Tanggapi Sri Mulyani Hobi Ngutang, Fraksi PPP: Asalkan Sumbernya dari Dalam Negeri Gak Masalah | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Rabu, 11 Agustus 2021

Tanggapi Sri Mulyani Hobi Ngutang, Fraksi PPP: Asalkan Sumbernya dari Dalam Negeri Gak Masalah

Tanggapi Sri Mulyani Hobi Ngutang, Fraksi PPP: Asalkan Sumbernya dari Dalam Negeri Gak Masalah

Tanggapi Sri Mulyani Hobi Ngutang, Fraksi PPP: Asalkan Sumbernya dari Dalam Negeri Gak Masalah

DEMOCRAZY.ID - Rencana utang baru pemerintah yang nilainya diproyeksi mencapai Rp 515,1 triliun pada semester II tahun ini tak dianggap sebagai satu masalah oleh fraksi PPP di DPR.


Meski berbeda dengan sejumlah politisi dan analisis ekonomi atau politik dalam menanggapi persoalan utang tersebut, Anggota Komisi XI DPR RI fraksi PPP, Amir Uskara, melihat rencana yang dipaparkan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati itu tidak sepenuhnya salah.


Karena menurutnya, tidak ada salahnya jika pemerintah mencari utang baru di masa pandemi Covid-19 yang membutuhkan pendanaan yang cukup besar.


Selain itu, Amir juga memandang perlu adanya bantalan anggaran untuk bisa menjaga momentum perbaikan ekonomi nasional, yang sudah terlihat dalam pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2021 yang mencapai 7,07 persen secara tahunan (year on year).


Dari pertumbuhan ekonomi kuartal II-2021 yang cukup besar itu, Amir melihat faktornya disebabkan adanya perayaan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, dan juga konsumsi masyarakat yang tertunda serta baru dibelanjakan sebelum PPKM Darurat berlangsung pada awal Juli lalu.


"Pada saat kuartal ke II, ekonomi bisa tumbuh tinggi karena mobilitas sempat meningkat akibat pelonggaran serta adanya momen lebaran," kata Amir dalam perbincangan, Rabu (11/8).


Lebih dari itu, legislator PPP ini memprediksi pada semester II nanti Sri Mulyani bakal merealisasi penambahan utang baru. 


Sebabnya, pemerintah pasti mengetahui situasi ke depan akan jauh berbeda seiring dilaksanakannya PPKM Level 4.


"Situasi ekonomi di semester II pasti berbeda dan lebih menantang dari periode sebelumnya. Mobilitas masyarakat terhambat oleh adanya kenaikan penularan varian delta Covid-19, dan pembatasan sosial yang ketat," ujarnya.


Karena hal tersebut, Amir memberikan catatan kepada Sri Mulyani agar bisa mengelola utang dengan baik. 


Salah satu caranya adalah dengan mencari uang yang bersumber dari dalam negeri.


"Catatannya pembiayaan pemerintah dalam bentuk utang sebisa mungkin dicari dari sumber dalam negeri untuk meredam volatilitas kurs rupiah," pungkasnya.


Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, utang baru pada semester II tahun 2021 diproyeksi mencapai Rp 515,1 triliun.


Dia mengklaim proyeksi utang baru tersebut lebih kecil dari jumlah utang dalam UU APBN tahun 2021. 


Outlook utang sepanjang tahun ini, kata dia, hanya mencapai Rp 958,1 triliun dari semula Rp 1.177,4 triliun.


"Prognosa kita untuk semester II hanya akan mencapai Rp 515,1 triliun. Ini hal yang bagus, berarti kita mengurangi kenaikan utang yang tadinya Rp 1.177 triliun menjadi Rp 958 triliun atau turun 18,6 persen," kata Sri Mulyani dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran (Banggar), Senin (12/7). [Democrazy/mpk]