Soal Stigma Radikal dan Hilangnya Jejak Sejarah, Rocky Gerung: Islam Seolah Hendak Disingkirkan oleh Jokowi! | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Selasa, 20 April 2021

Soal Stigma Radikal dan Hilangnya Jejak Sejarah, Rocky Gerung: Islam Seolah Hendak Disingkirkan oleh Jokowi!

Soal Stigma Radikal dan Hilangnya Jejak Sejarah, Rocky Gerung: Islam Seolah Hendak Disingkirkan oleh Jokowi!

Soal-Stigma-Radikal-dan-Hilangnya-Jejak-Sejarah-Rocky-Gerung-Islam-Seolah-Hendak-Disingkirkan-oleh-Jokowi

DEMOCRAZY.ID - Rocky Gerung menilai bahwa dalam dua periode kepemimpinan Presiden Joko Widodo, Islam seolah hendak disingkirkan. 

Salah satu indikasinya yaitu dengan berkembangnya narasi dan stigma radikal kepada banyak umat Islam.


Pandangan Rocky Gerung ini dapat dilihat dalam video YouTube berjudul 'Kemendikbud Cari Gara-Gara Lagi. 


Nama Pendiri NU Hilang dari Kamus Sejarah' yang tayang di Rocky Gerung Official pada Selasa, 20 April 2021.


Sesuai judulnya, awalnya Hersubeno Arief dan Rocky Gerung mendiskusikan soal hilangnya nama KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdatul Ulama (NU) dari kamus sejarah.


Rocky Gerung menilai bahwa hilangnya jejak sejarah dalm suatu negara merupakan suatu hal yang fatal sebab sejarah adalah hal yang mengikat keutuhan bangsa.


Rocky mencontohkan bahwa masalah di Papua saat ini adalah dampak dari ketidakmampuan kita mengakrabkan diri melalui sejarah dan hanya berfokus menguras kekayaan alam di sana.


Menanggapi itu, Hersubeno Arief lalu mengaitkan dengan bagaimana saat ini stigma radikal begitu gampang diberikan kepada umat Islam.


Menurutnya, jika masyarakat memahami sejarah, maka hal itu tidak seharusnya terjadi. Sebab, sejarah menunjukkan bahwa tokoh-tokoh Islam adalah orang-orang yang menghargai kemajemukan beragama.


"Dan walaupun pada waktu itu pemimpin umat Islam itu sudah mayoritas, tapi mereka mengalah dengan menghilangkan, kalau dalam piagam Jakarta, yah 7 kata itu yang 'menjalankan syariat-syariat bagi pemeluk agama Islam.' Itu dihilangkan karena kesadaran semacam itu bahwa bangsa kita ini ber-bhineka. Nah saya kira hal-hal semacam ini, kalau mereka menyadari, kalau mereka tahu sejarah, mereka tidak akan muncul stigma bahwa umat Islam itu radikal seperti sekarang ini," ujar Hersubeno.


Rocky pun setuju dengan pendapat itu dan menjelaskan lebih lanjut bahwa Presiden Jokowi seolah-olah ingin menyingkirkan Islam selama kepimimpinanya.


"Ya, saya kira itu sebetulnya konteks hari ini mengapa umat Islam merasa tersinggung atau NU apalagi marah, tuh. Karena dalam konteks 2 periode Pak Jokowi, itu seolah-olah hendak menyingkirkan Islam," kata Rocky.


"Maka tersambung akhirnya, dianggap bahwa loh kalau begitu Islam memang mau dihilangkan dari jejak sejarah, tuh. Padahal, kemajemukan bangsa ini justru ditentukan adanya muslim, adanya Islam. Kan itu intinya, kan. Dan di dalam Islam juga ada varian-variannya dan itulah yang membuat kita merasa bahwa itulah jejak bangsa ini," sambungnya.


Rocky mencontohkan bagaimana sosok Imam Bonjol yang kontroversial dari sisi tafsir sejarahnya, namun pada akhirnya tetap dapat dipelajari bahwa sosoknya pernah menghasilkan duel pikiran di kalangan umat Islam.


"Dan itu adalah bagian yang kita pelajari, kita nggak pelajari tentang isi teologinya, kita pelajari isi pikiran sosiologinya. Jadi, bagian muamalat dari ajaran Islam itu yang harusnya menghasilkan pikiran-pikiran majemuk tuh," kata Rocky.


Ia lantas mengaitkan semua hal ini dengan cara Istana memandang Islam dan juga sejarah dalam mengambil sikap dan kebijakan.


"Dan istana nggak pikir itu. Istana pikir bahwa Islam itu teologi aja tuh, bukan sosiologinya, tuh. Nah bagian ini yang saya anggap, waktu ngomong 4.0 segala macam, kita kehilangan orientasi kebudayaan melalui perspektif sejarah, tuh," jelasnya.


Hal itu mengakibatkan muncul saling curiga dan pada akhirnya terbentuklah stigma-stigma radikal.


"Karena itu kita sekarang saling mengintai dan saling merasa resah kalau ada perkembangan pikiran dari muslim lalu mereka yang lain menggap wah ini pikiran teologis muslim ini berbahaya. Padahal semua pikiran teologis muslim, di dalamnya ada aspek sosiologinya, tuh. Yah tentang keadilan yang bisa ditransformasikan menjadi sistem ekonomi, menjadi sistem perbankan," ungkap Rocky.


"Jadi biarkan pikiran-pikiran itu tumbuh, jangan dianggap bahwa itu adalah pikiran radikal berbahaya, itu bertentangan dengan nasionalisme. Loh dari awal Islam radikal dalam upaya mengusir kolonialisme. Itu sama dengan nasionalisme. Apa bedanya? Kalau kita pernah belajar sejarah," sambungnya. [Democrazy/trk]