Aneh! Sukmawati Jalani Ritual Pengelukatan Tak Biasa untuk Jadi Pemeluk Hindu | DEMOCRAZY News | Media Informasi Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Senin, 25 Oktober 2021

Aneh! Sukmawati Jalani Ritual Pengelukatan Tak Biasa untuk Jadi Pemeluk Hindu

Aneh! Sukmawati Jalani Ritual Pengelukatan Tak Biasa untuk Jadi Pemeluk Hindu

Aneh! Sukmawati Jalani Ritual Pengelukatan Tak Biasa untuk Jadi Pemeluk Hindu

DEMOCRAZY.ID - Sukmawati Soekarnoputri akhirnya memulai tahapan menjadi pemeluk agama Hindu Dharma di Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, Senin petang (25/10). 


Adik kandung Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memulai ritual pembersihan diri atau pengelukatan di Pantai Banyu Alit, kawasan Pantai Lovina, Singaraja, Buleleng. 


Selama acara ritual pengelukatan, keluarga Bung Karno dari Pasek Bale Agung terlihat mempersiapkan berbagai sarana upacara yang diperlukan.


Namun, ada yang berbeda saat pelaksanaan ritual pengelukatan yang dilakukan politisi PNI Marhaenisme berumur 70 tahun ini. 


Biasanya, prosesi melukat dilaksanakan dengan cara mandi di laut, sungai, campuhan atau sumber mata air. 


Selama prosesi pengelukatan, seluruh tubuh dari kaki sampai kepala terendam dalam air.


Tujuannya untuk membersihkan diri. Namun, ritual pengelukatan Sukmawati Soekarnoputri yang dipimpin Ida Pandita Mpu Jaya Diwijananda dari Griya Kasaiwan Satya Mandala, Kelurahan Banjar Tegal, Kecamatan Buleleng, terlihat sedikit berbeda.


Hanya sebagian badan Sukmawati yang dibasahi air.


“Ada permintaan dari ibu (Sukmawati Soekarnoputri) untuk tidak sampai basah kuyup. Tidak sampai seluruh badan,” ujar Jero Mangku Merajan Pasek Bale Agung, Gde Made Swardana, kepada awak media. 


Dikutip dari berbagai literatur, melukat sendiri berasal dari kata sulukat. Su berarti baik, dan lukat berarti penyucian. 


Prosesi pengelukatan merupakan kegiatan spiritual yang berfungsi sebagai ritual penyucian serta pembersihan jiwa dan pikiran. 


Karena pembersihan tak hanya dilakukan secara skala (fisik), tetapi perlu juga dilakukan secara niskala (metafisika). 


Melukat juga merupakan upaya penyeimbangan antara Bhuana Alit (tubuh manusia) dan Bhuana Agung (Alam Semesta).


Proses pengelukatan diawali dengan menghaturkan pajati ataupun banten yang dibawa dan dipimpin seorang pemangku. 


Setelah menghaturkan banten, pamedek segera bersiap untuk melakukan panglukatan, yakni mandi di bawah mata air langsung. 


Saat melukat itulah terucap doa untuk diri sendiri. Dalam kitab Veda, prosesi pengelukatan sebaiknya dilakukan tanpa busana. 


Dalam Reg Veda disebutkan, air suci yang mengalir langsung sebaiknya mengenai seluruh bagian tubuh. 


Tak hanya mengenai bagian tubuh yang terlihat seperti kepala, atau lengan dan kaki saja. 


Namun, karena dianggap tabu, ritual melukat tanpa busaha masih dihindari umat Hindu Bali sampai saat ini. 


Dasar pengelukatan tanpa busana ada dalam Reg Veda I. 23. 23 yang menyebutkan, Apo Adyanv acarisam rasena sam agasmahi, payasvan agna a gahi sam prayaya sam ayusa.


Intinya, sangat penting dalam proses Panglukatan ini seluruh badan, termasuk badan yang tersembunyi harus terkena air suci tersebut. [Democrazy/jpnn]