-->

Breaking

logo

Rabu, 03 Februari 2021

Ide Gila Jenderal Moeldoko Gagal, Mau Jadikan SBY Setara Soeharto

Ide Gila Jenderal Moeldoko Gagal, Mau Jadikan SBY Setara Soeharto

Ide-Gila-Jenderal-Moeldoko-Gagal-Mau-Jadikan-SBY-Setara-Soeharto

DEMOCRAZY.ID - Nama tokoh militer Indonesia, Jenderal TNI (Purnawirawan) Moeldoko dalam tiga hari ini mendadak jadi sorotan, penyebabnya terkait pernyataan putra sulung Jenderal TNI (HOR) Susilo Bambang Yudhoyono, yaitu Agus Harimurti, soal adanya upaya penggulingan dirinya dari kursi warisan Ketua Umum Partai Demokrat.

Memang mantan prajurit TNI penyandang pangkat terakhir Mayor itu tak menyebut langsung nama Jenderal Moeldoko dalam tuduhannnya. Tapi, Jenderal TNI Moeldoko menangkisnya.


Di edisi kali ini, VIVA Militer, Rabu 3 Januari 2021, tak akan bahas masalah itu. 


Namun akan mengungkap kembali beberapa peristiwa penting tentang SBY dan salah satu dari lima Jenderal Tentara Nasional Indonesia, yang pernah dilantiknya menjadi Panglima TNI. Yaitu, ya Jenderal TNI Moeldoko.


Jenderal TNI Moeldoko adalah Panglima TNI yang paling terakhir membantu SBY saat menjalankan roda pemerintah sebagai Presiden RI di periode keduanya.


Sebab, saat baru setahun memangku jabatan Panglima TNI, SBY harus menyerahkan jabatannya kepada Joko Widodo.


Nah, selama setahun menjadi Panglima TNI rezim SBY, banyak sekali kisah yang terbingkai menjadi sebuah sejarah bangsa.


Namun, dari semua itu kisah yang paling gila ialah, saat Jenderal TNI Moeldoko tiba-tiba saja mengeluarkan ide untuk menjadikan SBY sebagai tokoh TNI yang setara dengan Jenderal Besar TNI Sudirman serta Jenderal Besar TNI Soeharto dan Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution.


Ya, ide gila Jenderal TNI asal Kediri, Jawa Timur itu ialah ingin menjadikan SBY sebagai orang keempat di Indonesia yang menyandang lima bintang di pundaknya, alias menjadi Jenderal Besar.


Ide yang sangat mustahil itu dicetuskan jebolan Akademi Militer (Akmil) 1981 dalam acara penutupan Rapim TNI Polri di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian, pada 9 Januari 2014.


Ketika itu Jenderal TNI Moeldoko mengungkapkan alasan bahwa selama menjadi Presiden RI, SBY telah banyak berjasa dalam membangun TNI, menjadikan TNI sebagai militer yang kuat, dengan modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista).


"Kami dari TNI tidak salah kiranya kalau Jenderal Purnawirawan Susilo Bambang Yudhoyono mendapatkan anugerah sebagai Jenderal Besar Susilo Bambang Yudhoyono," kata Jenderal TNI Moeldoko saat itu.


Pernyataan itu dilontarkan Jenderal TNI Moeldoko tak cuma di hadapan para jenderal TNI dan Polri saja. Tapi di hadapan SBY langsung yang hadir di tempat tersebut.


Memang, tak ada sepatah katapun keluar dari mulut SBY tentang usulan itu. Baik pernyataan menerima ide itu atau menolaknya.


Beberapa waktu setelah usulan itu muncul, Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan) Sudi Silalahi sebagai Menteri Sekretaris Negara Indonesia berusaha memberikan jawaban yang disebutnya dari SBY. 


Tapi, lagi-lagi bukan jawaban pasti apakah menolak atau menerima usulan Jenderal TNI Moeldoko.


"Presiden mengatakan bahwa itu, memang seharusnya sudah dilakukan seorang presiden. Dan itu adalah tugas dan kewajiban dari beliau. Jadi apa-apa yang dilakukan beliau itu dilakukan secara ikhlas, tanpa mengharapkan apapun, gelar ataupun penghargaan," kata Letjen TNI Sudi.


Dan ternyata ucapan Jenderal TNI Moeldoko itu berbuah kontroversi. Tokoh-tokoh militer TNI bersuara. 


Malah yang paling lantang menolak ide gila itu justru dari tokoh TNI yang pernah menjadi orang kepercayaan SBY di periode pertama terpilih sebagai Presiden RI, yaitu dari Mayjen TNI (Purnawirawan) TB Hasanuddin.


Mayjen TNI (Purnawirawan) TB Hasanuddin yang pernah menjabat Sekretaris Militer Presiden SBY menyatakan, usulan Jenderal TNI Moeldoko itu tak sesuai aturan dan sebagai sesuatu yang aneh.


"Menurut hemat saya, pakai aturan yang baku saja. Jangan aneh-aneh. Kalau mau ada Jenderal Besar, nanti pangkat sersan menuntut juga sersan besar," kata Mayjen TNI (Purnawirawan) TB Hasanuddin di Lenteng Agung, Jakarta Selatan sehari setelah Rapim TNI Polri di PTIK.


Sangat wajar kiranya usulan itu menjadi kontroversi, sebab perlu diketahui. Selama 27 tahun aktif di TNI, SBY hanya menyandang bintang 3 alias berpangkat Letnan Jenderal TNI. 


Beliau mendapatkan bintang 4 dengan status sebagai jenderal kehormatan atau disingkat Jenderal TNI HOR.


Gelar Jenderal TNI HOR diraih SBY ketika menjabat Menteri Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Indonesia di era Presiden Megawati Soekarno Putri.


Sedangkan jika dibandingkan dengan Pak Dirman, Pak Nas dan Pak Harto, tentu sangat jauh berbeda.


Ketiga Jenderal Besar ini sebelum dianugerahi bintang lima di HUT TNI 52 pada 5 Oktober 1997, mereka telah menyandang 4 bintang alias jenderal penuh di TNI.


Jenderal TNI Feisal Tanjung merupakan orang yang menyerahkan tanda kehormatan bintang lima pada Pak Harto. 


Saat itu kepada wartawan beliau mengatakan bahwa anugerah bintang lima itu tak terkait dengan aktivitas Pak Harto sebagai Presiden.


Tapi karena Pak Harto adalah pemimpin operasi militer besar mulai dari  Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta 1949, Operasi Trikora di Irian Barat 1962, lalu penumpasan G30S/PKI 1965.


Seiring berjalannya waktu dan sampai detik ini, ide Jenderal TNI Moeldoko itu tak pernah terlaksana. Dan SBY belum bernasib sama seperti Pak Dirman, Pak Nas dan Pak Harto. Indonesia masih tetap cuma memiliki 3 orang berpangkat bintang lima. [Democrazy/vv]