Mengenal KAMI, Organisasi Mahasiswa Anti-PKI di Akhir Pemerintahan Soekarno | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Senin, 11 Oktober 2021

Mengenal KAMI, Organisasi Mahasiswa Anti-PKI di Akhir Pemerintahan Soekarno

Mengenal KAMI, Organisasi Mahasiswa Anti-PKI di Akhir Pemerintahan Soekarno

Mengenal KAMI, Organisasi Mahasiswa Anti-PKI di Akhir Pemerintahan Soekarno

DEMOCRAZY.ID - Sejak dulu, mahasiswa dikenal memiliki peran penting dalam perpolitikan Indonesia. 


Dalam menjalankan berbagai perannya, mahasiswa biasanya membentuk organisasi atau kesatuan aksi tertentu. 


Salah satu organisasi mahasiswa terbesar yang pernah dibentuk adalah Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia atau KAMI. 


Dikutip dari buku A History of Modern Indonesia Since 1200 c. karya M.C. Ricklefs, KAMI dibentuk pada 27 Oktober 1965. 


Pembentukan KAMI didasari oleh sentimen anti-PKI dan sentimen terhadap pemerintahan Presiden Sukarno pada waktu itu. 


Hal tersebut tampak dalam Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura) yang menjadi landasan perjuangan KAMI. 


Pertama, bubarkan PKI. Kedua, turunkan harga. Ketiga, bubarkan/rombak Kabinet Dwikora. 


Sebelum menjadi kesatuan aksi mahasiswa yang militan dalam menentang PKI dan Sukarno, KAMI merupakan bagian dari organisasi mahasiswa yang pernah terbentuk sebelumnya. 


Dikutip dari buku Pemuda, Pembangunan, dan Masa Depan, sebelum KAMI terbentuk, mahasiswa Indonesia telah berserikat di bawah Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia atau PPMI. 


Internal PPMI terpecah menjadi dua kubu, yakni kubu sayap kanan dan sayap kiri. 


Kubu sayap kanan terdiri dari beberapa organisasi, seperti HMI, PMKRI, dan PMII. 


Sementara itu, kubu sayap kiri terdiri dari CGMI, Germindo, Perhimi, dan GMNI. 


Perpecahan tersebut semakin tajam ketika Tragedi G30S dan Pembantaian '65 meletus. 


Kubu sayap kiri terus mendesak PPMI untuk mengambil sikap berseberangan terhadap PKI pasca-G30S. 


Namun, kubu sayap kiri yang merupakan bagian dari PPMI masih belum bisa menentukan sikap terhadap PKI karena kesamaan haluan politik.


Hal tersebut pun membuat kubu sayap kanan habis kesabaran dan berinisiatif membuat kesatuan aksi tersendiri untuk mengganyang PKI. 


Pembentukan kesatuan aksi tersebut dilakukan di rumah Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan, Sjarif Thajeb, pada 25 Oktober 1965. 


Dikutip dari socio-politica.com, pertemuan itu hanya dihadiri oleh kubu sayap kanan dan satu kubu sayap kiri saja, yakni GMNI. 


Alhasil, GMNI pun menjadi bulan-bulanan kubu sayap kanan dalam pertemuan itu. GMNI pun dipaksa untuk menjadi jajaran Presidium KAMI yang terbentuk malam itu. 


Namun, seiring berjalannya waktu, GMNI menarik diri dari jajaran Presidium KAMI. 


Sebab, GMNI masih berambisi untuk menjaga keutuhan PPMI yang sebelumnya telah terbentuk. 


Meskipun demikian, sebagaimana dikutip dari buku Regime Change and Ethnic Politics in Indonesia karya Taufiq Tanasaldy, GMNI akhirnya terpecah menjadi dua kubu, yakni kubu kiri dan kubu konservatif. GMNI kubu konservatif akhirnya merapatkan diri ke KAMI. 


Manuver KAMI dalam mengganyang PKI terbilang sangat militan. 


KAMI yang mendapat dukungan dari TNI, Banser NU, dan PSI melakukan serangkaian aksi demonstrasi yang tak terkendali. 


Beberapa aksi KAMI pun bisa dibilang brutal. Dikutip dari buku Kudeta 1 Oktober 1965: 


Sebuah Studi Tentang Konspirasi karya Victor M. Fic, KAMI turut serta dalam aksi pembakaran kantor PKI dan serangkaian aksi pembantaian terhadap tertuduh simpatisan PKI. 


KAMI pada akhirnya dibubarkan pada 25 Februari 1966. Meskipun hanya bergerak dalam waktu yang singkat, KAMI membawa dampak yang luar biasa kepada anggotanya. 


Akbar Tanjung, Sofyan Wanandi, Cosmas Batubara, Abdul Gafur, Zamroni, Yusuf Wanandi, David Napitupulu, dan aktivis KAMI lainnya mendapat jabatan-jabatan penting dari Presiden Soeharto pada Era Orde Baru. [Democrazy/tempo]