Bantah Polisi! Cerita Mahasiswa Ikut Aksi May Day: Kami Ditangkap & Dipukuli! | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Senin, 03 Mei 2021

Bantah Polisi! Cerita Mahasiswa Ikut Aksi May Day: Kami Ditangkap & Dipukuli!

Bantah Polisi! Cerita Mahasiswa Ikut Aksi May Day: Kami Ditangkap & Dipukuli!

Bantah-Polisi-Cerita-Mahasiswa-Ikut-Aksi-May-Day-Kami-Ditangkap-dan-Dipukuli

DEMOCRAZY.ID - Salah satu perwakilan mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Leon, menyampaikan kesaksiannya saat ditangkap aparat kepolisian lantaran mengikuti aksi Hari Buruh Internasional di kawasan Patung Arjuna Wiwaha atau Patung Kuda, Jakarta Pusat, Sabtu (1/5).

Leon mengaku diancam polisi padahal aksi berjalan damai. Ia juga mengatakan banyak mahasiswa yang diintimidasi, dipukuli hingga dibiarkan berdesakkan dan sesak napas di dalam mobil polisi.


Mulanya, kata dia, mahasiswa dan pelajar saat itu ingin turut berpartisipasi dalam aksi buruh. 


Ia mengatakan mahasiswa dan pelajar tergabung dalam Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak).


"Oknum kepolisian [saat itu] sampaikan, 'Ini hari buruh. Dan kalian mahasiswa. Maka kalian tidak bisa ikuti aksi'," cerita Leon dikutip dari siaran langsung Youtube LBH Jakarta, Minggu (2/5).


"Kami tanya, 'Sebutkan pasal di peraturan yang menyebut mahasiswa, pelajar, pemuda tidak boleh ikut aksi buruh'. Mereka tidak bisa jawab," sambung dia.


Kemudian, Leon mengatakan aparat kepolisian mempermasalahkan surat pemberitahuan aksi. 


Mahasiswa memberikan bukti tanda terima surat pemberitahuan yang sudah diberikan tanda stempel dari Polda Metro Jaya.


Setelah itu aparat kepolisian, kata dia, kembali mempermasalahkan perkara protokol kesehatan sebagai alasan menahan mahasiswa dan pelajar mengikuti aksi. 


Leon mengatakan mahasiswa akan merentangkan tangan untuk menjaga jarak.


Tapi, ia mengatakan polisi tidak menggubris. Alih-alih memberikan ruang agar mahasiswa bisa menjaga jarak, aparat justru makin menekan ruang gerak mahasiswa sehingga mereka terkepung.


"Kemudian polisi mengancam. Salah satu polisi bilang, 'Kalian mau pulang sekarang apa kami dipulangkan secara paksa?'. Saya sampaikan, 'Kenapa, Pak? Kami tergabung dalam massa Gebrak. Kenapa Bapak sampaikan begitu'," cerita Leon.


Menurut kesaksiannya, polisi malah kembali mengulang ancaman akan memulangkan mahasiswa secara paksa. 


Leon pun meminta waktu agar bisa berdiskusi dengan massa aksi buruh terkait hal tersebut. Namun aparat tidak mengizinkan.


"Saya bilang, 'saya enggak bisa putuskan. Saya butuh diskusi.' Dia (polisi) bilang, 'oh, berarti kamu mau dipulangkan secara paksa. Kamu tanggung apa yang terjadi untuk semua'. Ini kan lucu, polisi bisa ancam begitu ke massa aksi damai," lanjutnya.


Akhirnya, Leon mengalah. Ia mengatakan kepada polisi bahwa massa mahasiswa dan pelajar akan mundur, tapi mereka hendak melakukan salat asar dulu. Polisi saat itu sepakat.


Namun, selepas melakukan salat Asar. Leon bercerita aparat justru memprovokasi massa dan memaksa mahasiswa masuk ke mobil polisi untuk ditangkap.


"Selesai salat tiba-tiba polisi memaksa, bilang 'Kalian semua naik mobil!'. Saya sampaikan, 'Pak, kita sudah sepakat jalan [balik] dengan damai," katanya.


"Tidak bisa kalian harus naik mobil, kalian telat'. Padahal itu selesai salat seperti perjanjian awal," ungkapnya.


Ketika polisi meringkus paksa mahasiswa, Leon mengatakan terjadi tarik-tarikan antara mahasiswa dan polisi. 


Ada beberapa mahasiswa yang terinjak, terluka dan berdarah, dicekik.


Leo pun mengaku punya bukti berupa video aksi aparat memukul kepala mahasiswa dengan pengeras suara. 


Hal ini menurutnya aneh, karena mahasiswa melakukan aksi secara damai dan sudah mengalah ketika diancam.


Ketika berada di dalam mobil polisi, Leon bercerita mereka dikumpulkan dan dibiarkan berdesak-desakan tanpa menjaga jarak. Mahasiswa sampai harus berteriak meminta tolong karena sesak napas.


"Di mobil saya sampaikan berkali-kali kepada polisi, tolong berangkat Pak. Ini sudah penuh sesak. Teman-teman pakai masker enggak bisa napas, enggak digubris. Dimasukkan lagi massa," tutur Leon.


Joe, salah satu perwakilan buruh dari Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) mengaku melihat langsung aksi aparat menangkap mahasiswa. 


Saat salah satu buruh inisiatif membantu, ia mengatakan buruh itu justru ditarik paksa oleh aparat.


Lantas, Joe berupaya membantu menarik rekannya yang dibawa polisi. 


Namun dia justru turut dibawa aparat dan menerima tindakan represif.


"Saya [dan] tiga orang [buruh lain] diciduk. Leher saya dipiting, sampai terasa lecet-lecet. Sampai sekarang sakit di leher karena cekikikannya terlalu kencang. Pundak saya terasa pukulan," cerita dia.


Setelah itu, Joe mengaku dibawa ke dalam area Monumen Nasional (Monas) bersama tiga orang buruh lainnya. 


Di situ ia melihat banyak mahasiswa yang dikumpulkan dengan keadaan telanjang dada. Ia pun diinterogasi oleh aparat.


Klaim Polisi Dibantah Buruh


Sebelumnya, Yusri mengatakan mahasiswa diamankan saat Hari Buruh Internasional karena mereka bukan buruh atau pekerja. Ia mengatakan langkah itu hanya langkah preventif.


"Saya enggak bilang mahasiswa mau jahat, tapi sama polisi dipisahkan. Itu pun permintaan dari orang buruh," tutur Yusri kemarin.


Kesaksian ini berbeda dengan yang disampaikan Ketua Umum KASBI Nining Elitos. 


Ia mengaku justru sudah berulang kali bernegosiasi dengan pimpinan kepolisian agar menghentikan penangkapan dan pemukulan terhadap aparat kepolisian.


Saat itu, Nining mengatakan aparat meminta massa buruh bergerak maju ke titik akhir aksi. 


Namun buruh tidak mau bergerak karena melihat mahasiswa di barisan belakang terpisah dan situasi terlihat tidak kondusif.


"Akhirnya saya temui petinggi Badan Intelkam, 'Bang, tolong instruksikan ke pihak kepolisian jangan lakukan represifitas dan penangkapan. Ini aksi damai, kita jamin gerakan buruh dan rakyat menjaga protokol kesehatan'. Katanya, 'Oke kita komunikasikan'," cerita Nining.


Namun ia melihat upaya represi dan penangkapan terhadap mahasiswa masih dilakukan aparat di barisan belakang.


Nining pun berulang kali bernegosiasi dengan aparat untuk berhenti menangkapi mahasiswa. 


Ia bahkan menyerukan hal itu di atas mobil protokol.


Ia mengatakan aparat terus menjawab akan mengoordinasikan hal tersebut. 


Namun kenyataannya, sambung dia, upaya represi dan penangkapan tidak dihentikan.


Setidaknya seratusan orang dilaporkan ditangkap saat aksi buruh. 


Mereka yang ditangkap terdiri dari mahasiswa yang mengikuti atau hendak mengikuti aksi dan anarko. [Democrazy/cn]