Cerita Warga Gang Buntu II Dituduh Menduduki Markas Ormas | DEMOCRAZY News | Portal Berita Indonesia - berita terbaru, berita terkini, berita indonesia, politik -->

Breaking

logo

Jumat, 19 Maret 2021

Cerita Warga Gang Buntu II Dituduh Menduduki Markas Ormas

Cerita Warga Gang Buntu II Dituduh Menduduki Markas Ormas

Cerita-Warga-Gang-Buntu-II-Dituduh-Menduduki-Markas-Ormas

DEMOCRAZY.ID - Warga Gang Buntu II, Pancoran, Jakarta Selatan mengungkapkan keluhan ihwal tudingan pelbagai pihak yang memicu kedatangan anggota organisasi masyarakat (ormas) di wilayah itu dan berujung intimidasi.

Hingga kemudian pada Rabu (17/3) malam, bentrok pecah di kawasan sengketa tersebut. 


Puluhan warga terluka akibat ricuh buntut seteru kepemilikan lahan antara anak usaha Pertamina dengan warga.


Sugeng, salah satu penghuni Buntu II mengungkapkan, warga dituduh menduduki markas ormas Pemuda Pancasila di kawasan itu. 


Tudingan yang menyebar itu, menurut dia lantas membuat banyak anggota ormas berdatangan ke kawasan Buntu II.


"Warga difitnah menduduki markas PP, itu yang memicu ormas datang dari mana-mana," cerita Sugeng saat ditemui di kawasan Gang Buntu II, Kamis (18/3).


Padahal, menurut Sugeng, warga tidak pernah menduduki ormas Pemuda Pancasila. 


Selain itu, tempat yang dipermasalahkan sebetulnya bukan merupakan markas organisasi, melainkan hanya pos yang didirikan anggota ormas di pintu masuk Gang buntu II.


Pos itu pun, lanjut Sugeng, berupa tenda berwarna merah.


"Nggak ada sebutan markas PP, itu salah. Itu pos, pos yang dibikin dari tenda merah. Enggak ada tulisannya," ungkap dia lagi.


Sugeng lantas menjelaskan, anggota ormas Pemuda Pancasila menggunakan pos tersebut ketika melakukan sweeping ke siapapun yang hendak masuk ke Gang Buntu II, termasuk warga.


Ia curiga, tindakan itu dilakukan lantaran pihak Pertamina khawatir ada pihak yang akan membangkitkan aksi perlawanan dari warga.


"Mereka takut kecolongan ada pihak-pihak lain yang akan membangkitkan gairah warga ini yang keyakinannya sudah ini menurun," ujar Sugeng.


Sugeng sebenarnya mempertanyakan tindakan ormas melakukan sweeping. 


Pasalnya, pokok perkara yang sedang terjadi adalah menyangkut sengketa lahan. 


"Harusnya dari aparat, bukan dari ormas," protes Sugeng.


Dia pun menuturkan, sebenarnya warga bukan menduduki pos, melainkan merobohkan tenda dan portal. 


Pasalnya menurut warga lain di Buntu II, Warso, keberadaan pos dan portal tersebut meresahkan warga.


Portal itu, kata dia, kerap menghalangi akses jalan warga. Padahal warga harus mencari nafkah untuk kehidupan sehari-hari. 


"Kita gerak buka portal biar akses warga nggak mati. Kita buka portal itu biar nggak ditutup sama dia," kata Warso lagi.


Berdasarkan pantauan, pos yang diceritakan itu kini telah roboh dan dibiarkan terserak begitu saja.


Warso meyakinkan, jika anggota Ormas tidak ikut campur dalam sengketa lahan di Gang Buntu, ia yakin tidak akan ada perlawanan fisik dari warga. 


Yang ada kata dia, adalah negosiasi dan menunggu putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.


"Kita kalau nggak ada ormas juga nggak mungkin kekerasan juga. Kita kan membela [diri] nempatin di sini," tegas Warso.


Sementara itu, Wakil Ketua Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila Jakarta Selatan, Farid Novi mengklaim keberadaan pos Pemuda Pancasila di pintu Gang Buntu II sudah lama. Menurut dia, portal itu dibuat Pertamina.


"Itu Pertamina itu, sudah puluhan tahun Pertamina itu portal itu," kata Farid saat dikonfirmasi, Kamis (18/3) sore.


Farid juga membantah pihaknya menghalangi akses warga. Sementara mengenai sweeping, ia berdalih perlu melakukan itu lantaran lahan di Gang Buntu II merupakan tanah milik Pertamina dan merupakan aset negara.


"Artinya, keluar masuk orang itu harus terdata. Itu aja," ujar Farid. [Democrazy/cnn]