WOW! Berhasil Rebut Afghanistan, Taliban Disebut Kuasai 'Harta Karun' Senilai Rp 43.163 Triliun | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Rabu, 18 Agustus 2021

WOW! Berhasil Rebut Afghanistan, Taliban Disebut Kuasai 'Harta Karun' Senilai Rp 43.163 Triliun

WOW! Berhasil Rebut Afghanistan, Taliban Disebut Kuasai 'Harta Karun' Senilai Rp 43.163 Triliun

WOW! Berhasil Rebut Afghanistan, Taliban Disebut Kuasai 'Harta Karun' Senilai Rp 43.163 Triliun

DEMOCRAZY.ID - Setidaknya sejak Minggu, 15 Agustus 2021 kemarin, kelompok Taliban berhasil mengambil alih Ibu Kota Afghanistan, Kabul.


Imbasnya, kelompok Taliban kini memegang kuasa penuh atas negara Afghanistan. 


Tak hanya kekuasaan politik, Taliban disebut-sebut juga kini menguasai sumber daya alam (SDA) yang jumlahnya fantastis.


Sumber daya alam Afghanistan yang kini berada dalam kekuasaan Taliban dinilai mencapai 3 triliun dolar Amerika atau setara Rp43.163 triliun (kurs Rp14.387).


Melansir media Afghanistan, Khamaa pada Rabu, 18 Agustus 2021, merujuk penyelidikan geologi yang dilakukan sepuluh tahun lalu di Amerika Serikat, diperkirakan nilai tambang dan ADA Afghanistan mencapai 1.000 miliar dolar atau setara Rp14.388 triliun.


Seperti diketahui, kelompok Taliban secara resmi mengumumkan pihaknya kini memegang kendali penuh atas Afghanistan.


Diberitakan Khamaa, juru bicara Taliban Zabiullah Mujahid telah muncul untuk pertama kalinya sejak dua puluh tahun dan mengumumkan bahwa perang di negara itu sudah berakhir.


Zabiullah Mujahid menyebut bahwa saat ini negosiasi sedang berlangsung guna pembentukan pemerintahan yang diterima oleh semua pihak.


“Kami ingin hubungan baik dengan negara lain dan meminta mereka untuk menghormati prinsip dan hukum agama kami. Seperti negara lain, kami juga memiliki hak untuk memiliki aturan dan hukum kami sendiri.” kata Mujahid dikutip Rabu, 18 Agustus 2021.


Selain itu, Mujahid juga mengatakan bahwa perempuan akan diberikan posisis dalam pemerintahan terutama untuk sektor-sektor penting seperti dokter, guru dan lainnya.


Sedangkan kata dia, media di Afghanistan akan tetap dibiarkan berfungsi dengan menekankan ketidakberpihakan atau independen.


Juru bicara itu menegaskan kembali bahwa ada amnesti umum untuk semua warga Afghanistan dan para pemimpin yang telah meninggalkan Afghanistan diminta untuk kembali ke negara itu dan bekerja bersama dengan Taliban. [Democrazy/tng]