Beda dengan Ngabalin Soal Reshuffle, Fadjroel: Kalau Saya Selalu Dapat Arahan Langsung Presiden | DEMOCRAZY News | Media Politik Penyeimbang -->

Breaking

logo

Sabtu, 24 April 2021

Beda dengan Ngabalin Soal Reshuffle, Fadjroel: Kalau Saya Selalu Dapat Arahan Langsung Presiden

Beda dengan Ngabalin Soal Reshuffle, Fadjroel: Kalau Saya Selalu Dapat Arahan Langsung Presiden

Beda-dengan-Ngabalin-Soal-Reshuffle-Fadjroel-Kalau-Saya-Selalu-Dapat-Arahan-Langsung-Presiden

DEMOCRAZY.ID - Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ali Mochtar Ngabalin dan Juru Bicara Kepresiden, Fadjroel Rachman memiliki pernyataan berbeda soal isu perombakan (reshuffle) kabinet.

Seperti diketahui, sebelumnya Ngabalin sempat menggulirkan isu bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan melakukan reshuffle kabinet Indonesia Maju dalam waktu dekat.


Bahkan, Ngabalin membeberkan bahwa perombakan kabinet itu akan diumumkan Presiden pada pekan ini.


Namun, Fadjroel Rachman menegaskan bahwa belum ada pernyataan resmi dari Presiden Jokowi soal reshuffle kabinet Indonesia Maju tersebut.


Hal itu ia sampaikan dalam diskusi virtual Polemik MNCTrijaya yang bertemakan 'Jangan Pegel Nunggu Reshuffle' yang diselenggarakan pada Sabtu, 24 April 2021.


Saat disinggung soal pernyataan Ngabalin, Fadjroel enggan berkomentar. 


Namun, ia menegaskan bahwa ia adalah staf khusus Presiden Jokowi yang selalu menerima arahan langsung jika ada kebijakan publik.


Fadjroel pun mengaku tidak tahu dari mana Ngabalin mendapat kabar soal reshuffle itu.


"Saya ini kan staf khusus langsung Presiden Joko Widodo dan selalu dipanggil untuk menyampaikan arahan atau kebijakan beliau kepada publik. Nah saya tidak tahu yang sebelah itu, saya tidak berani memberikan komentar," kata Fadjroel.


Fadjroel menjelaskan bahwa ia terakhir kali bertemu Presiden Jokowi pada 20 April 2021. 


Hingga pada tanggal itu, Fadjroel menekankan bahwa Presiden tidak menyinggung terkait reshuffle kabinet.


Justru, Fadjroel diarahkan untuk menyiapkan strategi komunikasi terkait pemindahan Ibu Kota.


"Yang paling pasti adalah tanggal 20 April 2021, saya dipanggil presiden, kami hanya berbicara tentang pemindahan Ibu Kota negara ke Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, dan saya diminta untuk menyiapkan strategi komunikasinya," ungkapnya. [Democrazy/trk]