AHY: Sekarang Ada Profesi Baru Bernama Buzzer, Kerjaannya Tebar Fitnah! | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Senin, 23 Agustus 2021

AHY: Sekarang Ada Profesi Baru Bernama Buzzer, Kerjaannya Tebar Fitnah!

AHY: Sekarang Ada Profesi Baru Bernama Buzzer, Kerjaannya Tebar Fitnah!

AHY: Sekarang Ada Profesi Baru Bernama Buzzer, Kerjaannya Tebar Fitnah!

DEMOCRAZY.ID - Siang ini giliran Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan pidato politik di peringatan 50 tahun CSIS. Berbagai persoalan disoroti AHY.


Salah satunya, AHY menyoroti tumbuh suburnya buzzer di era Demokrasi. Bahkan, AHY menyebut buzzer sebagai profesi baru.


"Kenyatannya justru sekarang ada profesi baru yaitu pasukan buzzer yang memang pekerjaannya adalah memproduksi dan menyebar fitnah dan kebohongan. Termasuk menghabisi karakter seseorang atau suatu kelompok yang dianggap berbeda sikap dan pandangan dalam situasi seperti ini," kata AHY, Senin (23/8). 


Oleh karena itu, menurut AHY, kehadiran pers yang independen dan kredibel sangat dinantikan untuk menjadi referensi objektif bagi masyarakat di tengah-tengah tsunami informasi dan disinformasi di dunia maya.


AHY: Sekarang Ada Profesi Baru Bernama Buzzer, Kerjaannya Tebar Fitnah!

"Demokrasi seharusnya jadi driving force dalam pembangunan dan kemajuan bangsa sebaliknya bisa buat mundur ke belakang jika demokrasi dijalankan secara serampangan, apalagi jauh dari nilai-nilai kebenaran keadilan dan kemanusiaan," papar putra sulung Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini. 


Selain itu, dalam penggalan pidatonya, AHY juga menyinggung soal politik identitas. 


Menurut AHY, ada sejumlah kalangan yang menilai bahwa eksploitasi politik identitas merupakan strategi yang paling efektif dan efisien dalam memenangkan dukungan elektoral.


"Dengan cara menyentuh sentimen primordial atau identitas tertentu misal agama suku ras atau etnis, ini sangat berbahaya dalam jangka pendek politik. Identitas bisa saja membawa kemenangan politik bagi seorang kandidat atau parpol tetapi dalam jangka panjang kerusakan dan perpecahan akan terjadi," urai AHY. 


"Harganya terlalu tinggi, kebhinekaan adalah kekuatan sebaliknya bisa menjadi sumber perpecahan bangsa jika kita tidak merawatnya dengan baik. Jangan pula bentur-benturkan Pancasila dengan agama. Semua agama mengajarkan kebaikan dan kemuliaan artinya nilai-nilai agama compatible dengan nilai-nilai pancasila," tandas AHY.


Sebelum AHY, sejumlah ketua umum parpol juga telah menyampaikan pidato politiknya di 50 Tahun CSIS, antara lain: Ketum Gerindra Prabowo Subianto, Ketum NasDem Surya Paloh, Ketum PKB Muhaimin Iskandar, Ketum Golkar Airlangga Hartarto dan sebagainya. [Democrazy/kpr]