Heboh Beredar Video Tiga Pria Bawa Bendera NII | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Rabu, 13 Oktober 2021

Heboh Beredar Video Tiga Pria Bawa Bendera NII

Heboh Beredar Video Tiga Pria Bawa Bendera NII

Heboh Beredar Video Tiga Pria Bawa Bendera NII

DEMOCRAZY.ID - Belum usai penanganan kasus baiat anak di bawah umur oleh kelompok Negara Islam Indonesia (NII) di Kelurahan Sukamentri, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat, kini muncul video tiga orang pembawa bendera diduga bendera organisasi Negara Islam Indonesia (NII) di media sosial.


Dalam video berdurasi 2 menit 23 detik yang diunggah akun YouTube perkesit82, tampak tiga orang dan salah satu di antara mereka membawa bendera mirip bendera NII dan mengenai kaus oblong dengan gambar serupa. Dalam video itu juga salah satunya mengeluarkan pernyataan.


"Kepada seluruh dunia internasional, dengan atas nama PBB, untuk segera memasuki Negara Islam Indonesia, silakan, welcome, welcome," katanya.


"Kepada yang terhormat PBB, Gedung Putih Amerika Serikat, welcome, silahkan masuk memasuki Negara Islam Indonesia Madinah, Indonesia Madani."


Selanjutnya pria pembawa bendera menyatakan bahwa Imam SM Kartosuwirjo merupakan khalifah dunia, Drs Sensen Komara sebagai Panglima Jenderal DI-TII NII dan si pembawa bendera memperkenalkan diri dan dua temannya sebagai tiga jendral DI-TII NII.


"Imam Besar SM Kartosoewirjo khilafah dunia, Bapak Drs. Sensen Komara BM Esa dan saya Panglima Jenderal DI/TII NII, tiga jenderal DI/TII NII welcome-welcome silakan memasuki Negara Islam Indonesia," katanya.


Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Garut Wahyudijaya mengatakan bahwa rekaman video itu, berdasarkan penelusuran, dibuat tahun 2019 di Kecamatan Pasirwangi Garut. 


Saat itu Sensen Komara, yang mengaku sebagai Presiden NII, masih hidup. 


"Hanya saja saya heran kenapa video itu muncul, tatkala rame persoalan baiat di Kelurahan Sukamentri," ujarnya, Rabu, 13 Oktober 2021.


Wahyudijaya merasa curiga bahwa munculnya video itu sebagai upaya untuk mengalihkan isu, atau kedua kasus memiliki keterkaitan. 


Dia mengamati ada perbedaan antara video yang menampilkan anak dibaiat dengan video pernyataan itu. 


"Pembawa atribut dalam video cenderung faksi NII Filah dan kasus bait cenderung faksi NII Fisabilillah," ujarnya. [Democrazy/viva]