-->

Breaking

logo

Minggu, 03 Januari 2021

Rocky Gerung Sebut Pelarangan FPI Memperburuk Citra Pemerintah Jokowi

Rocky Gerung Sebut Pelarangan FPI Memperburuk Citra Pemerintah Jokowi

Rocky Gerung Sebut Pelarangan FPI Memperburuk Citra Pemerintah Jokowi
DEMOCRAZY.ID - Pengamat Politik Rocky Gerung menyebut pelarangan dan pembubaran Front Pembela Islam (FPI) telah memperburuk citra pemerintahan Jokowi.

Dibubarkannya ormas FPI oleh pemerintah dinilai sebagai sebuah ekspresi kepanikan yang ditunjukkan oleh pemerintahan Jokowi – Ma’ruf Amin saat ini.


Terutama, oleh sosok pimpinan FPI Habib Rizieq Shihab yang terbukti memiliki basis massa massif dan militan.


Demikian disampaikan Rocky Gerung saat berbincang dengan Wartawan Senior Hersubeno Arief dalam kanal YouTube Rocky Gerung Official, dikutip Sabtu (2/1).


“Saya melihat memang pemerintah panik dengan fenomena Habib Rizieq itu. Kepanikan itu tentu diterangkan melalui aktivitas Habib Rizieq,” ujar Rocky Gerung.


Menurut Rocky, sepulangnya Habib Rizieq dari Saudi Arabia sebetulnya gerakan FPI secara praktis cenderung lentur dan tanpa kekerasan sedikitpun ditunjukkan oleh FPI.


“Habib Rizieq yang non kekerasan sejak dia datang, justru berubah cara Habib Rizieq menjalankan organisasi itu kan berdamai, tokoh-tokohnya juga enggak ada yang memperlihatkan keberingasan,” katanya.


“Bahkan 212 yang dibikin FPI membikin webinar mengundang para pakar, aktivis, dan lain lain. Jadi suasana yang dialogis itu yang terbentuk,” tuturnya.


Menurut Rocky, justru sebetulnya pemerintah yang berkuasa saat ini ingin memancing agar ada kekerasan yang dilakukan FPI, namun nyatanya berbanding terbalik.


“Nah ini selama 2 bulan ini enggak ada kekerasan FPI. Kan orang bingung. Justru yang menjadi korban kekerasan justru FPI-nya,” kata alumni UI tersebut.


“Jadi pemerintah bingung, hegemoni FPI makin lama makin meluas. Yang biasanya orang bilang FPI tuh cuma di pojok Petamburan,” katanya.


“Sekarang emak-emak Menteng, Bukit Tinggi, itu berkunjungnya ke Petamburan. Jadi, pemerintah terpaksa seolah-olah mengendalikan keadaan,” katanya.


“Jadi pelarangan itu justru memperburuk citra pemerintah,” imbuh Rocky Gerung.


Lain halnya misalnya apabila Habib Rizieq saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta beberapa waktu lalu ada kegiatan yang betul-betul meresahkan masyarakat, hingga membuat onar.


Seperti melakukan operasi minuman keras dan segala macamnya.


“Itu boleh ada alasan untuk mengevaluasi status dari FPI,” katanya.


“Tapi justru FPI setelah Habib Rizieq pulang itu FPI new born, karena Habib Rizieq juga mengerti bahwa dia harus melakukan perubahan di dalam melakukan kemampuan managerial FPI. Kan itu soalnya tuh,” kata Rocky Gerung. [Democrazy/pjst]