Senegal: Dulu Contoh Demokrasi, Kini Hancur Karena Presiden Haus Kekuasaan - DEMOCRAZY News | Berita dan Politik Indonesia

Breaking

logo

Senegal: Dulu Contoh Demokrasi, Kini Hancur Karena Presiden Haus Kekuasaan

Senegal: Dulu Contoh Demokrasi, Kini Hancur Karena Presiden Haus Kekuasaan

Senegal: Dulu Contoh Demokrasi, Kini Hancur Karena Presiden Haus Kekuasaan


DEMOCRAZY.ID - Tadinya Senegal dikenal sebagai contoh demokrasi dan stabilitas di Afrika. Kini, negeri itu di ambang krisis dan kerusuhan besar.


Pemicunya adalah penundaan pemilu yang membuat kekuasaan Presiden petahana Macky Sall makin lama. 


Presiden Sall bahkan dituduh haus kekuasaan lantaran berbagai upaya sempat dilakukan untuk menambah lama kekuasaannya. Konstitusi Senegal hanya mengizinkan presiden berkuasa dua periode. 


Pada Senin (5/2) anggota parlemen Senegal sepakat menunda pemilu sampai Desember.


UU penundaan pemilu bahkan disepakati hampir secara bulat oleh seluruh anggota parlemen berjumlah 106 orang. Itu terwujud karena oposisi parlemen telah dikeluarkan dari keanggotaan secara paksa sebelum pemungutan suara berlangsung.


Menurut salah seorang anggota parlemen koalisi pemerintah Moussa Diakhate, Sall hanya akan menjabat Desember sampai penggantinya terpilih pada Desember mendatang.


"Presiden Macky Sall menyatakan hanya akan menjabat dua periode (sesuai aturan Senegal). Dia memegang janji," klaim Diakhate.


Salah seorang anggota parlemen yang menolak perpanjangan kekuasaan Sall, Ayib Daffe,  menegaskan apa yang terjadi di Senegal adalah bukti semakin terkikisnya demokrasi.


"Situasi benar-benar seperti bencana, citra Senegal hancur dan saya pikir kita tak akan bisa pulih dan kebangkrutan demokrasi, tsunami supremasi hukum dalam waktu dekat," papar Daffe.


Pengumuman penundaan pemilu yang berarti masa jabatan Sall diperpanjang memicu kerusuhan di depan gedung parlemen di Dakar, ibu kota negara. Polisi sampai menembakkan gas air mata demi membubarkan massa.


Massa membalas aksi polisi dengan terus menerus meneriakkan 'Macky Sall Diktator'.


Ini adalah kali kedua kerusuhan pecah di Senegal dalam sepekan terakhir. Pada pekan lalu, saat Sall mengumumkan rencana penundaan pemilu 25 Februari nanti, rusuh juga pecah di beberapa titik.


Kerusuhan berujung pula pada penangkapan kandidat oposisi pada pemilu, termasuk eks Perdana Menteri Aminata Toure.


Kelompok prodemokrasi beserta beberapa perwakilan masyarakat mengatakan, Sall telah melakukan kudeta konstitusi dan penyerangan terhadap demokrasi.


Contoh Demokrasi


Senegal adalah suatu anomali di Afrika Barat. Wilayah ini dikenal sebagai daerah rawan kudeta.


Bahkan sejak November 2023 sampai awal Januari 2024 sudah terjadi empat kali upaya kudeta di Afrika Barat. Negara-negara tersebut adalah Sierra Leone, Guinea-Bissau, dan Burkina Faso.


Namun, sejak Senegal merdeka dari Prancis pada 1960, kudeta sama sekali tidak pernah terjadi.


Kondisi Senegal saat ini mengundang keprihatinan dunia. Ketua Komisi Uni Afrika, Moussa Faki Mahamat, meminta pihak bertikai di Senegal menyelesaikan masalah politik dengan konsultasi, saling pengertian, dan dialog.


Human Rights Watch (HRW) memperingatkan bila kerusuhan dan krisis terus terjadi, maka Senegal akan kehilangan kredensial demokrasi.


"Senegal telah lama dianggap sebagai mercusuar demokrasi di kawasan. Hal ini sekarang dalam bahaya," tegas HRW.


Sumber: Kumparan

BERITA TERKAIT

Tidak ada komentar: