Sempat Jadi Kontroversi, Begini Respons Muhammadiyah Soal Transaksi Indonesia-China Diganti Menjadi Yuan-Rupiah | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Minggu, 12 September 2021

Sempat Jadi Kontroversi, Begini Respons Muhammadiyah Soal Transaksi Indonesia-China Diganti Menjadi Yuan-Rupiah

Sempat Jadi Kontroversi, Begini Respons Muhammadiyah Soal Transaksi Indonesia-China Diganti Menjadi Yuan-Rupiah

Sempat Jadi Kontroversi, Begini Respons Muhammadiyah Soal Transaksi Indonesia-China Diganti Menjadi Yuan-Rupiah

DEMOCRAZY.ID - Bank Indonesia disorot setelah menerapkan kerjasama transaksi bilateral menggunakan sistem Local Currency Settlement (LCS) dengan Tiongkok. 


Melalui LCS, maka transaksi bilateral kedua negara tidak lagi menggunakan dolar Amerika, tetapi menggunakan mata uang rupiah dan yuan.


Sistem LCS sejatinya telah dimulai Bank Indonesia sejak 2018 bersama Malaysia dan Thailand yang kemudian diikuti Jepang pada 2020.


Menanggapi kebijakan tersebut, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus pengamat ekonomi Anwar Abbas menganggap positif dan mengapresiasi.


Sebab, selain LCS lebih fleksibel dan menguntungkan bagi pelaku usaha, LCS berfungsi mengeluarkan Indonesia dari kendali ekonomi dunia yang didominasi Amerika Serikat melalui mata uang Dollar.


Sistem LCS menetapkan bahwa negara pihak importir harus membayar barang dengan mata uang negara eksportir. Hal inilah yang dianggap menjanjikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional.


Anwar Abbas mengatakan bahwa LCS merupakan kabar gembira bagi bangsa Indonesia lantaran kesepakatan tersebut diprediksi akan mendorong penggunaan mata uang rupiah secara lebih luas.


“Hal ini tentu jelas merupakan sebuah berita gembira bagi kita karena kesepakatan ini akan mendorong penggunaan mata uang rupiah kita secara lebih luas untuk settlement transaksi bilateral antara negara kita dengan negara mitra,” kata Anwar Abbas yang dikutip dari Muhammadiyah, Mnggu, 12 September 2021.


Ia mengungkapkan bahwa LCS adalah upaya BI mengurangi penggunaan US dolar sebagai global currency yang menjadi sebuah kemestian dan keharusan demi terciptanya satu kehidupan ekonomi dunia yang adil dan setara.


“Untuk itu, adanya usaha dari BI mengurangi penggunaan US dolar sebagai global currency menjadi sebuah kemestian dan keharusan agar tercipta satu kehidupan ekonomi dunia yang adil dan setara yang memang sudah lama hilang, dan itu jelas-jelas sangat merugikan kita sebagai bangsa karena dia telah merenggut kedaulatan ekonomi terutama kedaulatan mata uang kita,” katanya.


Anwar Abbas berharap Bank Indonesia memperluas kerjasama LCS dengan lebih banyak negara mitra di dunia lantaran sangat membantu dan mempermudah pergerakan barang serta jasa antar negara.


“Karena hal tersebut selain akan sangat membantu dan mempermudah pergerakan barang dan jasa antara negara kita dengan negara-negara mitra tapi juga akan bisa mendorong kehidupan ekonomi kita baik dalam skala makro maupun mikro untuk bisa menggeliat dengan lebih kuat dan lebih besar lagi. Sehingga, kita harapkan kesejahteraan ekonomi rakyat akan bisa meningkat dengan signifikan sesuai dengan yang kita harapkan,” katanya. [Democrazy/rkp]