Soroti Dugaan Pemerintah Terobsesi Teroriskan FPI, Refly Harun: Gawat! | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Kamis, 01 April 2021

Soroti Dugaan Pemerintah Terobsesi Teroriskan FPI, Refly Harun: Gawat!

Soroti Dugaan Pemerintah Terobsesi Teroriskan FPI, Refly Harun: Gawat!

Soroti-Dugaan-Pemerintah-Terobsesi-Teroriskan-FPI-Refly-Harun-Gawat

DEMOCRAZY.ID - Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun menyoroti adanya dugaan pemerintah terobsesi mengaitkan ormas terlarang Front Pembela Islam (FPI) dengan serangkaian aksi terorisme di Indonesia.

Hal itu disampaikan oleh Refly melalui kanal YouTube miliknya Refly Harun bertajuk 'Obsesi Pemerintah Teroriskan FPI!' yang diunggah pada Rabu (31/3/2021).


Dalam video tersebut, Refly membacakan salah satu artikel yang mewartakan pakar terorisme Sidney Jones yang menduga pemerintah ingin FPI dengan aksi terorisme.


"Wah, gawat kalau pemerintah menginginkan mengecap suatu kelompok sebagai teroris sehingga memiliki legitimasi untuk melakukan apapun terhadap kelompok tersebut," kata Refly, Kamis (1/4/2021).


Refly menjelaskan, masyarakat harus memahami konteks pernyataan Sidney tersebut.


FPI pernah terlibat dalam kegiatan baiat ISIS di Sulawesi Selatan pada 2015 silam. Namun, muncul dugaan ada ketidaktahuan terhadap apa itu ISIS.


"Itu konteksnya sepertinya ketidaktahuan mereka terhadap apa itu ISIS. Jadi, mungkin mereka pikir ISIS mau memperjuangkan daulat islamiah tapi belakangan jadi kelompok terorisme," ungkap Refly.


Selain itu, jika memang benar FPI terafiliasi dengan terorisme, Refly meminta agar pemerintah menyampaikan hasil penelusurannya secara terbuka di hadapan publik.


Namun, ia meminta agar pemerintah tak membuat-buat skenario seolah-olah FPI berkaitan dengan terorisme.


"Jangan sampai kemudian keterlibatan itu adalah keterlibatan yang dibuat-buat," tuturnya.


Menurut Refly, jika ada satu atau dua anggota FPI terbukti berkaitan dengan FPI maka pemerintah tak bisa mengelompokkan FPI sebagai kelompok terorisme.


Sebab, perbuatan masing-masing anggota menjadi tanggungjawab masing-masing dan tidak semuanya mewakili sikap organisasi tertentu.


"Kalau asli tidak cukup alasan untuk mengkeranjangkan semua organisasi, semua kejahatan adalah individual responsibility," tuturnya.


Refly juga berharap kemunculan isu kaitan FPI dengan aksi terorisme tersebut tak menghilangkan isu penting lainnya seperti tewasnya enam anggota laskar FPI hingga kasus penahanan Rizieq Shihab. [Democrazy/sra]