Kritik Ucapan Letjen TNI Dudung, Ketua MUI: Toleransi Itu Memaklumi, Bukan Menyamakan! | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Rabu, 15 September 2021

Kritik Ucapan Letjen TNI Dudung, Ketua MUI: Toleransi Itu Memaklumi, Bukan Menyamakan!

Kritik Ucapan Letjen TNI Dudung, Ketua MUI: Toleransi Itu Memaklumi, Bukan Menyamakan!

Kritik Ucapan Letjen TNI Dudung, Ketua MUI: Toleransi Itu Memaklumi, Bukan Menyamakan!

DEMOCRAZY.ID - Lontaran kalimat soal 'Semua agama benar di mata Tuhan' oleh Pangkostrad Letjen TNI Dudung Abdurachman menuai berbagai respon dari berbagai kalangan. 


Salah satu yang jadi sorotan adalah jawaban dari Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis.


Sebelumnya, Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Pangkostrad), Letjen TNI Dudung Abdurachman melakukan kunjungan ke Batalyon Zeni Tempur 9/Kostrad, Ujung Berung, Bandung, Jawa Barat.


Dalam kunjungannya, Dudung memberikan beberapa arahan kepada prajurit salah satunya untuk tak terlalu fanatik dengan suatu agama tertentu.


"Bijaklah dalam bermain media sosial sesuai aturan yang berlaku bagi prajurit. Hindari fanatik yang bersifat berlebihan terhadap suatu agama. Karena, semua agama itu benar di mata Tuhan," kata Dudung.


Ucapan itu pun langsung direspon oleh Cholil Nafis lewat cuitannya di Twitter.


"Bagi kami umat Islam yang benar adalah hanya agama Islam. Kita wajib meyakininya agar iman menancap di hati," kata Cholil di Twitternya @cholilnafis, dikutip Rabu (15/9).




Cholil mengatakan,  'Semua agama benar di mata Tuhan'adalah cara hidup bermasyarakat di Indonesia yang berlandaskan Pancasila.


"Namun dalam keyakinan masing-masing, pemeluk agama tetap yang benar hanya agama saya (Islam). Dalam bingkai NKRI, kita tidak boleh menyalahkan agama lain apalagi menodai," katanya.


"Toleransi itu memaklumi, bukan menyamakan," sambungnya.


Makna toleransi sendiri juga dijelaskan oleh Cholis menurut pandangannya.


"Yang sama jangan dibeda-bedakan apalagi dipertentangkan dan yang memang beda jangan disama-samakan. Namun, kita tetap harus saling memaklumi dan menghargai. Begitulah makna toleransi yang saya pahami," pungkasnya. [Democrazy/spo]