Mengapa Babi Diciptakan Tapi Diharamkan Allah SWT? Begini Penjelasan Ustadz Abdul Somad | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Sabtu, 07 Agustus 2021

Mengapa Babi Diciptakan Tapi Diharamkan Allah SWT? Begini Penjelasan Ustadz Abdul Somad

Mengapa Babi Diciptakan Tapi Diharamkan Allah SWT? Begini Penjelasan Ustadz Abdul Somad

Mengapa Babi Diciptakan Tapi Diharamkan Allah SWT? Begini Penjelasan Ustadz Abdul Somad

DEMOCRAZY.ID - Ini penjelasan mengapa babi diciptakan tapi diharamkan Allah SWT. 


Seperti diketahui, Allah SWT tidak hanya mengharamkan daging babi namun segala hal atau bagian yang dihasilkan dari hewan babi. 


Lalu, mengapa Allah SWT menciptakan babi sementara hewan itu sendiri diharamkan?


Sesuatu yang diharamkan Allah SWT untuk hambanya pasti ada mudaratnya. 


Atau, bahkan mudaratnya lebih besar ketimbang manfaatnya, seperti hewan babi misalnya.


Larangan Allah SWT terkait mengonsumsi babi jelas tercatat dalam Alquran di beberapa surah di dalamnya. 


Salah satunya surah Al-Maidah ayat 3 yang artinya:


“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala,” (QS: Al-Maidah:3).


Bukan hanya daging yang merupakan bagian babi saja yang diharamkan, tetapi segala bagian yang dihasilkan dari hewan tersebut. Ini seperti kulit, minyak, tulang, darah, dan lainnya. 


Lantas, mengapa Allah SWT menciptakan babi tetapi diharamkan?


Dilansir dari Bincang Syariah pada 3 Mei 2018 lalu, seperti dilansir dari detikfood, Sabtu 7 Agustus 2021, sepatutnya manusia tidak harus mengetahui hikmah yang terkandung dari apa yang dilakukan Allah SWT. 


Kewajiban manusia hanyalah beriman kepada Allah SWT.


Sebab, Allah SWT yang mengetahui apa yang terbaik untuk ciptaannya. Jadi, cukuplah percaya jika ada suatu larangan dari Allah SWT, maka itu pasti mengandung mudarat atau bahaya bagi hambanya.


“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai,” (QS Al-Anbiya:23).


Namun, tujuan Allah SWT menciptakan babi bisa jadi sebagai bahan ujian untuk manusia. 


Jika, seseorang mampu menghindari mengonsumsi daging babi, maka ia lulus dalam ujian yang diberikan Allah SWT.


Seperti yang pernah dijelaskan Ustaz Abdul Somad. Dalam dakwahnya, ia mengumpamakan ujian dari Allah SWT seperti pertanyaan ujian pilihan ganda yang diberikan di sekolah.


“Kenapa dari empat pilihan itu, yang tidak tidak betul kenapa yang satu betul? Apakah guru itu bodoh? Tidak. Kenapa dibuatnya satu betul, tiga tidak betul? Itu sebagai ujian,” jelas Ustaz Abdul Somad kala itu.


Lebih lanjut, Ustaz Abdul Somad atau yang biasa disapa UAS ini mengatakan hal itu sama seperti pilihan anjing, babi, dan kambing. 


Sebagai umat Muslim, pasti memilih kambing untuk dikonsumsi.


Mengutip dari Bintang Syariah, diciptakannya babi itu dapat memberikan suatu pelajaran yang bisa dipetik, yaitu agar tidak menjadi seperti babi. 


Hewan babi dicirikan dengan hidupnya yang malas dan rakus.


Selain itu, babi juga merupakan hewan yang jorok karena babi memakan kotorannya sendiri. 


Bahkan, makanan yang dimakan babi pun terkadang dikencingi babi itu sendiri.


Selain itu, menurut UAS, rakusnya babi dapat dilihat dari sikapnya yang sering memuntahkan makanannya dari perutnya, lalu itu dimakan lagi. 


Dengan adanya babi, bisa mengingatkan manusia untuk tidak malas, hidup lebih bersih, dan tidak rakus.


Sebagaimana Allah SWT pernah menggunakan babi sebagai perumpamaan kaum terdahulu yang dikutuk karena buruk perbuatannya. 


Hal itu dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 60:


“Apakah akan Aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, Yaitu orang-orang yang dikutuk dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut? Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus,” (QA Al-Maidah:60). [Democrazy/spt]