Jokowi Tak Bahas Korupsi di Sidang Tahunan MPR Sebab Partainya 'Paling Korup' di Indonesia | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Selasa, 17 Agustus 2021

Jokowi Tak Bahas Korupsi di Sidang Tahunan MPR Sebab Partainya 'Paling Korup' di Indonesia

Jokowi Tak Bahas Korupsi di Sidang Tahunan MPR Sebab Partainya 'Paling Korup' di Indonesia

Jokowi Tak Bahas Korupsi di Sidang Tahunan MPR Sebab Partainya 'Paling Korup' di Indonesia

DEMOCRAZY.ID - Pidato yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Sidang Tahunan MPR RI tahun 2021 pada Senin, 16 Agustus 2021 menarik perhatian Wakil Sekretaris Jenderal DPP PA 212, Novel Bamukmin.


Novel menyanyangkan pidato tersebut karena Jokowi tidak menyinggung mengenai HAM masa lalu dan antikorupsi.


Dia menduga Jokowi tidak menyinggung hal itu karena sebenarnya hendak menutupi bobroknya rezim saat ini.


“Saya sudah duga Jokowi tidak singgung HAM dan korupsi karena itu borok rezim ini yang harus ditutupi,” ujarnya kepada wartawan, Selasa, 17 Agustus 2021.


Bagi Novel, pelanggaran HAM di negeri ini begitu merebak, sehingga tidak mungkin Jokowi akan membahas hal tersebut dalam pidato tahunan.


“Karena kalau dibahas maka jelas Jokowi bisa saja diduga melakukam hoax lagi karena fakta pelanggaran HAM berat tidak bisa terbantahkan yang akan menjerat para petinggi di kepolisian karena rekayasa yang diduga mereka buat,” paparnya.


Sama halnya dengan korupsi, tentu Jokowi tidak akan menyinggung apalagi membahasnya dalam pidato tahunan MPR.


Sebab, sambung Novel, partai yang menaunginya saat ini merupakan partai korupsi nomor satu di Indonesia.


“Sedang masalah korupsi jelas Jokowi tak akan berani singgung karena akan menggali kuburannya sendiri karena partainya adalah partai terkorupsi nomor 1 di Indonesia,” ungkapnya.


Sebagaimana diketahui, dalam kesempatan kali itu, Jokowi berpidato tentang krisis, resesi, dan pandemi.


Presiden mengibaratkan krisis, resesi, dan pandemi seperti api. Ia mengatakan api memang membakar tetapi juga menerangi.


"Krisis, resesi, dan pandemi itu seperti api. Kalau bisa, kita hindari. Tetapi, jika hal itu tetap terjadi, banyak hal yang bisa kita pelajari. Api memang membakar, tetapi juga sekaligus menerangi. Kalau terkendali, dia menginspirasi dan memotivasi," paparnya.


Ia meminta agar masyarakat tetap mawas diri, memperbaiki diri, juga menguatkam diri dalam menghadapi masa depan.


"Dia menyakitkan, tetapi sekaligus juga menguatkan. Kita ingin pandemi ini menerangi kita untuk mawas diri, memperbaiki diri, dan menguatkan diri, dalam menghadapi tantangan masa depan," katanya.


Presiden juga menyebut pandemi seperti kawah candradimuka yang menguji, mengajarkan dan mengasah.


Pandemi, jelas Jokowi, memberikan beban yang berat, beban yang penuh risiko dan memaksa bangsa ini menghadapi dan mengelolanya. [Democrazy/kmp]