Ungkap Satu Fakta Ini, Pakar Bicara KRI Nanggala Kemungkinan "Disabotase" Negara Lain | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Sabtu, 24 April 2021

Ungkap Satu Fakta Ini, Pakar Bicara KRI Nanggala Kemungkinan "Disabotase" Negara Lain

Ungkap Satu Fakta Ini, Pakar Bicara KRI Nanggala Kemungkinan "Disabotase" Negara Lain

Pakar-Bicara-Kemungkinan-KRI-Nanggala-Disabotase-Negara-Lain

DEMOCRAZY.ID - Pakar kapal selam dan kelautan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Wisnu Wardhana menyebutkan adanya kemungkinan KRI Nanggala 402 disabotase negara lain.

Menurut Wisnu, kemungkinan tersebut lantaran KRI Nanggala 402 didesain pada tahun 80-an dan menurutnya masih menggunakan teknologi jadul.


Hal itulah, menurut Wisnu, yang kemungkinan menyebabkan terjadinya kegagalan sistem komunikasi pada kapal selam yang hingga saat ini belum ditemukan tersebut.


"Saya curiga, maaf ya, saya ngomong apa adanya, KRI Nanggala itu didesain pada 80-an, jadi segala peralatan itu kira-kira masih menggunakan banyak hal-hal 80-an, teknologi jadul. Artinya belum diupgrade dengan kondisi 2021 ini. Makanya bisa saja terjadi kegagalan dan juga kemungkinan hubungan lainnya," ujar Wisnu Wardana.


Hal tersebut diungkapkan Wisnu dalam tayangan Breaking News Kompas TV malam, seperti dilihat pada Sabtu 24 April 2021.


Wisnu pun menjelaskan terkait komunikasi kapal selam. Menurutnya, komunikasi kapal selam itu dapat dilakukan dengan dua cara.


Pertama, kata Wisnu, jika kapal selam tengah berada di atas permukaan laut, maka komunikasi dilakukan dengan menggunakan radar. 


Kedua, jika kapal selam sedang di bawah laut, maka komunikasi akan menggunakan sonar.


"Jadi kalau ada lost contact tergantung apakah KRI Nanggala 402 ada di permukaan atau di bawah permukaan laut. Kalau di atas, bisa jadi karena malfunction dari radar. Kalau di bawah laut, putus kontak bisa jadi karena malfunction sonar," jelasnya.


Oleh karena itu, menurut analisa Wisnu, di dalam KRI Nanggala 402 terjadi black out sehingga para awak tak bisa kirim sinyal. Karena parameter sedemikian rupa, sehingga kombinasinya muncul black out pada kapal.


"Ada kemungkinan, mungkin loh ya, ada sabotase dari negara tertentu tak memungkiri, yakni kapal dengan teknologi 80-an bisa dimanipulasi untuk ditanggulangi dengan teknologi 2021," tuturnya berspekulasi.


Sabotase itu menurutnya bisa saja terjadi karena ketidakbagusan teknologi yang digunakan KRI Nanggala 402. 


Teknologi 1980-an, menurut dia, sangat mungkin diterobos oleh pihak lain dengan kata lain sabotase. Dan itu tidak bisa ditanggulangi.


"Ya banyak kemungkinan, maklum saja kalau tak ada data pasti. Sebab kita masih terus berspekulasi seraya mendekatkan kita pada kenyataan," ungkapnya.


Mengutip Hops.id, Wisnu juga mengungkapkan bahwa sebenarnya pada kondisi normal kapal selam kerap mengalami gangguan komunikasi karena sejumlah faktor.


Tetapi menurutnya, hal itu biasanya terjadi hanya dengan waktu kurang dari 3 jam. 


Akan tetapi, jika sudah berhari-hari, dipastikan ada sesuatu yang terjadi pada kapal selam itu.


"Sama halnya dengan Rusia yang pada dua atau tiga tahun lalu juga mengalami insiden kecelakaan kapal selam. Usai komunikasi terputus, langsung hilang," kata Wisnu.


Ia pun menilai, peralatan elektronik yang berpendekatan pada media udara dan air pasti ada banyak variabel penyerta yang membuat komunikasi kapal bisa saja terputus. 


Misal saja konektivitas lalu temperatur air dan sebagainya.


"Variabel air, juga mempengaruhi performa sonar dari kapal selam KRI Nanggala 402," tandasnya.


Maka dari itu, Wisnu menegaskan proses pengecekan dan maintenance atau upgrade kapal sangat perlu dilakukan sebelum kapal berlayar. Apalagi kapal selam yang proses kontrolnya haruslah sangat ketat.


"Ini penting, agar kasus hilang kontak dengan cara tak wajar ini harus sejauh mungkin dapat dihindarkan," ujarnya. [Democrazy/trk]