Media Asing Sorot China di Pilpres RI, Ada Apa? - DEMOCRAZY News | Berita dan Politik Indonesia

Breaking

logo

Media Asing Sorot China di Pilpres RI, Ada Apa?

Media Asing Sorot China di Pilpres RI, Ada Apa?

Media Asing Sorot China di Pilpres RI, Ada Apa?


DEMOCRAZY.ID - Perkembangan yang terjadi di pemilihan presiden (pilpres) RI 14 Februari mendatang terus menerus menjadi sorotan asing. 


Bahkan, media asing mulai melaporkan bagaimana posisi China dalam kontestasi orang nomor satu di Indonesia.


Media asal Hong Kong, South China Morning Post (SCMP), pada Senin (12/2/2024) menjelaskan bagaimana calon presiden (capres) nomor urut 2, Prabowo Subianto, masih berada di posisi teratas. 


Melansir Bloomberg, SCMP memuat bagaimana Prabowo digadang-gadang menjadi suksesor dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).


Prabowo disebutkan bertekad melanjutkan strategi ekonomi Jokowi yang didasarkan pada hubungan bisnis dengan China. 


Di mana ia berjanji untuk mempertahankan sikap kebijakan luar negeri yang lebih netral antara Washington dan Beijing.


"Perusahaan-perusahaan China kemungkinan besar akan mendapatkan keuntungan terbesar mengingat hubungan ekonomi positif yang telah dibangun antara Jokowi dan Beijing," kata Dedi Dinarto, analis utama Indonesia di perusahaan penasihat kebijakan Global Counsel, dalam artikel berjudul 'Chinese Companies Set to Benefit If Front-runner Prabowo Subianto Seals Victory in Indonesian Presidential Election'.


"Kesinambungan ekonomi merupakan hal penting dalam janji kampanye Prabowo, dan dalam sebuah langkah yang menuai kritik dari beberapa sekutu presiden, ia mencalonkan putra Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, sebagai calon wakil presidennya," tambahnya.


Media asal Australia, Australian Financial Review (AFR), juga menuliskan bagaimana investasi China di Indonesia yang masuk di era Jokowi dan perkiraannya bila Prabowo memenangkan pemilu. 


Media itu juga menyoroti pernyataan spontan Prabowo pada dialog Shangri-La tahun 2022 di Singapura yang memberikan wawasan tentang pendekatannya terhadap China.


"China telah menjadi peradaban yang hebat," kata Prabowo di hadapan para petinggi militer dan pertahanan dari seluruh dunia, sebagaimana dituliskan AFR dalam artikel berjudul 'How Indonesia's Election Will Shift Cosy China Relationship'.


"Mereka telah menjadi pemimpin Asia selama ribuan tahun. Saya sudah mengatakan itu berkali-kali. Pengaruh mereka menyebar ke seluruh Asia Tenggara. Jadi kami mendesak semua orang untuk menghormati kebangkitan China, kembali ke posisinya sebagai peradaban besar," tambahnya.


Namun, Prabowo juga menginginkan hubungan pertahanan yang lebih erat dengan Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat. 


Hal ini diwujudkan dari diskusi yang sedang berlangsung antara Jakarta dan Canberra seputar kemitraan pertahanan baru, sebuah inisiatif yang lahir pada masa jabatan Prabowo.


Meski Jokowi dipandang dekat dengan China, profesor di Universitas Jenderal Achmad Yani di Jawa Barat, Yohanes Sulaiman, mengatakan masih ada ruang untuk lebih banyak keberagaman bagi penerus Jokowi. Ia menyebut Beijing lebih menarik lantaran insentif yang diberikan.


"Orang bilang Jokowi sangat dekat dengan China. Namun orang-orang di lingkaran dalamnya mengatakan satu-satunya alasan dia dekat dengan Beijing adalah karena China memberinya semua insentif dengan semua investasinya," katanya dalam artikel yang sama.


"Investasi ini belum datang dari AS dan mitra perjanjiannya. Jika China memberikan uang, maka Jokowi akan melakukannya. Namun jika AS atau Australia memberinya banyak uang maka ia akan segera beralih," tambahnya lagi.


Sumber: CNBC

BERITA TERKAIT

Tidak ada komentar: