GLOBAL ISLAMI

Kisah Negeri Muslim Pernah Menang Perang Lawan Rusia, Begini Nasibnya

DEMOCRAZY.ID
Maret 27, 2024
0 Komentar
Beranda
GLOBAL
ISLAMI
Kisah Negeri Muslim Pernah Menang Perang Lawan Rusia, Begini Nasibnya

Kisah Negeri Muslim Pernah Menang Perang Lawan Rusia, Begini Nasibnya


DEMOCRAZY.ID - Rusia merupakan negara yang dikenal baik dalam hal pertahanan dan persenjataan. 


Namun nyatanya, Negeri Beruang Merah itu pernah kalah bertempur dengan sebuah negara muslim.


Negara itu bernama Chechnya. Dalam peperangan pertama antara Rusia dan Chechnya, Moskow harus menderita kekalahan dan mundur dari wilayah Kaukasus itu.


Kejadian ini terjadi pada Perang Chechnya Pertama. Perang ini pecah setelah militan partai Kongres Seluruh Nasional Rakyat Chechnya (NCChP), yang dibentuk oleh mantan jenderal Soviet, Dzhokhar Dudayev, menyerbu sidang Soviet Tertinggi ASSR Chechnya-Ingush dengan tujuan untuk menegaskan kemerdekaan pada tahun 1991.


"Mereka membunuh ketua Partai Komunis Uni Soviet di Grozny melalui defenestrasi, menganiaya beberapa anggota partai lainnya, dan secara efektif membubarkan pemerintahan Republik Otonomi Chechnya-Ingush di Uni Soviet," tulis New World Encyclopedia, dikutip Rabu (27/3/2024).


Pada bulan berikutnya, Dudayev memenangkan banyak sekali dukungan rakyat untuk menggulingkan pemerintahan sementara yang didukung Kremlin. Ia diangkat menjadi presiden dan mendeklarasikan kemerdekaan.


Pada November 1991, Presiden Rusia Boris Yeltsin mengirimkan pasukan ke Grozny, namun mereka terpaksa mundur ketika pasukan Dudayev mencegah mereka meninggalkan bandara.


Dari tahun 1991 hingga 1994, puluhan ribu orang dari etnis non-Chechnya, kebanyakan orang Rusia, meninggalkan republik ini di tengah laporan kekerasan terhadap penduduk non-Chechnya. 


Industri Chechnya mulai gagal karena banyaknya insinyur dan pekerja Rusia yang meninggalkan atau diusir dari republik tersebut.


Selama era ini, faksi-faksi yang bersimpati dan menentang Dudayev berjuang untuk mendapatkan kekuasaan, terkadang dalam pertempuran sengit dengan menggunakan senjata berat.


Pada bulan Maret 1992, pihak oposisi mencoba melakukan kudeta, namun upaya mereka berhasil digagalkan. 


Sebulan kemudian, Dudayev merancang pemerintahan presiden langsung, dan pada bulan Juni 1993, membubarkan parlemen untuk menghindari referendum mengenai mosi tidak percaya.


Pada bulan Agustus 1994, koalisi faksi oposisi, yang berbasis di Utara Chechnya, melancarkan kampanye bersenjata untuk menggulingkan pemerintahan Dudayev. 


Moskow pun memanfaatkan momen ini dengan secara diam-diam memasok dukungan keuangan, peralatan militer, dan tentara bayaran kepada pasukan pemberontak.


Pada 30 Oktober 1994, pesawat Rusia yang tidak bertanda mulai mengebom ibu kota Grozny. Pasukan oposisi, yang bergabung dengan pasukan Rusia, melancarkan serangan rahasia.


Namun serangan-serangan ini berhasil ditangkis pasukan Chechnya. Setelah kampanye perang tahun 1994-1995, yang berpuncak pada Pertempuran Grozny, pasukan federal Rusia berhasil dipukul mundur oleh perang gerilya Chechnya meski saat itu Moskow unggul jauh dalam persenjataan.


Demoralisasi yang meluas karena pasukan federal, dan penolakan yang hampir universal dari masyarakat Rusia terhadap konflik brutal tersebut, membuat pemerintahan Rusia yang dipimpin Presiden Boris Yeltsin mengumumkan gencatan senjata pada tahun 1996. Ia kemudian menandatangani perjanjian damai setahun kemudian.


Berbagai angka memperkirakan jumlah kematian warga sipil antara lima puluh hingga seratus ribu dalam perang ini, dan lebih dari dua ratus ribu orang terluka. 


Sementara itu, lebih dari lima ratus ribu orang mengungsi akibat konflik yang dikenal sangat merusak infrastruktur desa dan kota ini.


Putin Turun Tangan


Pada tahun 1999, pemerintahan Yeltsin memerintahkan invasi kedua ke Chechnya. Ini terjadi setelah pihak berwenang Rusia menyatakan bahwa pemboman di Moskow dan kota-kota lain ada kaitannya dengan militan Chechnya.


Saat itu, operasi untuk menguasai Chechnya diambil alih oleh Perdana Menteri Vladimir Putin, yang saat ini menjadi Presiden. Putin pun mulai mengambil langkah tegas kepada pihak Chechnya.


"Kami akan mengusir mereka, bahkan di toilet," tegas Putin dalam pernyataan yang dilontarkan untuk pasukan Chechnya dikutip History.com.


Pada tahun 2000, Putin yang berhasil menduduki posisi presiden meningkatkan keterlibatan militer Rusia di Chechnya setelah pengeboman di kota-kota Rusia terus berlanjut.


Pada putaran kedua pertempuran pasca-Soviet di Chechnya, tentara Rusia dituduh melakukan banyak kekejaman dalam upayanya menekan militansi Chechnya. Diketahui, Moskow banyak menggunakan rudal-rudal udara dalam operasinya kali ini.


Pasukan Rusia pun mengibarkan bendera Rusia di pusat kota Grozny pada bulan Februari 2000, menandai kemenangan besar Moskow mengambil alih lagi wilayah itu. Perang kemudian berlanjut untuk membasmi pemberontak Chechnya di pegunungan


Pada bulan Maret 2000 Moskow menunjuk Akhmad Kadyrov sebagai penjabat kepala pemerintahan Chechnya. 


Pejuang separatis yang berubah menjadi politisi pro-Kremlin ini dibunuh pada tahun 2004 dan digantikan putranya, Ramzan Kadyrov.


Operasi militer Rusia terus berlanjut hingga 2009. Pada bulan April 2009, Moskow menyatakan "operasi kontraterorisme" di Chechnya telah berakhir. 


Konflik tersebut diperkirakan telah menewaskan sekitar 50.000 hingga 80.000 orang, sebagian besar adalah warga sipil.


Sumber: CNBC

Penulis blog