Wow! Ekonom Ini Bongkar Utang Presiden Jokowi, Ternyata Lebih Banyak Tiga Kali Lipat Dibandingkan SBY | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Kamis, 19 Agustus 2021

Wow! Ekonom Ini Bongkar Utang Presiden Jokowi, Ternyata Lebih Banyak Tiga Kali Lipat Dibandingkan SBY

Wow! Ekonom Ini Bongkar Utang Presiden Jokowi, Ternyata Lebih Banyak Tiga Kali Lipat Dibandingkan SBY

Wow! Ekonom Ini Bongkar Utang Presiden Jokowi, Ternyata Lebih Banyak Tiga Kali Lipat Dibandingkan SBY

DEMOCRAZY.ID - Ekonom senior Faisal Basri membongkar utang pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).


Menurutnya, utang Presiden Jokowi lebih banyak tiga kali lipat dibandingkan dengan SBY.


Menurutnya, kenaikan utang tersebut merupakan angka luar biasa bila dibandingkan dengan posisi utang pada akhir masa Presiden SBY-Jusuf Kalla (JK).


“Ini berarti kenaikan luar biasa dibandingkan pada akhir pemerintahan SBY-JK sebesar Rp 2,61 kuadriliun atau kenaikan lebih dari tiga kali lipat,” kata Faisal dikutip dalam blog pribadinya, Kamis (19/8/2021).


Ia mengatakan, naiknya utang pemerintah dikarenak pengeluaran yang lebih cepat daripada penerimaan perpajakan selama sembilan tahun terakhir ini.


“Kenaikan penerimaan dari perpajakan berjalan lebih lambat ketimbang pertumbuhan ekonomi,” terangnya.


“Salah satu penyebabnya adalah adanya obral fasilitas pajak demi menggenjot investasi,” sambung Faisal.


Selain itu, pemerintah juga tidak berupaya menurunkan incremental capital-output ratio atau rasio modal-output tambahan yang pada era Jokowi 50 persen lebih tinggi dari era Orde Baru.


“Di saat yang sama, pemerintah dinilai tidak bisa menjaga stabilitas. Hal itu tampak dari penurunan indeks demokrasi,” tuturnya.


“Ini utang negara juga bisa semakin bertambah jika pertumbuhan ekonomi 2021 dan 2022 tak mencapai target,” pungkas Faisal.


Untuk diketahui, Presiden Joko Widodo menargetkan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5 persen – 5,5 persen pada tahun 2022 meski masih dibayangi ketidakpastian akibat pandemi COVID-19.


Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan yang dipatok tahun ini, sebesar 5 persen.


Hal tersebut disampaikan Jokowi dalam Penyampaian RUU APBN Tahun Anggaran 2022 dan Nota Keuangan di Gedung MPR/DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (16/8).


“Pertumbuhan ekonomi 2022 diperkirakan pada kisaran 5,0 persen sampai 5,5 persen. Kita akan berusaha maksimal mencapai target pertumbuhan di batas atas, yaitu 5,5 persen,” kata Jokowi.


Jokowi juga mengatakan, inflasi akan tetap dijaga pada level 3 persen.


Hal tersebut mengambarkan akan adanya kenaikan dari sisi permintaan, baik karena pemulihan ekonomi maupun perbaikan daya beli masyarakat.


Selain itu, nilai tukar Rupiah diperkirakan akan bergerak pada kisaran Rp14.350 per dolar AS, dan suku bunga Surat Utang Negara 10 tahun diperkirakan sekitar 6,82 persen.


Presiden Jokowi mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia dan pengaruh dinamika global.


“Harga minyak mentah Indonesia (ICP) diperkirakan akan berkisar pada $63 per barel. Lifting minyak dan gas bumi diperkirakan masing-masing mencapai 703.000 barel dan 1.036.000 barel setara minyak per hari,” tuturnya. [Democrazy/pjs]