Rocky Gerung Duga Ada Kepentingan 'Bisnis & Politik Dinasti' di Balik Wacana Pengunduran Pemilu 2024 | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Selasa, 17 Agustus 2021

Rocky Gerung Duga Ada Kepentingan 'Bisnis & Politik Dinasti' di Balik Wacana Pengunduran Pemilu 2024

Rocky Gerung Duga Ada Kepentingan 'Bisnis & Politik Dinasti' di Balik Wacana Pengunduran Pemilu 2024

Rocky Gerung Duga Ada Kepentingan 'Bisnis & Politik Dinasti' di Balik Wacana Pengunduran Pemilu 2024

DEMOCRAZY.ID - Pengamat politik Rocky Gerung menduga ada kepentingan bisnis dan politik dinasti di balik wacana pengunduran Pemilu 2024 yang beredar.


Rocky gerung menduga bahwa banyak pemain politik utama di negeri ini yang masih ingin menikmati keuntungan di balik pandemi Covid-19.


"Memang, dari awal kita tahu, semua pemain politik utama yang besar-besar ini ingin dapat keuntungan dari Covid. Oleh karena itu, akan diperpanjang seolah-olah Covid masih akan ada sampai tujuh tahun lagi," kata Rocky Gerung sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Rocky Gerung Official pada Selasa, 17 Agustus 2021.


Rocky Gerung menyayangkan sikap segelintir elit di dalam kekuasaan yang mencoba memanfaatkan angka kematian akibat Covid-19 untuk keuntungan mereka sendiri.


Bahkan, dia menduga bahwa penguasa seolah-olah sengaja memperpanjang Covid-19 agar punya alasan untuk tetap berkuasa meski masa jabatannya telah habis.


"Jadi bayangkan, bahwa kekuasaan itu berpikir memanfaatkan kematian orang. Dengan kata lain, akan disulap statistik bahwa Indonesia belum bisa lepas dari Covid atau sengaja diperpanjang Covid-nya, diundang biar masuk lagi tuh supaya ada alasan untuk melanggar konstitusi," ujarnya.


Rocky Gerung menyebut bahwa saat ini banyak elit politik yang mengabaikan etika dalam berpolitik bahkan di momen HUT RI ke-76.


Rocky Gerung juga mengatakan bahwa terdapat sebuah bahaya jika negara terus menerus dipimpin oleh segelintir orang yang tak mampu berpikir jernih namun justru memiliki ambisi kekuasaan berlebih.


"Kita menduga bahwa etika politik kita betul-betul hancur justru ketika kita merayakan 76 tahun, kita mengalami pembusukan di dalam moralitas politik. Ini bahayanya sebuah bangsa yang dikelola oleh ketidakmampuan berpikir dan ambisi kekuasaan yang berlebih," katanya.


Rocky Gerung kemudian mengungkapkan sebuah ironi pada Pilkada Serentak 2020 yang tetap dipaksakan untuk digelar tepat waktu meski kasus Covid-19 saat itu sedang melonjak, hanya karena ada putra dan menantu Presiden Jokowi yang maju dalam Pilkada Solo dan Medan.


Dia juga menduga bahwa wacana pengunduran Pemilu 2024 juga bertujuan untuk menjaga kepentingan politik dinasti dalam lingkungan keluarga Presiden Jokowi yang akan maju dalam Pilkada Serentak 2027.


"Iya kalo kemarin, kendati pandemi tapi Pilkada dipaksakan tahun lalu kan? Itu berarti menuju 2027 akan ada seseorang yang bakal punya menantu baru tuh, jadi tunggu nanti dia ada menantu baru, supaya nanti ada gubernur baru yang nanti akan dipilih di 2027, kira-kira begitu pikirannya kan?," ujar dia.


Rocky Gerung menduga ada sebuah upaya kecurangan di tingkat hulu ketika proses kaderisasi dari partai politik penguasa tidak berjalan dengan optimal.


Sehingga, mereka mencoba menempuh cara lain yakni dengan menciptakan regulasi yang menguntungkan mereka.


"Artinya ada permainan yang sangat curang dalam upaya untuk memanipulasi ketidakmampuan kaderisasi. Kan ini semua karena nggak ada kader, terus akan ditunggu sampai 2027 dengan alasan Covid segala macem, ngaconya di situ," tuturnya. [Democrazy/pkr]