Penghapusan Mural Dianggap 'Anti Kebebasan', Teddy Gusnaidi: Lah Menghapus Itu Kan Bagian Dari Kebebasan! | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Jumat, 20 Agustus 2021

Penghapusan Mural Dianggap 'Anti Kebebasan', Teddy Gusnaidi: Lah Menghapus Itu Kan Bagian Dari Kebebasan!

Penghapusan Mural Dianggap 'Anti Kebebasan', Teddy Gusnaidi: Lah Menghapus Itu Kan Bagian Dari Kebebasan!

Penhgapusan Mural Dianggap 'Anti Kebebasan', Teddy Gusnaidi: Lah Menghapus Itu Kan Bagian Dari Kebebasan!

DEMOCRAZY.ID - Pegiat media sosial, Teddy Gusnaidi menanggapi pihak yang marah terkait penghapusan mural mirip wajah Presiden Jokowi ‘404: NotFound’.


Seperti diketahui, aparat daerah Tangerang menghapus mural wajah mirip presiden Jokowi lantaran dinilai telah menghina Kepala Negara.


Melihat tindakan aparat yang menghapus mural tersebut, banyak pihak yang menilai bahwa aparat telah mematikan kebebasan berekspresi.


Herlambang P. Wiratman selaku pakar hukum sekaligus Dosen Fakultas Hukum Universitas Airlannga (Unair) menilai, aksi penghapusan mural merupakan salahsatu bentuk pembungkaman kritik.


Menurutnya, langkah aparat tersebut tak sejalan dengan aturan hukum yang berlaku.


“Sebenarnya kritik itu terhadap Presiden, bukan personal Jokowi. Presiden sebagai penyelenggara pemerintah. Kritik publik terhadap pejabat diperbolehkan dijamin dan dilindungi,” tegas Herlambang.


Atas banyaknya pihak yang marah dengan sikap aparat, Teddy menilai bahwa sebenarnya yang anti dengan kebebasan adalah pihak yang mengkritik.


Tanggapan itu dilontarkan Teddy melalui akun Twitternya @TeddyGusnaidi pada Kamis, 19 Agustus 2021.


“Mural menghina Jokowi dihapus, mereka ngamuk, katanya anti kebebasan. Loh? Sebenarnya yang anti kebebasan itu adalah pihak yang ngamuk,” ucapnya.


“Orang buat mural menghina boleh, lalu kenapa kalian melarang orang menghapus mural? Menghapus juga kan bagian dari kebebasan. Iya gak?”paparnya.


Seperti yang terlihat, beberapa netizen juga ikut memberikan komentar.


“Kebebasan kok menghapus mural. kebebasan ya,, balas juga dengan mural. Otaknya didengkul,” komentar Husain Fayz.


“Para pengkritik yang mendukung oposisi termasuk orang-orang bermasalah kejiwaan. Kritik pada pemerintah, tetapi yang diserang adalah pribadi Jokowi,” komentar @WillySurpiyono.


“Orang waras akan tahu dan bisa membedakan mengkritik dan penghinaan,” lanjutnya.


“Iya juga ya. Kalo gak mau disentil, iya jangan sentil gitu juga kok repot,” komentar @nonaaWang. [Democrazy/dtk]