus Yaqut juga pernah menyampaikan ucapan selamat hari raya Naw-Ruz 178 EB ke komunitas Baha'i dalam sebuah video yang diunggaj di akun YouTube Baha'i Indonesia. 


Namun, ucapan ini menuai pertanyaan terkait status Baha'i sebagai agama resmi di Indonesia.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh. Salam sejahtera bagi kita semua. Kepada saudaraku masyarakat Baha'i di mana pun berada, saya mengucapkan selamat merayakan hari raya Naw-Ruz 178 EB. Suatu hari pembaharuan yang menandakan musim semi spiritual dan jasmani, setelah umat Baha'i menjadikan ibadah puasa selama 19 hari," kata Yaqut.


Dalam pesannya, ia menekankan persatuan seluruh elemen bangsa dan pentingnya moderasi beragama.


"Semoga hari raya ini dapat menjadi kesempatan dan momentum bagi seluruh bangsa kita untuk saling bersilaturahmi dan memperkokoh persatuan dan kesatuan, menjunjung tinggi nilai-nilai moderasi beragama bahwa agama perlu menjadi sarana yang memberikan stimulus rohani bagi bangsa Indonesia untuk senantiasa bekerja sama dan maju," tutur dia.


Dalam keterangan yang dirilis Kemenag, berdasarkan hasil riset Balitbang Kemenag tahun 2014 dinyatakan Baha’i adalah suatu agama tersendiri dan bukan aliran dari suatu agama tertentu. 


Baha'i memiliki nabi, kitab, doktrin, dan ajaran tersendiri. Agama Baha’i juga memiliki peribadatan seperti puasa, sembahyang, dan doa.


Atas dasar pemikiran tersebut, ucapan Gus Yaqut sebagai Menag yang memberikan ucapan selamat merayakan hari raya Nawruz kepada komunitas Baha’i tidak berbeda dengan ucapan kepada pemeluk agama lain, seperti ke pemeluk agama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Khonghucu.


4. Kemenag Hadiah Negara untuk NU


Dan yang terbaru, Gus Yaqut menyebut Kemenag merupakan hadiah negara untuk Nahdlatul Ulama (NU). 


Pernyataan ini diucapkan Gus Yaqut saat acara webinar RMI PBNU dalam peringatan Hari Santri 2021, Rabu (20/10) lalu.


Pernyataan ini dilontarkan ketika ia berbicara adanya perdebatan kecil tentang tagline Kementerian Agama (Kemenag), yakni Ikhlas Beramal.


"Ada perdebatan kecil di kementerian. Ketika mendiskusikan Kementerian Agama, saya berkeinginan mengubah tagline, tagline Kemenag kan Ikhlas Beramal, saya bilang gak ada ikhlas ditulis itu, namanya ikhlas itu di dalam hati kok ditulis?" papar Gus Yaqut.


Dari sana, Ketua Umum GP Ansor itu mengatakan, perdebatan terus berkembang hingga menyinggung sejarah berdirinya Kemenag. 


Gus Yaqut menyebut ketika itu ada pihak yang tidak setuju Kemenag menjadi kementerian semua agama.


"Kemudian berkembang jadi sejarah asal usul Kemenag ada yang bilang, enggak bisa Kemenag hadiah negara untuk umat Islam karena waktu itu perdebatannya bahwa kementerian ini harus jadi kementerian semua agama melindungi semua umat agama. Ada yang enggak setuju," ucap Gus Yaqut.


"Ada yang tidak setuju, kementerian ini harus agama Islam karena Kemenag itu hadiah negara untuk umat Islam. Saya bantah bukan, Kemenag itu hadiah negara untuk NU, bukan untuk umat Islam secara umum tapi secara spesifik untuk NU," ucap dia.


Gus Yaqut lalu menjelaskan, berdirinya Kemenag berkat keterlibatan NU dalam mencoret tujuh kata dalam Piagam Jakarta, atau yang kini dikenal sebagai sila pertama Pancasila. Dalam Piagam Jakarta sebelumnya tertulis: "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”


“Kementerian Agama itu muncul karena pencoretan tujuh kata dalam piagam Jakarta. Yang mengusulkan itu menjadi juru damai dari Nahdlatul Ulama kemudian lahir kementerian agama,” tutup dia. [Democrazy/kmpr]