Sadis! Cuma Gegara Telepon, Kim Jong Un Tega Tembak Mati 10 Rakyatnya, Kenapa? | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Sabtu, 26 Juni 2021

Sadis! Cuma Gegara Telepon, Kim Jong Un Tega Tembak Mati 10 Rakyatnya, Kenapa?

Sadis! Cuma Gegara Telepon, Kim Jong Un Tega Tembak Mati 10 Rakyatnya, Kenapa?

Sadis-Cuma-Gegara-Telepon-Kim-Jong-Un-Tega-Tembak-Mati-10-Rakyatnya-Kenapa

DEMOCRAZY.ID - Kabar mengejutkan yang cukup sadis kembali datang dari Korut alias Korea Utara belum lama ini.


Bagaimana tidak? Di bawah perintahnya, Kim Jong Un diinformasikan menembak mati 10 orang rakyatnya di muka umum karena melanggar peraturan yang berkaitan dengan telepon.


Kesepuluh orang itu dieksekusi mati setelah mereka diam-diam menggunakan telepon seluler untuk melakukan panggilan internasional.


Seperti diketahui, rezim Kim Jong Un, sang pemimpin tertinggi Korea Utara, memang melarang rakyatnya mengakses jaringan telepon di Cina dan menggunakannya untuk menelepon pembelot atau mencari tahu dunia luar.


Bahkan dalam pemberitaan sebelumnya, dikatakan bahwa setidaknya ada 150 orang yang ditahan setelah polisi rahasia melancarkan operasi penindakan pada Maret lalu.


Sumber di Korea Utara kemudian mengungkapkan beberapa orang yang ditangkap itu ditembak mati di depan umum.


Klaim tersebut dilaporkan Daily NK Japan di mana kejadian dikabarkan berada di Provinsi Ryanggang yang berbatasan dengan Cina.


Pihak berwenang setempat menangkap makelar yang mengatur transfer uang maupun panggilan internasional.


Kepolisian setempat juga membekuk orang-orang yang ketahuan menyelundupkan barang di perbatasan dan berhubungan dengan pembelot di Korea Selatan.


Sebagai informasi, warga Korea Utara sangat bergantung kepada ponsel dan kartu selundupan untuk meminta tolong ke dunia luar.


Sumber lain menuturkan, penangkapan semakin tinggi sejak akhir Mei di saat negara dilanda krisis pangan dan harga kebutuhan yang makin meroket.


Sebanyak 150 di antaranya ditahan di empat provinsi berbeda dan dikirimkan ke pusat indoktrinasi sebagai hukuman.


“Pusat penahanan tersebut penuh orang seperti kawanan kelinci. Beberapa terpaksa duduk di toilet,” terang seorang sumber, dikutip dari Daily Mirror pada Sabtu, 26 Juni 2021.


Sumber Pyongyang menjelaskan, penindakan masih akan terus berlangsung selama beberapa bulan dengan pengawasan di perbatasan yang diperketat.


Bahkan otoritas negara penganut paham Juche itu sampai mendirikan tembok tebal dan pagar listrik untuk mencegah penyelundupan. [Democrazy/trk]