POLITIK

Nestapa PSI: Ketumnya Anak Presiden, Baliho Menjamur, Tapi Tak Lolos DPR

DEMOCRAZY.ID
Maret 21, 2024
0 Komentar
Beranda
POLITIK
Nestapa PSI: Ketumnya Anak Presiden, Baliho Menjamur, Tapi Tak Lolos DPR

Nestapa PSI: Ketumnya Anak Presiden, Baliho Menjamur, Tapi Tak Lolos DPR


DEMOCRAZY.ID - Nestapa menerpa PSI. Dengan amunisi ikut kontestasi yang mumpuni seperti ketua umumnya Anak Presiden Jokowi hingga baliho kampanye yang menjamur, tak berhasil membuat partai tersebut lolos ke parlemen di Senayan.


Berdasarkan hasil rekapitulasi Pileg KPU RI, PSI gagal lolos parlemen. Partai pimpinan putra bungsu Jokowi itu hanya dapat meraup suara sebesar 2,8%.


Padahal, PSI telah melakukan banyak perubahan untuk menarik para pemilih. Mulai dari pergantian ketua umumnya hingga pemasangan baliho yang masif di berbagai tempat.


Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, hanya melempar senyum saat ditanyai mengenai suara partainya yang tidak lolos parlemen dalam hasil rekapitulasi suara nasional oleh KPU.


"Besok di DPP ya. Besok kumpul di DPP aja ya," kata Kaesang singkat di Jl. Kertanegara IV, Jakarta Selatan, Rabu (20/3) malam.


Sejarah Berdiri hingga Dipimpin Putra Bungsu Jokowi


PSI tergolong partai baru di perpolitikan Indonesia. Latar belakang dibentuknya PSI bermula dari obrolan di sebuah kafe yang terletak di Bilangan, Jakarta Selatan, pada akhir 2014. 


Pertemuan tersebut dihadiri Raja Juli Antoni, mantan presenter televisi, Grace Natalie, dan Isyana Bagoes Oka, serta dua anak muda lainnya yang turut hadir.


PSI kemudian didirikan pada 16 November 2014 sesuai akta notaris Widyatmoko Nomor 14 Tahun 2014. 


Pada tanggal yang sama, Dewan Pimpinan Pusat PSI (DPP PSI) mengajukan secara resmi surat pendaftaran sebagai partai politik. 


Selanjutnya, Kementerian Hukum dan HAM secara resmi meminta DPP PSI untuk melengkapi syarat-syarat pembentukan partai politik sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik.


PSI sebagai partai baru pada Pemilu 2019 mengusung partai anak muda di setiap kampanyenya. Saat itu PSI sangat gencar memperkenalkan anak-anak muda menjadi caleg mereka. Nama-nama seperti Tsamara Amany, Rian Ernest, dan Giring Ganesha mewarnai kampanye partai ini.


Selama 10 tahun berkiprah di panggung politik, tiga kali sudah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) berganti ketua umum. Mulai dari Grace Natalie yang menjadi ketua umum PSI pertama hingga 16 November 2021.


Kemudian dilanjutkan oleh eks vokalis Nidji, Giring Ganesha, hingga akhirnya dipimpin oleh Putra Bungsu Jokowi. 


Pemilihan Kaesang juga menarik, sebab baru dua hari gabung dengan partai, sudah langsung duduk sebagai ketum partai. 


Baliho Menjamur, Tapi Tak Lolos Parlemen


PSI menjadi partai yang cukup disorot dalam kontestasi Pemilu kali ini. Pasalnya, banyaknya baliho yang bertebaran di berbagai daerah menimbulkan banyak pertanyaan dari mana dana kampanye yang didapatkan oleh PSI.


Menjamurnya baliho PSI di berbagai tempat disebut-sebut juga sebagai cara kampanye partainya yang berbeda dibandingkan dengan Pemilu sebelumnya.


Pada pemilu 2019, PSI pertama kali mengikuti kontestasi. Partai itu hanya dapat meraup 2.650.361 suara sah atau 1,89%.


Kemudian pada Pemilu kali ini PSI mengubah strategi kampanyenya dengan banyak membombardir baliho partai yang dipimpin Kaesang, kemudian dengan menempelkan wajah presiden Jokowi. 


Dengan harapan PSI dapat lolos ambang batas parlemen 4%. Namun demikian, hasil rekapitulasi suara PSI hanya dapat meraup suara sebesar 2,8%. 


Raihan suara tersebut meningkat, tetapi masih belum bisa meloloskan partai tersebut ke parlemen. 


Sumber: Kumparan

Penulis blog