Konflik Israel-Palestina Mereda Tapi Tidak di Indonesia, Rocky Gerung: Sebetulnya Ini Salah Pemerintah Kita! | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Minggu, 23 Mei 2021

Konflik Israel-Palestina Mereda Tapi Tidak di Indonesia, Rocky Gerung: Sebetulnya Ini Salah Pemerintah Kita!

Konflik Israel-Palestina Mereda Tapi Tidak di Indonesia, Rocky Gerung: Sebetulnya Ini Salah Pemerintah Kita!

Konflik-Israel-Palestina-Mereda-Tapi-Tidak-di-Indonesia-Rocky-Gerung-Sebetulnya-Ini-Salah-Pemerintah-Kita

DEMOCRAZY.ID - Konflik Israel-Palestina mulai mereda berkat kesepakatan gencatan senjata di antara kedua belah pihak.

Meski demikian di Tanah Air konflik dua negara Timur Tengah itu masih ramai diperbincangkan.


Bahkan ada “kubu berseberangan” dengan istilahnya masing-masing.


Fakta ini membuat  pengamat politik memprediksi konflik bisa saja berhenti, namun topik Israel-Palestina tak akan hilang begitu saja.


Salah satunya  Rocky Gerung yang menilai media sosial di Indonesia saat ini dipenuhi ujaran kebencian.


“Media sosial kita itu dimeriahkan oleh kebencian sebetulnya. Jadi gak ada lagi analisa rasional yang betul-betul basisnya adalah sejarah dan pengetahuan geopolitik tentang krisis Palestina tuh,” ujarnya dalam tayangan Youtube Rocky Gerung Official, Minggu (23 Mei 2021).


Rocky menilai banyak yang paham masalah namun tertutup pikirannya karena hiruk-pikuk berbasis politik identitas.


“Jadi banyak orang yang paham tapi tertutup pikiran mereka karena hiruk-pikuk yang basisnya adalah politik identitas. Betul ada politik identitas di Palestina, tapi kalau kita mau melakukan penyelesaian soal Palestina, kita musti masuk di dalam tema hukum internasional,” katanya.


Rocky berpendapat persoalan ini salah satunya karena sikap pemerintah yang sejak awal mendua.


“Sebetulnya ini salah pemerintah, karena dari awal sikap pemerintah itu mendua tuh. Kalau pemerintah affirmative action, menyatakan bahwa Palestina itu adalah soal perintah konstitusi kita tuh,” pungkasnya.


Pemerintah, kata Rocky, bisa meminta tolong pada tokoh yang paham agar mengutamakan pendekatan psikologi politik bukan agama.


“Maka seluruh talkshow diarahkan ke situ, pemerintah bisa minta tolong tokoh-tokoh yang paham supaya lebih mengutamakan pendekatan psikologi politik daripada psikologi agama,” jelasnya.


Namun karena pemerintah “gagap”, kata Rocky, maka hiruk-pikuk inilah akibatnya.


“Tapi karena pemerintah juga gagap dalam membuat proposal, ya akibatnya begini yang terjadi, lebih beringas sebetulnya penonton daripada pemain gitu. Kalau keadaan semacam ini berlanjut, kita kehilangan perspektif akademisnya tuh,” imbuhnya.


Rocky memaparkan, publik bisa marah atas konflik yang terjadi namun kemarahan ini harus dituntun ke arah perdamaian.


“Kita tau bahwa kita marah, karena Israel menyerang Palestina. Tapi kemarahan itu musti dituntun menuju perdamaian. Kalau gak nanti mata ganti mata, gigi ganti gigi, lalu punah. Bangsa Palestina punah, Israel gak punya lawan lagi,” terangnya.


Rocky menegaskan, publik harus membiasakan diri melihat konflik secara objektif.


“Padahal Israel itu hidup kalau dia ada lawan politik. Jadi sebetulnya kita musti membiasakan melihat konflik itu,” tandasnya. [Democrazy/gmd]