Larangan Ziarah Tuai Kritikan, Bamus Betawi: Semuanya Sudah Dipikirkan, Pak Anies Sayang Rakyatnya | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Sabtu, 15 Mei 2021

Larangan Ziarah Tuai Kritikan, Bamus Betawi: Semuanya Sudah Dipikirkan, Pak Anies Sayang Rakyatnya

Larangan Ziarah Tuai Kritikan, Bamus Betawi: Semuanya Sudah Dipikirkan, Pak Anies Sayang Rakyatnya

Larangan-Ziarah-Tuai-Kritikan-Bamus-Betawi-Semuanya-Sudah-Dipikirkan-Pak-Anies-Sayang-Rakyatnya

DEMOCRAZY.ID - Kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan soal larangan ziarah kubur selama libur Lebaran menuai kritik. 

Ketua Majelis Adat Bamus Betawi Nuri Thaher menyebut Anies Baswedan justru peduli warga Jakarta dengan mengeluarkan kebijakan larangan ziarah kubur selama libur Lebaran.


"Pak Anies sangat memahami itu (ziarah kubur), karena beliau sekolahnya sudah keliling dunia dan agamanya setahu saya pun bagus. Kalau dinyatakan tidak memahami (budaya Betawi), yang tidak memahami itu rupanya yang menganalisis. Karena apa? Karena COVID ini sudah merajarela, COVID ini bukan berturun, bertambah, apalagi dengan Lebaran," kata Nuri, Sabtu (15/5/2021).


Nuri menjelaskan pemerintah pusat dan pemerintah daerah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk membatasi aktivitas warga agar aman dari COVID-19. 


Lagi pula, menurut Nuri, ziarah kubur bisa dilakukan di luar libur Lebaran.


"Kalau di makam kan luar biasa kita, satu makam itu bisa 5-10 orang. Nah, itu kumpul. Kita menjaga jarak, 3M, itu kurang, namanya orang ziarah kan. Itu sudah dipikirkan," ujar Nuri.


"Jadi secara bulat oleh tim itu memutuskan dilarang saja dulu. Kan ziarah kubur kapan saja kita bisa. Jadi bukan dilarang," tambahnya.


Anies, menurut Nuri, justru sayang kepada rakyat Jakarta dengan mengeluarkan kebijakan larangan ziarah kubur selama libur Lebaran. 


Jika Anies tak melarang berkerumun, justru Nuri menilai Anies tak peduli pada warga Jakarta.


"Dia (Anies) sayang sama masyarakatnya. Pak Anies sayang sama masyarakatnya, sama rakyatnya dia sayang. Kalau dia nggak sayang, dia nggak peduli itu. Itu intinya menurut saya," ucapnya.


Bagi Nuri, kritik terhadap kebijakan Anies adalah hal lumrah. 


Nuri memahami kebijakan Anies yang melarang ziarah kubur karena kondisi darurat pandemi saat ini.


"Itu wajarlah namanya kritik. Kecuali wajib itu, ini pun sunah tidak. Yang namanya ziarah itu memang adat kita, budaya kita, tapi bisa diubah dengan keadaan darurat. Nah, ini darurat, kalau dilepas bisa belasan ribu lagi," imbuhnya.


Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta Syamsul Ma'arif sebelumnya menilai Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tak paham soal ziarah kubur, yang merupakan bagian dari budaya Betawi. 


Syamsul Ma'arif awalnya menjelaskan sebaiknya pelaksanaan ziarah kubur diatur agar aman dari COVID-19.


"Saya sudah berpendapat bahwa akan lebih baik diatur daripada dilarang. Diatur secara baik, jauh-jauh hari diimbau, misalnya orang ziarah itu dibatasi satu mobil satu keluarga, satu-dua orang cukup, dipantau secara baik, daripada larangan," kata Syamsul Ma'arif kepada wartawan, Kamis (13/5).


Menurut Syamsul, ada yang tak konsisten dari keputusan Pemprov DKI Jakarta, semisal tempat hiburan dan wisata dibuka selama libur Lebaran, sementara ziarah kubur dilarang. 


Ini yang menurut Syamsul cenderung membuat warga melawan.


"Tapi kuburan dilarang. Nah, mestinya diatur saja dengan ketat, di sana ada Satpol PP, dibatasi waktu tidak boleh lebih dari 10 menit, misalnya, satu kuburan itu hanya dua orang, nggak ada kerumunan, kalau dari jauh-jauh hari. Ini kan orang cenderung melawan kalau dilarang begitu," tambahnya.


Oleh sebab itu, menurut Syamsul, Anies Baswedan selaku pejabat tertinggi di DKI Jakarta tak paham soal budaya Betawi. 


Menurut Syamsul, ziarah kubur merupakan bagian dari budaya Betawi yang dilakukan sekali dalam setahun.


"Gubernur tidak paham budaya Betawi. Budaya Betawi itu memang ziarah kubur setahun sekali. Saya setuju dilarang sebetulnya, tetapi, dilihat dari kultur dong, Gubernur tidak menjadikan kultur Betawi," imbuhnya. [Democrazy/dtk]