Rumah Anak Perempuan Ketum PAN Zulkifli Hasan Digeruduk Orang Pengadilan, Kasusnya Ngeri-Ngeri Sedap! - DEMOCRAZY News | Berita dan Politik Indonesia

Breaking

logo

Rumah Anak Perempuan Ketum PAN Zulkifli Hasan Digeruduk Orang Pengadilan, Kasusnya Ngeri-Ngeri Sedap!

Rumah Anak Perempuan Ketum PAN Zulkifli Hasan Digeruduk Orang Pengadilan, Kasusnya Ngeri-Ngeri Sedap!

Rumah Anak Perempuan Ketum PAN Zulkifli Hasan Digeruduk Orang Pengadilan, Kasusnya Ngeri-Ngeri Sedap!


DEMOCRAZY.ID - Anak perempuan Ketua Umum PAN yang juga Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (Zulhas), Putri Zulkifli Hasan atau Futri Zulya Savitri, terseret perkara hukum.


Putri Zulkifli Hasan digugat secara perdata lantaran membeli tanah dan bangunan atau rumah yang tadinya dijaminkan sebagai utang.


Proses hukum perkara bernomor: 295/Pdt. G/2023/PN JKT.TIM ini, hingga kini masih bergulir. Pengecekan terhadap rumah yang dibeli anak perempuan Zulhas ini pun dilakukan pengadilan.


"Pada Senin tanggal 5 Februari 2024, rumah yang menjadi obyek sengketa yang terletak di Jalan Nusa Indah Raya seluas kurang lebih 1.483 meter persegi, memasuki tahap pemeriksaan setempat atau PS," ujar Dr. Yayan Riyanto, S.H., M.H., kuasa hukum penggugat, Aziz Anugerah Yudha Prawira, Selasa (6/2/2024).


Diketahui, para pihak dalam perkara ini antara lain Aziz Anugerah Yudha Prawira selaku penggugat I, Binar Imammi penggugat II, Galuh Safarina Sari Kalmadara penggugat III.


Mereka menggugat Lie Andry Setyadarma sebagai tergugat I, Gianda Pranata tergugat II, Putri Zulkifli Hasan tergugat III, dan H Syafran selalu tergugat IV, serta Kepala Kantor ATR/Badan Pertanahan Nasional Jakarta Timur sebagai turut tergugat.


Yayan menjelaskan, pemeriksaan setempat ini dilakukan guna mengecek batas-batas rumah.


"Dan untuk mengetahui obyek sengketa yang sebenarnya. Sehingga perlu turun langsung di liat secara fisik dan nyata, tidak hanya sebatas di ruang sidang pengadilan," kata dia.


Pemeriksaan setempat di rumah yang didiami Putri Zulkifli Hasan itu dihadiri oleh majelis hakim, serta pihak terkait lainnya.


"Dihadiri oleh Ketua Majelis dan Anggota Majelis Hakim dan seorang panitera. Lalu kuasa hukum para penggugat, saya dan Veriadiano LF Bili S.H., M.H., dan kuasa hukum Putri Zulkifli Hasan, Andreas Tambunan," kata Yayan.


Sebelumnya, persoalan ini bermula ketika Aziz Anugerah Yudha Prawira membutuhkan pinjaman uang, dan oleh temannya, diperkenalkan ke Gianda Pranata, yang bisa mencairkan pinjaman dengan jaminan sertifikat rumah.


Aziz dijanjikan akan mendapat pinjaman uang Rp5,5 miliar, dengan jaminan sertifikat hak milik Binar Imammi, dengan dikurangi atau dipotong untuk bunga dan lain lain, hingga total Rp1,7 miliar.


Sebagai jaminan utang, Yudha menyerahkan sertifikat hak milik rumah di Jalan Nusa Indah Raya Blok H kavling No. 2,3,4 Kelurahan Cipinang Muara Kecamatan Jatinegara Jakarta Timur, atas nama Binar Imammi, dan diserahkan ke H Syafran (tergugat IV).


Pada 28 September 2020, terjadi pertemuan antara para penggugat, Tergugat I, Tergugat II, dan disepakati perjanjian pinjaman uang dan dibuatkan akta-akta oleh Tergugat IV di kantor notaris Tergugat IV, yang ternyata isinya adalah Akta Pengikatan Jual Beli No.08/2020, Akta Kuasa Untuk Menjual No.09/2020, Akta Perjanjian Pengosongan No.10/2020.


Pada awalnya, para penggugat sempat protes dan bertanya kenapa dibuatkan Akta Pengikatan Jual Beli, bukan perjanjian pinjam uang. Namun dijawab oleh Tergugat II bahwa prosedurnya seperti ini, dan ini hanya formalitas saja, dan karena dijawab hanya formalitas.


Kemudian para penggugat percaya dan kemudian Penggugat II dan Penggugat III menandatangani akta-akta yang dibuat tersebut.


Setelah tandatangan, Tergugat I mentransfer uang ke Penggugat III sebesar Rp5,5 miliar rupiah, dan langsung dipotong Rp1,7 miliar.


Seiring dengan berjalannya waktu, Penggugat I hendak memperpanjang pinjaman, tapi Tergugat I mengatakan, bahwa dia sudah membeli rumah obyek sengketa dan bukan pinjaman.


"Padahal komunikasi penggugat I dengan Tergugat II dan Tergugat I, Tergugat IV menyatakan bahwa transaksi yang dilakukan adalah pinjaman. Bahkan ketika Penggugat I hendak melunasi pinjaman juga dipersulit komunikasinya," ujarnya.


"Dan diketahui kemudian, Sertifikat Hak Milik atas obyek sengketa telah dibalik nama dari nama Penggugat II menjadi nama Tergugat I, tanpa adanya pemberitahuan atau peringatan kepada Penggugat I atau Penggugat II, di Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jakarta Timur (Turut Tergugat)," sambung Yayan.


Karena tidak ada titik temu, antara para penggugat dengan Tergugat I dan Tergugat II, maka pada tanggal 10 November 2021, Penggugat II membuat laporan polisi di Bareskrim Polri, dengan terlapor Tergugat I dan kawan-kawan. Laporan polisi itu bernomor: LP/B/0684/XI/2021/SPKT/ BARESKRIM-POLRI, tanggal 10 November 2021.


Bahwa, kata dia, kemudian obyek sengketa diketahui telah beralih kepemilikan dari Tergugat I menjadi milik Tergugat III, yang di ketahui juga bahwa obyek sengketa telah direnovasi, dan ketika ditanyakan ke turut tergugat diketahui apabila obyek sengketa telah menjadi milik Tergugat III.


Menurut Yayan, perbuatan para tergugat merugikan kliennya, karena apabila obyek sengketa dijual akan menghasilkan uang senilai kurang lebih Rp30 miliar.


Karena itu, selain melapor polisi, pihaknya juga mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur.


Sumber: PojokSatu

BERITA TERKAIT

Tidak ada komentar: