Antara Rindu dan Benci Sosok Soeharto, Benarkah Masa Pemerintahannya Dirindukan? | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Selasa, 28 September 2021

Antara Rindu dan Benci Sosok Soeharto, Benarkah Masa Pemerintahannya Dirindukan?

Antara Rindu dan Benci Sosok Soeharto, Benarkah Masa Pemerintahannya Dirindukan?

Antara Rindu dan Benci Sosok Soeharto, Benarkah Masa Pemerintahannya Dirindukan?

DEMOCRAZY.ID - Mengenang Presiden ke-2 Indonesia, Soeharto seringkali membuat kita bertanya. 


Benarkah sosok kepemimpinan Soeharto dirindukan atau justru dibenci?


Tak sedikit yang mengutuk pemerintahannya, namun tak sedikit pula yang ternyata merindukannya.


Wirianto Sumartono dalam bukunya “Gimana Kabarmu, Nak? Masih Enak Zamanku tho?, Kami Tidak Tahu Politik, Kami Hanya Ingin Makmur” menulis dengan gamblang perihal beberapa hal yang membuat Soeharto dirindukan.


Menurutnya, tulisan “Piye Kabare? Enak zamanku, toh?” yang banyak bertebaran adalah salah satu bukti kerinduan terhadap sosok kepemimpinan Soeharto.


Tak hanya itu, ia juga mencoba menarasikan kepemimpinan Soeharto diantara Rindu dan Benci.


Beberapa hal yang membuat Soeharto dirindukan sekaligus dibenci menurut Wirianto.


Pertama, dalam bidang ekonomi. Pada awal pemerintahan Seoharto, Indonesia mengalami inflasi, akibatnya harga bahan pokok naik.


Soeharto kemudian menunjuk orang-orang yang disebut sebagai “Mafia Barkeley”, para ekonom kebarat-baratan yang meningkatkan ekonomi Indonesia . 


Namun, siapa sangka di akhir masa pemerintahannya, keterpurukan ekonomi kembali terjadi.


Kedua, membuat Indonesia swasembada pangan. Soeharto berhasil membawa Indonesia menjadi penghasil beras terbesar.


Ketiga, jarang terjadi keributan termasuk demo anarkis, sikap politik Soeharto yang tegas membuat kondisi di masyarakat nyaris tanpa keributan. 


Namun belakangan, sikap politik ini dinilai otoriter.


Keempat, disegani oleh luar negeri, hubungan internasional terjaga dengan baik. 


Namun kemudian sebagian menilai kebijakan luar negeri Soeharto justru berdampak buruk pada Indonesia. [Democrazy/fajar]