Rocky Gerung: Kerjaan Istana Bukan Memantau Penderitaan Rakyat, Tapi Memantau Media Sosial! | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Jumat, 20 Agustus 2021

Rocky Gerung: Kerjaan Istana Bukan Memantau Penderitaan Rakyat, Tapi Memantau Media Sosial!

Rocky Gerung: Kerjaan Istana Bukan Memantau Penderitaan Rakyat, Tapi Memantau Media Sosial!

Rocky Gerung: Kerjaan Istana Bukan Memantau Penderitaan Rakyat, Tapi Memantau Media Sosial!

DEMOCRAZY.ID - Pengamat politik, Rocky Gerung kembali menyoroti situasi Indonesia saat ini yang masih dilanda pandemi Covid-19.


Menurut Rocky saat ini publik tengah kembali bimbang dengan kekuasaan.


“Jadi keadaan kita hari ini, bertumbuh kembali kebimbangan terhadap kekuasaan,” ujarnya dilansir melalui kanal Youtube Rocky Gerung Official, Jumat, 20 Agustus 2021.


Publik tengah bingung sebab tidak mengerti dengan keingingan pemerintah itu sendiri.


Ketika mereka mengatakan tidak tersinggung dengan kritikan, namun saat yang sama mereka pula yang memberangus pikiran kritis.


Menurut ahli filsuf satu ini, tindakan tersebut merupakan tindakan mendua dari pemerintahan.


“Jadi kita bimbang, ini kekuasaan ini sebetulnya mau nya apa tuh? Mengatakan tidak tersinggung dengan kritik tetapi memberangus pikiran kritis. Kan itu mendua tuh,” imbuhnya.


Selain itu, di istana kerap kaki terjadi perbedaan antara presiden dan bawahannya. Ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan siap mendengar kritik, bawahannya justru mengatakan itu melanggar hukum.


“Presiden menyatakan, ‘Kami selalu siap sedia menerima poin dari masyarakat,’ tapi nanti staff khusus bilang ‘Itu melanggar hukum,’. Ini soal-soalnya,” papar Rocky.


Hal inilah, sambung Rocky, yang membuat kebebasan menjadi ukuran utama dari kegagalan pemerintahan Jokowi.


“Semacam ini yang membuat freedom itu akhirnya menjadi ukuran utama dari kegagalan Presiden Jokowi,” tuturnya.


Serta jelas hal tersebut yang dicatat oleh lembaga nasional, terutama lembaga internasional.


“Dan itu yang dicatat oleh lembaga-lembaga indexing nasional dan internasional terutama,” tandasnya.


Rocky berpendapat, ketidakutuhan ucapan dengan kemauan pemerintah terkait kritikan, menyebabkan orang akhirnya protes melalui mural.


“Karena ketidakutuhan ucapan dengan kemauan, itu yang menyebabkan akhirnya orang memilih protes lewat mural,” kata dia.


Namun karena mural di tembok dilarang, maka akan diedarkan melalui media sosial.


“Dan jadi mural yang digital, yang gak mungkin ditulis lagi di tembok-tembok, maka ditulis di social media tuh,” sambungnya.


Sehingga kegiatan istana kata Rocky, akan memantau media sosial dan tidak lagi memantau penderitaan rakyat.


“Akibatnya seluruh kegiatan istana adalah memantau social media, sehingga dia tidak lagi memantau penderitaan rakyat. Dia takut pada wajahnya sendiri, akan beredar gak hari ini,” pungkasnya.


Sebelumnya, dalam Pidato Kenegaraan pada 16 Agustus 2021, beberapa hal yang sempat disinggung Jokowi antara lain mengenai penyampaian kritik masyarakat yang dianggapnya penting dan mengapresiasi yang turut aktif membantun budaya demokrasi tersebut.


Presiden juga menyatakan, pemerintah selalu menjawab kritikan dengan pemenuhan tanggung jawab sebagaimana yang diharapkan rakyat. [Democrazy/pkr]